aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Requiem of The Dead— Ulang Tahun Kematian Yang Kesepuluh

Kemarin tepat sepuluh tahun. Aku ingat malam sebelumnya aku menemanimu di pinggir ranjang itu. Dengan suara rendah kubacakan ayat-ayat yang konon katanya suci itu. Tak lupa pula kubantu engkau melafalkan zikir. Katanya itu akan mempermudah engkau lepas. Ya, katanya. Waktu itu aku tak berpikir banyak, kulakukan saja semuanya. Aku ingat bahkan kubacakan surah itu berkali-kali hingga aku hafal diluar kepala, bahkan hingga kini. Aku menemanimu hingga nafas terakhirmu. Hingga engkau terbujur kaku.

Aku ingat, ketika itu seseorang menyuruhku menangis saja jika ingin menangis. Tapi toh aku tidak menangis saat itu. Perasaanku datar saja. Terlalu datar sampai aku ngeri dengan diriku sendiri. Dan aku tak ingat respon orang-orang disekitarku, entah mereka menangis atau apa. Malam itu tenang, terlalu tenang, tapi pikiranku bergelubak oleh tentang apa dan menghasilkan perasaan datar yang mengerikan.

Malamnya kutiduri ranjangmu. Kuingat dalam-dalam wangi keringatmu. Bahkan berminggu-minggu setelah kepergianmu aku masih menyelinap masuk ke dalam kamarmu, diam-diam, seperti biasa tak ada yang benar-benar tahu aktifitasku. membuka lemarimu, dan kuhirup lagi dalam-dalam jejak yang tersisa. Sekedar untuk menipu diriku bahwa engkau masih ada.

Aku ingat pula berbulan-bulan tiap hari minggu aku menyelinap kehadapan nisanmu, diam-diam, seperti biasa taka da yang benar-benar tahu aktifitasku. Mencabuti rerumput liar di gundukan tanahmu. Membersihkan nisanmu dari debu-debu. Tapi aku masih merasa datar. Perasaan datar yang mengerikan.

Kalau ada ingatan manis yang paling kentara, Mbah, adalah engkau yang tersisa disana. Ya, cuma engkau, tak ada yang lain. Tak pernah ada yang lain. Cuma engkau yang menanti. Cuma engkau yang benar-benar memperhatikan. Cuma engkau yang melihat lebih dalam. Cuma engkau yang menjaga dalam diam dan dari kejauhan. Ya, cuma engkau, Mbah, yang benar-benar ada. Walaupun dalam diammu. Aku selalu tau.

Baru setahun kemudian aku bisa benar-benar menangis. Setelah aku benar-benar tahu kesepian total itu apa. Karena setelahmu, tak ada lagi.

Cuma sekali, Mbah, engkau benar-benar bicara serius kepadaku. Itu kali pertama dan terakhir kalinya sebelum engkau akhirnya menghabiskan hari-harimu di rumah sakit. Ketika semua orang mendikte dan mengikatku, engkau memintaku untuk bebas. Seakan-akan engkau menjamin bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Aku baru pulang sekolah saat itu. Engkau menculikku ke ruang makan. Kita duduk berdua, bicara empat mata. Waktu itu aku belum paham maksudmu apa. Baru setelah aku mulai dewasa aku baru paham. Engkaulah pembebasan diantara semua ikatan, paksaan, tekanan yang dicantumkan mereka. Tak ada yang benar-benar mengajariku, selain engkau, Mbah.

Aku tak pernah benar-benar tahu ceritamu. Memang, kita semua tak pernah benar-benar bercerita hal-hal nostalgik. Kami semua berjarak, dan engkau adalah perekatnya. Makanya setelah engkau tak ada jarak itu menjadi semakin nyata. Ya, engkau menyembunyikan masa lalumu dan tak ada yang benar-benar tahu kenapa. Yang aku tahu engkau pemberontak, Mbah, harga dirimu tinggi, khas ningrat tanah jawa sana. Dan sifat itu, Mbah, yang benar-benar turun dan mendarah daging kepadaku. Karakter yang tak bisa dipahami yang lain. Mungkin itu sebabnya, Mbah, Engkau lebih banyak diam.

Engkau memberontak dari sistem, dari manusia yang tak lagi menjadi manusia. Darah biru berpentdidikan sepertimu sudah tentu mendapatkan jaminan harta dan tahta. Apalagi Engkau masih keturunan keraton. Tapi engkau menolak. Engkau menolak hidup diantara feodalisme keraton. Engkau menolak hidup dalam strata tinggi yang menjajah lainnya. Engkau menolak hidup seperti ayahmu yang punya gundik dimana-mana. Engkau menolak hidup dalam keluargamu yang memakai agama untuk menguasai semuanya. Engkau malah memilih lari, melepaskan semua harta, sengaja menjebak diri dalam romusha (atau rodi? ah, aku lupa), sengaja memilih menjadi buruh di Sumatera.

Sekarang, Mbah, Bolehkah aku melakukan hal yang sama? Ah, Aku tak punya cukup data tentangmu untuk menggagas dialog imajiner di kepalaku.

Sudah sepuluh tahun, dan aku kini menjadi pecundang dari pesan terakhirmu. Aku tak pernah memelukmu. Bahkan tak lagi punya potret wajahmu. Tapi imajimu masih terekam jelas. Wangi minyak rambutmu, pecimu, baju safarimu, caramu memakai sarung, kebiasaanmu mendengarkan kaset kisah pewayangan dan lagu-lagu keroncong, kerinduan terpendammu terhadap tanahmu.

Ah, adakah aku yang ini memiliki cukup keberanian untuk memenuhi pesan terakhirmu?

Kalaupun aku pulang, Mbah, cuma ada satu alasan. Untuk mengunjungi pusaramu. Diam-diam menangis dihadapannya, entah karena apa, ya diam-diam, disana tak ada yang benar-benar tahu apa yang aku lakukan dan rasakan selain engkau, Mbah, bahkan hingga kini.

Ah, adakah aku akan berani, Mbah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 24, 2014 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: