aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Creative Freedom

While nothing is easier than to denounce the evildoer, nothing is more difficult than to understand him (Fyodor Dostoevsky)

Pemberontak, pembunuh dan penjahat perang bagi suatu bangsa bisa saja adalah pahlawan dan orang suci bagi bangsa lainnya. Maka sebenarnya tak ada definisi baik-buruk yang benar-benar rigid. Semua bisa menjadi ‘benar’ pada kondisinya masing-masing. Sejak jaman masih berjilbab dengan seragam rok abu-abu saya sudah menyimpulkan hal ini.

Tapi rupanya ada yang luput dan baru saya sadari ketika memasuki umur kepala dua, hal diatas sebenarnya sangat lekat dengan cita-cita manusia sepanjang jaman; menjadi Bebas. Maka berceritalah Camus tentang para pemberontak di Paris sana. Tentang orang-orang yang pada akhirnya berani berkata tidak lalu melakukan usaha pembebasan terhadap kondisinya. Bercerita juga Ana Freud soal penyangkalan diri — manusia cenderung percaya pada apa yang ia inginpercayai, melihat apa yang ingin ia lihat, mendengar apa yang ingin ia dengar. Berteriak pula para anak punk tentang sub-kultur anti kemapanan — penolakan terhadap sistem yang mengikat dan menjajah, demi kebebasan.

Tapi sayang, “memahami” memang bukan perkara gampang. Terbiasa melihat sistem yang besar; tentang kemanusiaan, tentang dunia yang sempurna, membuat manusia luput pada sistem kecil dan lingkaran kecil — hal-hal sederhana, remeh yang sebenarnya adalah subsistem dari hal-hal yang besar. Karena “bebas” bagi sebuah sistem yang besar adalah “penjara” bagi sistem besar yang lainnya. Demikianlah gerak peradaban manusia dari jaman ke jaman mempunyai pola yang mirip tentang menghancurkan dan dihancurkan.

Maka menjadi bebas adalah menjadi kreatif.

Kreatif untuk bisa “memahami”, bukan hanya sekedar bicara teori, membaca buku dan duduk di ruang kelas. Bukan juga sekedar melakukan simulasi what-if di dalam kepala lalu akhirnya ‘merasa’ bisa ‘memahami’, bagaimanapun juga manusia hidup di ruang materi bukan hanya ide. Teori tentang memasak tidak akan membuat perut kenyang.

Memahami menuntut kreatifitas sendiri. Untuk lebih peka dan melakukan uji cona terhadap diri sendiri. Mengenal batas, tiap emosi, kegelisahan, kesedihan, kebahagiaan dan apapun itu yang muncul dari diri sendiri, lalu mencerminkannya kepada sekitar. Memahami bergerak sebanding dengan mengalami. Tapi toh setiap manusia sebenarnya mengalami respon alami yang sama dalam dirinya. Bedanya adalah, ada yang ‘sadar’ dan ada juga yang tidak. Dan lebih jauh lagi, seberapa dalam manusia itu bisa menggali hal-hal yang dialaminya. Mengalami persis seperti ketika buku yang tepat  bertemu orang dengan pertanyaan yang tepat. Buku itu akan membuat orang itu menggali pertanyaannya lebih dalam lagi, melompat-lompat dari satu pertanyaan ke pertanyaan, dari satu premis ke premis lain, melakukan otokritik dan dialektika dengan dirinya sendiri. Makanya, tidak semua yang mengalami bisa memahami dengan cukup dalam.

Kebebasan menuntut kreatifitas.

Untuk bisa tetap cair, konsisten dan tidak patah dalam setiap kondisi.

Untuk tidak terikat pada satu nilai dan keadaan

dan bahkan untuk melepaskan kebebasan itu sendiri.

Tak ada yang benar-benar pasti. Siapapun bisa menjadi apapun. Mungkin jika Blaise Pascal lahir setelah jaman fisika kuantum mulai berkembang, mungkin dia juga akan sadar. Batas (Limit) tak pernah benar-benar ada. Derajad kebebasan terus berkembang sebanding pengalaman, pemahaman dan pengetahuan.

Ah, dasar paradoks yang hidup🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 21, 2015 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: