aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kembali

Bulan depan genap sepuluh tahun, Bung, interaksi terakhirku dengan seseorang yang membuat aku merasa kembali. Momen yang belasan tahun ini sangat langka aku rasakan. “Selalu sempatkan diri untuk kembali seberapapun jauhnya kamu pergi” kata beliau. Tapi setelah momen itu aku tak kunjung menemukan alasan lain untuk kembali selain untuk menyirami pusaranya dengan air, menyabuti rerumputan liar dan bercakap-cakap dengan nisan yang dingin. Lucu sekali rasanya, Bung, betapa keberadaan beberapa orang tak akan pernah bisa terganti.

Aku berjalan jauh melampaui luar angkasa untuk akhirnya kembali ke diri sendiri. Hidup sering menggemblengku dengan kurang ajar. Membuat aku tumbuh dan berkembang dengan percepatan yang sialan hanya untuk akhirnya ditabrakkan dengan masalah-masalah dari belasan tahun yang lalu. Ya, aku kembali ke titik awal dengan kesadaran yang berbeda. Kali ini menjadi penentu seberapa dewasanya aku, apakah pikiran dan mentalku berkembang sejalan atau belum.

Tapi selayaknya kopi hitam yang malam ini kuminum, aku butuh waktu untuk mengendapkan. Kali ini aku paham makna kesabaran. Sebelumnya biasanya kuteguk saja kopi tubruk tanpa gula ini secepatnya tanpa menghiraukan molekul kopi yang masih mengambang dipermukaan. Tapi kali ini gelasnya terlalu kecil, airnya terlalu sedikit, maka aku harus belajar bersabar untuk mengaduk dan mengendapkan kopi tersebut supaya rasa pahit bisa tetap jadi nikmat dan tidak berakhir cacian.

Sepuluh tahun yang lalu aku tak paham maksud beliau dengan kata “kembali”. Tapi aku rasa sekarang aku mulai paham. Kembali bukan masalah tempat, orang atau benda fisik apapun juga. Kembali adalah perasaan personal dengan diri sendiri untuk dapat menerima semuanya. Untuk dapat kembali memiliki diri sendiri dan menghidupi hidup yang aku ingini, hidup yang hidup. Ah, sepertinya aku yang belasan tahun yang lalu memang jauh lebih ikhlas dan dewasa daripada aku yang sekarang.

Lucu ya, Bung, bagaimana seseorang yang telah hilang dari dunia materi pada akhirnya tetap hidup. Mungkinkah ini makna eksistensi yang sebenarnya? Beliau bergerak dari hal sederhana, tidak bicara soal bangsa atau peradaban dunia, tapi bagaimana menjalani hidup yang di detik ini, menikmati segala partisi terkecilnya. Ah, momentum yang terlewat akhirnya hanya berakhir menjadi nostalgia, Bung. Semacam kotak yang aku buka setiap aku butuh. Itu saja cukup. Lebih dari cukup.

 

P.S : Kamu ingin tahu lebih tentang beliau? Bulan depan kutuliskan, pada ulang tahun kemarian yang kesepuluh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 4, 2014 by in Bung.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: