aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Suatu hari ketika hujan turun

Di luar hujan deras. Tapi rupanya hujan di dalam jauh lebih deras lagi.

Dia menelannya berkali-kali– suara-suara yang membuatnya merasa sesak dan sulit bernafas. Dia menelannya berkali-kali sampai dia tercekik sendiri. Dia tercekik tanpa suara. Sementara dunia disekitarnya tak tahu dia sedang tercekik.

Dia duduk bersila diatas sufa di pojok ruangan itu. Mencoba menulikan kupingnya dengan dentuman lagu yang membabi buta. Dia goyangkan tangan dan kakinya mencoba melebur pada semesta disekitarnya. Padahal dia sedang tercekik.

Tapi apa mau dikata. Dia memang punya semestanya sendiri. Semesta yang berbeda dengan semesta makhluk-makhluk tiga dimensi yang mengikat tangan dan kaki–seluruh hidupnya pada batasan-batasan fisika itu. Sedang ia telah lama sadar, tembok fisika dan metafisika sebenarnya telah lama tidak dibutuhkan.

Di meja dihadapannya tergeletak san miguel dan kotak putih kecil yang membantunya bernafas dan memberikan ritme dihidupnya yang sudah terlalu bebas. Mengikat diri sendiri yang bebas kedalam batasan-batasan semu taik kucing memang tak pernah gampang. Semacam usaha manipulasi yang kerap ia lakukan berkali-kali, yang gagal dengan berbagai macam metoda.

Di pangkuannya tergeletak halaman yang sama yang sudah ditatapnya selama satu jam terakhir. Semacam topeng yang ia pakai untuk melebur kedalam sekitarnya. Tapi hujan deras mana yang dapat ditahan. Perlahan-lahan lembar-lembar buku yang disayanginya itu basah pula oleh tetesan hujan.

Dan tetiba kotak hitam dihadapannya berbunyi. Ia tersenyum sambil menatap layar. Mendadak mendungnya pergi. Kenapa? Ia tak tahu. Ia masih belum mengerti. Terlalu banyak hal absurd yang tidak membuatnya mengerti. Semua dugaan-dugaan, hipotesa dan lainnya. Manusia akan selalu kekurangan data, tapi manusia bisa memilih untuk yakin pada apa atau siapa. Sekalipun ketidakpastian adalah keniscayaan. Dan ya, rupanya kali ini dia mulai yakin.

.

Sepertinya perlahan sis terdalamnya mulai berubah. Dan ia terkadang benci ini. Tapi bagaimanapun juga Hukum Newton I juga berlaku pada dirinya— secara fisik ataupun metafisik.

Mungkin kali ini dia mulai siap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 9, 2014 by in Prosa.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: