aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

‘Batas Pengetahuan’ dan Si Nihilis yang Membeku pada 2665 mdpl

Tiap jaman memiliki batas pengetahuannya sendiri. Tapi yang berakhir ya si manusia pada jaman itu, sedang pengetahuan terus berkembang. Tetapi dalam tiap jawaban turut pula menyertai pertanyaan-pertanyaan baru. Maka, manusia dari jaman ke jaman tetap saja memiliki sisi gelap pertanyaan-pertanyaan yang tak tersentuh.

Tapi rupanya kita tak selalu bisa sabar.

Kita terburu-buru bertanya sampai tidak sadar sebenarnya menanyakan hal yang salah. Lalu terburu-buru pula menyusun data yang didapat menjadi sebuah kesimpulan, lalu menyatakannya menjadi benar. tidakkah–bukan hanya sekali dua kali–kamu terjebak dalam labirin pemikiranmu sendiri, afirmasi asumsi-asumsimu di kepala lalu menyatakannya sebagai “BENAR”.

Dan bermodalkan dalam kebenaran itu, kacamatamu kamu ganti. Kamu anggap kamu berbeda, unik, khusus. Padahal sama saja seperti yang lainnya, kamu mengulang kesalahan-kesalahan yang sama seperti mereka.

Lalu lahirlah si nihilis.

Dia kesepian. Terperangkap dalam topeng dan persona yang dia ciptakan sendiri. Terjebak dalam labirin di kepalanya tanpa cukup dewasa untuk otokritik dan mengakui tiap sesat pikirnya. Dia merasa hidup terlalu membosankan untuk dijalani.

Tapi buatku setiap nihilis hanya kurang menderita dan berjuang saja. Coba naik gunung, pikirku. Coba pacu batas diri pada setiap terjal, setiap hela nafas yang semakin lama semakin pendek ketika mendaki, setiap jenak istirahat ketika setapak jalan sudah tuntas, setiap teguk pertama ketika panasnya matahari membuat tenggorokanmu kering, dan pada setiap gigil angin gunung di malam hari yang membuatmu tak bisa tidur. Bukankah hal-hal semacam ini yang akan mengingatkanmu pada nikmat hidup?

setengah bungkus rokok, dua gelas st miguel dan email balasan mengejutkan dari UCL petang ini membuatku terpaku. Dunia memang penuh kejutan yang jadi menyenangkan pada waktunya masing-masing. Cuma butuh waktu yang tepat. Selama manusia tidak berhenti mencari, jawaban akan ditemukan, entah olehnya atau generasi setelahnya tak masalah. Bukankah dialektika semesta akan terus berjalan walaupun tiap tiap dari kita mati nanti? Bergembiralah nihilis, kamu berada dalam sebuah proses yang indah. Rasakan sakitnya. Bukankah itu yang menjadikanmu hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 5, 2015 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: