aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Cita-Citaku Setinggi Tanah

Banyak hal yang sebenarnya sifatnya sangat personal– melebihi bentuk-bentuk kebendaan, metode bahkan melewati indikator-indikator normal yang diaminkan oleh komunal. Ya, ada banyak hal yang sebenarnya dijalani manusia tanpa benar-benar dipahaminya. Manusia — karena ketakutan akan kesendirian akhirnya memilih menjadi kebanyakan.

Ada seorang anak, namanya Agus, tapi sejak di sekolah dasar dia tak lagi menjadi bebek. Dia tahu benar apa yang dia inginkan dan kenapa dia menginginkannya. Ketika teman-temannya bercerita tentang mimpi dan cita-citanya  menjadi diplomat, artis, tentara, pejabat, presiden, engineer, Agus tidak begitu. Agus tahu benar cita-citanya adalah makan di rumah makan padang. Cita-cita yang dianggap cetek oleh teman-temannya, konstruksi sosialnya — Cita-citanya hanya setinggi tanah.

Tapi daripada yang lain, Agus tahu benar darimana datangnya keinginan yang benar-benar “keingingan”. Bukan sekedar keinginan dan cita-cita yang dipasang oleh orang tua bahkan sebelum anak itu lahir, bukan pula cita-cita dan keinginan yang dibawa konstruksi sosial untuk menasbihkan eksistensi seseorang, bukan pula cita-cita dan keinginan yang berbasiskan ego — bahkan ego paling halus sekalipun.

Orang biasa, tidak akan paham perasaan Agus yang tiap hari, selama tiga kali sehari, seumur hidupnya selama ini selalu disuguhi tahu bacem sebagai makanan. Bayangkan, bertahun-tahun Agus hanya makan tahu bacem saja. Bahkan ketika melihat benda lunak kecoklatan itu saja Agus tahu betul rasanya. Rasa yang itu-itu saja yang lama kelamaan membuatnya muak dan jijik — bahkan nyaris tak bisa ditelannya. Tiap tekstur, rasa, sensasi gigitan pertama, kunyahan pertama sampai bagaimana pelan-pelan benda lembut dengan rasa manis itu masuk ke tenggorakannya telah terpatri di kepala Agus. Hanya dua alasan kenapa Agus masih saja memakan benda itu — rasa hormatnya kepada orang-orang yang menyuguhkan makanan itu kepadanya selama bertahun-tahun dari dia lahir dan keterbatasannya untuk bisa membeli nasi padang. Tapi Agus tahu, keterbatasan selalu bisa diakali.

Cita-cita, keinginan muncul dari sejarah. Dari keterasingan, penderitaan pribadi. Makanya cita-cita tentang kebebasan, misalnya, bisa saja digaungkan oleh sejuta manusia dan cuma sedikit yang benar-benar tau rasanya penjara dan keterikatan. Di jaman ini, kata-kata makin kehilangan maknanya. Sekedar membaca buku, menonton film, tidak akan membuat sesorang benar-benar paham arti kata “ingin”.

Agus berusaha, dia membuat dunianya sendiri diam-diam untuk menjaga hati tiap orang dan sekaligus mengatasi keterbatasannya sendiri hingga bisa makan nasi padang.

Tapi, setelah dia bisa mengatasi tiap keterbatasannya, variabel apakah dia makan nasi padang atau tidak  ternyata tidak lagi signifikan.

Cita-cita Agus yang setinggi tanah, yang remeh, yang biasa, yang dicela tentu pada akhirnya berbeda dari cita-cita si anu yang pada akhirnya cuma jadi delusi. Maka, jika kamu punya keinginan tapi kamu tidak benar-benar berusaha, coba tanyakan lagi diri sendiri: jangan-jangan kamu tidak benar-benar tau apa arti kata “keinginan”. Bukan, tentu bukan arti kata yang bisa kamu cek tiap saat di KBBI, tapi arti kata yang meng-ada seiring sejarah hidupmu sendiri.

Ah sejarah. Sesuatu yang bercerita tentang perubahan dan dialektika. Seperti batu besar yang digulirkan dari puncak gunung dan seiring waktu sampai di tepi laut dalam bentukan pasir yang halus.

Nyaris sama sepeti si Victor Hugo yang dikutuk hingga hidup hingga umur 80an. Bahkan ketika menjadi kakek-kakek berumur 80an dia masih saja menaiki tangga tinggi Bastille dan berteriak kepada prajurit-prajurit Louise Bonaparte yang baru saja membunuh lebih dari 400 manusia. Victor Hugo berteriak memohon kepada prajurit-prajurit Bonaparte untuk bergabung melawan tirani. Akhirnya tembakan bersarang ditubuhnya dan masih saja dia berteriak “I am willing to die for the cause of freedom!!”. Lalu dia mati. Orang-orang yang hidup dalam kenyamanan tidak akan paham derita macam apa yang termanifestasi menjadi keinginan dalam diri Victor Hugo yang terlahir disaat kejayaan Napoleon.

Agus pun seperti Hugo. Dia paham betul darimana keinginannya datang, dan kenapa dia harus tetap berusaha mewujudkannya sekalipun akan teralienasi atau mati sendirian.

Dan ketika dia mampu, apakah nasi padang benar-benar masuk ke dalam perutnya atau tidak, ternyata tidak lagi jadi variabel yang signifikan.

2 comments on “Cita-Citaku Setinggi Tanah

  1. langit
    August 16, 2016

    tulisan yang bagus, saya sampe terenyuh.🙂

    • .
      August 31, 2016

      terimakasih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 17, 2015 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: