aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Lintang

Lintang menulis catatan personalnya itu dua hari sebelum kematiannya. Ayahnya baru menemukannya lebih dari 3 bulan setelah kepergiannya. Tapi darisana aku jadi paham, seberapa besar arti sebuah teks terhadap orang yang tepat.

Abi membacakan tulisan ayah Lintang disela-sela alunan lagu jawa bossanova yang ternyata membuat nuansa makin sialan. Aku jadi paham, kenapa kamu bisa ‘mengenal’ aku lewat teks buang hajatku disini.

Kubakar juga batang ketigaku malam ini. Pikiran soal teks yang tepat, orang yang tepat dan waktu yang tepat semakin menggangguku. Seperti ayah Lintang yang terusik oleh tulisan Lintang.

Perkara komunikasi tekstual ternyata bukan semata-mata soal bahasa saja. Ada makna. Ya, makna sialan yang sebenarnya tak perlu dicari-cari apa maksudnya –tak ada maksud apa-apa bahkan. Alami saja semuanya, seperti bernafas.

Teks yang tepat, orang yang tepat, waktu yang tepat akan menggali orang yang membaca lebih dalam dari biasanya, termasuk soal pemahaman dan aspek emosi di dalamnya — ada kedekatan yang unik.

Aku tahu, mungkin ketika aku menulis ini ada proyeksi diriku yang muncul di kepalamu. Entah aku sedang tersenyum, atau sedang menggigit-gigit bibir bawahku, atau aku sedang menggoyang-goyangkan salah satu kakiku — seperti kebiasaanku ketika di kepalaku sedang berserakan pikiran-pikiran yang melompat-lompat seperti anak anjing yang menggodaku bermain-main.

Semakin dekat kita, semakin presisi proyeksimu.

Tapi perkara kedekatan bukanlah perkara pertemuan fisik. Kedekatan masih menjadi sesuatu yang misterius buatku. Kedekatan yang sama ketika pertama kali aku mendengar I’ll Stand By You- The Pretenders jaman SD dulu, atau ketika pertama kali menemukan tulisan-tulisan Gie, Pram, Mochtar Lubis jaman SMP dulu.

Kedekatan yang sama ketika aku mulai “membacamu”.

Ayah Lintang akhirnya memproyeksikan semuanya. Setiap gelagat ketika Lintang menulis setiap kata. Setiap makna yang dicoba disampaikan Lintang lewat pemilihan diksi.

Orang yang tepat, waktu yang tepat, teks yang tepat lalu meledaklah semesta.

Mungkin itu yang jadi penyebab kamu menjadi pengecualian tentang banyak hal.

Bukankah begitu, sayang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2015 by in Bung.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: