aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Tentang Revolusi Yang Kebanyakan Sampah

Siapa yang tidak senang romantisme? Ada masanya kita akan kangen pikuk komunal beserta segala jargon yang dulu diteriakkan di jalanan — tentang kebebasan, kesetaraan, pemerintahan yang adil, kemiskinan yang tiada. Maka bersatulah anak manusia dalam payung-payung komunal dan identitasnya, ada sesuatu yang menurut mereka sedang mereka usahakan.

Adalah pekik perubahan, mural-mural di jalanan, lantunan lagu pembebasan, pamflet-pamflet gelap — ada sensasi menyenangkan diantara itu semua.

Romantisme jalanan mirip seperti romantisme agama. Berkumpul dalam satu panji atas nama apapun juga adakah romantis, Ya, manusia terperangkap dalam hal yang itu-itu juga dari jaman ke jaman.

Tapi revolusi semacam itu adalah sampah.

Di balik itu semua ada sekumpulan orang krisis eksistensialisme, haus akan identitas. Tak apa. Semua orang punya waktu krisis eksistensialismenya masing-masing. Sayang tak semua bisa sadar. Apalagi segala jargon hanya berakhir sebagai hiasan masa muda.

Maka aku sepakati lagi teori Camus tentang pemberontakan. Dalam bentuk komunalnya, individu pencari kebebasan menjadi bias. Pemberontakan dalam ruang komunal tak lagi menjadi unsur pembebasan.

Maka revolusi semacam itu adalah sampah,

Jika perubahan memang ada, dia lahir dari tiap subsistem terkecil, perubahan pola dan perilaku yang saling mempengaruhi lalu konvergen ke satu arah. Dari jaman ke jaman pola dialektikanya masih serupa.

Maka masa bodoh dengan birokrasi atau segala validasi lain yang ada di ruang komunalku. Tak akan aku pilih jalan yang tertebak, yang menjadi gema dari suara-suara yang entah dari siapa. Bertanya-mencari-menuimpulkan-koreksi adalah suatu siklus yang mungkin baru akan selesai jika aku mati.

Tak apa, aku adalah fungsi dari waktu. Yang jelas, jika manusia stagnan, berhenti, tidak sadar terjebak dalam siklus yang sama manusia itu sebenarnya sudah mati. Tapi tak apa, toh Yesus pun hidup kembali.

Ada bara yang harus selalu dijaga. Tapi bukan tentang revolusi, pikiran tentang utopia, nasionalisme atau hal-hal sampah lainnya. Manusia harus selalu “bergrak”, bertanya, ingin tahu, tidak puas, melakukan kritik, dekonstruksi-konstruksi tiap tesa yang ada di batok kepalanya, membentrkan tiap pengalaman dan pengetahuan yang dialaminya.

Manusia lebih baik tanpa identitas — nyaris sama seperti cita-cita marx tentang manusia di akhir sejarah.

Bukan manusia yang berbicara  sampai mulutnya berbusa tentang revolusi yang sebenarnya sampah atau terjebak dalam siklus yang itu-itu saja.

Hati-hati.

One comment on “Tentang Revolusi Yang Kebanyakan Sampah

  1. kinky ninja
    August 15, 2015

    Precisely, girl. Precisely. Can’t agree more.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 15, 2015 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: