aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Yang (Hanya) Membaca vs Yang Mengalami

There are times when one must reveal certain things because otherwise things could not be said with verisimilitude

 

Tak ada kebenaran yang abadi. Bahkan para saintispun memiliki subjektifitasnya sendiri dalam menyusun asumsi-asumsi. Makanya saya tak pernah keberatan kalau sesuatu yang saat ini saya pegang sebagai kebenaran ternyata salah. Toh saya belajar untuk tak terburu-buru menyusun semua pola menjadi sebuah kebenaran. Tapi darimana sebuah kebenaran (pikiran) datang?

Beberapa bulan ini hidup saya sedang sialan cairnya. Lucunya adalah belakangan saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan, termasuk soal jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepala saya. Pikiran di kepala saya bercabang seribu dalam satu kotak korek api. Pada awalnya mereka terserak tak beraturan dalam ruang kecil di batok kepala saya. Tapi rupanya ini cuma butuh momen tertentu saja. Momentum memang sialan. Jika momentum datang diwaktu yang tepat dan saya bisa cukup terbuka menerimanya, ia akan menyusun semua garis-garis berserak di kepala saya menjadi sebuah pola tertentu, mana yang jadi garis utama dan mana yang menjelma menjadi cabang dan bagaimana koneksinya satu sama lain.

Tapi rupanya momentum yang sialan tidak saya dapatkan lewat buku-buku. Pada satu titik mungkin kita memang harus berhenti (sekedar) membaca dan mulai menghidupi hidup detik demi detik hingga sebuah loncatan kuantum menghubungkan semua informasi di kepala menjadi sebuah jaringan yang jelas. Maka semakin kesini sayapun sadar, yang (sekedar) membaca dan yang mengalami memiliki satu perbedaan mendasar.

Ada banyak intelektual ruang kelas. Sayangnya mereka berjarak dari yang menjadi sumber ilmu mereka. Kebanyakan berakhir onani otak saja sepertinya. Ada sejuta teori di kepala mereka beserta hafalan-hafalan atas sumber teori tersebut. Mereka tahu rasa manis tanpa mengecap gula, mengenal sakit tanpa tahu terluka, mengenal manusia tanpa berinteraksi seperti manusia seharusnya. Sekilas saya rasa ini menjijikan. Mengenal tapi tak pernah benar-benar mengenal.

Maka ada waktunya untuk mengalami. Menjalani tiap absurditas di kepala, menemukan wujudnya dan membiarkan ia membenda. Hingga dialektika tidak terjadi hanya di ruang kecil batok kepala tapi karena interaksi tiap indera. Hingga tiap dialektika menjadi utuh. Dan kita bisa sadar, betapa berjaraknya dunia ideal di kepala dengan realitas. Sampai suatu waktu, jembatan otak hati bisa cukup kokoh untuk diseberangi.

Sayapun begitu. Pelan-pelan saja. Saya masih muda dan dunia yang belum dijejaki masih terlampau luas. Kali ini saya belajar bersabar, semoga kamupun begitu.

6 comments on “Yang (Hanya) Membaca vs Yang Mengalami

  1. thoughtcrime
    November 4, 2014

    Wohooo… Love this, girl!

    • Septia Agustin
      November 4, 2014

      whaaaaattt you love me?

      ah, my writing… not me. hahahaha

      thanks bro.

      • thoughtcrime
        November 5, 2014

        Hahahah…

      • Septia Agustin
        November 8, 2014

        anyway, saya ngecek tulisan2 anda. rasanya cem nemu versi saya yg cowok dgn umur yg lebih tua :))

      • thoughtcrime
        November 9, 2014

        Walah, jadi aku tuh kamu dalam versi berpenis? Walah, walah… Hmmm…

  2. Septia Agustin
    November 10, 2014

    ada kesamaan yg kentara, sisanya cuma perbedaan metode aktualisasinya. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 4, 2014 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: