aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Pianissimo

Dengar. Denting yang mengalir kita biarkan berlalu begitu saja. Melewati telingamu tapi tak kunjung ridho kau dengarkan. Melewati matamu tapi egomu menepis imajinya. Lalu lalang ia berkeliaran di kepalamu masih saja kau sangkal.

Dengar. Bukan kebenaran yang ada di tangga lebih atas dari sini. Bukan pula soal versi kesepakatan ummat yang mana. Ideologi busuk menjijikan. Si pemakai ifrad lupa kalau dia dimandikan dengan segumpal kotoran.

Dengar. Aku tau, dari jarak sejauh ini, ada suara yang tercekat di rongga tenggorokanmu. Yang kau redam dengan amarah. Yang kau timbun dengan jerit bertalu-talu yang kau lafalkan di dalam kepalamu, memekakkan gendang telingamu.

Dengar. Jiwamu yang itu, yang kau mainkan dengan fortissimo, di ruang dengarku adalah pianissimo. Pelarian yang itu-itu juga.  Kesedihan dan kegelapan yang indah selalu bisa aku tangkap disana. Larilah sekuat tenagamu. Ujung mataku tetap bisa menyusulmu.

Dengar. Dari lantunan yang ini-ini juga. Entah pekik klakson tak masuk akal disini, ata suara angin dingin yang membawa udara lembab disana, adalah sama. Resahmu tak kunjung reda. Suaramu tetap kau telan jua. Keikhlasan? Ah, sudahkah kata itu bersemayan dalam kamus hidupmu?

Begini saja. Kubunuh engkau. Kubakar jasadmu. Kuminum abumu. Biar tulang-tulang mengeringmu menelusup dalam tubuhku. Biar menyatu lalu kurasakan resahmu. Hingga akhirnya menunggu waktumu untuk jadi kotoran. Biar aku tau, yang suci adalah yang hina, dan yang hina adalah yang suci.

Begini saja. Kukekang isi kepalaku dengan meniduri siapapun lelaki yang kumau. Kubiarkan mereka menjamah tubuhku, lalu berpacu dalam libido kosong yang menguasai sejenak. Biar bisa kutau, adakah pianissimo resahmu yang masih berdetak dalam nadiku?

Begini saja. Kupinjam angin yang bergerak menjadi perpanjangan lenganku. Perlu berapa waktu agar aku bisa membelaimu tanpa aku perlu menjadi aku?

 

Yang tak pernah memiliki tak akan pernah merasa kehilangan.

Sayangnya manusia tidak pernah memiliki apa-apa.

Tidak perlu memiliki apa-apa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 18, 2015 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: