aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Perjalanan

Bergerak meraba. Berlari terengah hingga tak lagi membutuhkan nafas. Menjelajari dataran yang asing. Menerjunkan diri ke jurang. Mengalir melewati sungai menuju lautan. Tak lagi melawan gelombang, ia menikmati tiap naik dan turun gelombang. Mengikuti arus laut yang akan membawanya ke seluruh dunia, menuju dataran asing yang lain lagi. Mendaki gunung lagi. Menjatuhkan diri ke jurang lagi. Menenggelamkan diri dalam palung lagi. Dari puncak ke lembah. Dari lembah ke samudera. Dari samudera ke palung. Lalu ke palung yang lebih dalam lagi. Hingga hilang tiap sedu sedan. Karena makin gelap keterasingan, makin terang pula nyala api dari setangkai korek yang membara. Lalu dari tiap bara dia ikut membara. Tapi tak akan habis terbakar. Ia justru akan hidup

Rekata terlewat di kepalanya ditiap langkahnya. Tapi tak semua rekata menemukan kertas dan pena. Tapi bukan berarti dia tak ada. Tiap langkah hidup adalah keabadian, meski tak semua terangkum lewat kertas dan pena. Sebab yang terasa itu adalah nyata. Dan pahit adalah nyata yang lebih nyata. Pahit adalah penyebab manis terasa. Kecaplah pahit itu. Jilati ia sampai ia habis. Jika habis, carilah yang lebih pahit. Maka jeda diantara tiap perjalanan dan peristiwa adalah madu termanis sealam semesta. Yang nyata akan selalu menjadi nyata, walaupun tak semua mengetahui kenyataannya. Tiap-tiap yang nyata akan  menjadikan ia yang baru. Kenyataan-kenyataan baru akan membunuh dirinya yang lama, melahirkan ia yang baru. Ia yang mati hidup berkali-kali adalah ia yang akan mengenal semesta yang lebih luas, lebih dalam. Yang akan melebur, manunggal pada tiap entitas semesta.

Ia membaca banyak. Ia mengalami banyak. Ia melihat banyak. Ia memahami banyak. Jauh melebihi umurnya. Buahnya adalah kesedihan tak henti dan kesepian yang membabi buta. Tapi dekaplah tiap sedih dan sepi. Karena sedih dan sepi membuatnya jadi sangat peka. Menghidupi tiap kecil interaksi berarti anatara tiap dirinya dengan tiap bagian semesta—dengan manusia, dengan kucing, dengan kutu, dengan kotoran, dengan debu, dengan angin, dengan yang ada tapi tak sanggup dilihatnya. Justru karena ia tahu arti sepi, tiap detik yang manusiawi akan terasa penuh—sempurna. Maka ia akan paham makna bahagia dan cinta. Paham sampai gemericiknya saja bisa membuatnya menangis bahagia. Paham sampai ia memahami yang di dalam manusia lainnya—memahami kata-kata yang tak terucap, pikiran yang tak diakui, motif yang tak disadari, perasaan yang disangkal. Paham sampai ia akan memberikan ruang semestanya bagi yang dicintainya untuk jadi apa saja. Paham sampai tiap detik ia mencintai dengan sempurna, karena detik berikutnya yang menyayanginya belum tentu ada.

Tapi pengembara mana yang tak merindukan rumah tempatnya pulang? Tempatnya duduk di beranda sambil minum kopi lalu bercumbu dengan sang kekasih sembari melihat senja. Tempat kekasihnya membasuh air mata di matanya dengan air mata sang kekasih. Tempatnya mendapatkan pelukan yang selalu ia butuhkan. Tempatnya mencuri-curi ciuman diantara rak buku, meja, kursi dan dapur. Tempatnya memperoleh ekstase paling alami dan paling jujur dari manusia bersama kekasihnya di ranjang. Tempatnya berbicara hal-hal remeh, sederhana paling manusiawi dari manusia. Karena ia kenal dirinya sendiri, ia kenal rumah yang akan didiaminya. Ia tahu, tinggal menunggu saatnya saja.

Sementara waktunya tiba. Tak tiap peluk mesti berwujud peluk. Kadang ia berwujud tatapan hangat dengan air yang menggenang di sudut mata. Kadang ia berwujud salam sayang dari seberang samudera. Kadang ia berwujud tangan-tangan tak terlihat yang mengangkatnya saat jatuh. Kadang ia berwujud doa dan senyum dari yang tak dikenal. Kadang ia berwujud permainan peran yang disengaja. Kadang ia berwujud telepon aneh ketika malam tiba. Kadang ia berwujud absurditasmu. Tak mesti berwujud peluk—toh ia hangat juga.

Tak ada yang paling disyukurinya selain bertemu kalian semua. Yang mengajarkannya menyentuh daratan-daratan asing di dirinya. Yang membuatnya belajar memasuki kesetimbangan positif—mulai belajar terbang, meski belum sepenuhnya bisa keluar dari gelapnya masa lalu. Yang membuatnya percaya ada rumah yang bisa ditinggalinya—rumah yang belasan tahun tak ia rasakan. Yang membuatnya memahami cinta itu ada dan dia memang berhak untuk bahagia.

Ia menghidupi amor fati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 21, 2014 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: