aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Perihal Kematian

Ini bukan kali pertama saya melihat seseorang meregang nyawanya di depan mata saya, Bung. Sebelumnya sudah dua kali saya alami. Saya sendiri yang waktu itu tak henti-hentinya membacakan Surah Yasin dan membimbing beliau berzikir di akhir nafasnya, nyaris sepuluh tahun yang lalu kejadian itu. Seharusnya hal ini bukan menjadi hal yang mengagetkan buat saya.

Tapi kali ini berbeda, Bung. Ia melawan. Wanita paruh baya itu ingin bertahan hidup. Saya sadar harusnya saya tidak penasaran akan hal ini. Tapi maafkan saya. Suara di kepala saya tak dapat berhenti bertanya kenapa ia ingin bertahan hidup. Padahal hidup dengan segala perekayasaan kita tentang kehidupan ini rasanya tak pantas ditinggali lama-lama.

Ia tinggal di gubuk suatu kawasan kumuh di kota tempat Bung tinggal dulu. Rumahnya papan. Beberapa langkah darisana tumpukan sampah menggunung. Dari tempat saya berdiri bisa dengan jelas saya rasakan getaran dan suara commuter line tiap waktu-waktu tertentu diantara papan-papan tipis yang saling berdempetan ini. Hidup wanita itu adalah sebentuk usaha bertahan hidup untuk hari ini saja. Mata saya tak melihat hal-hal menyenangkan yang bisa menjadi alasan untuk memperjuangkan hidup. Mimpi dan harapankah yang membuatnya ingin bertahan? Ah, sayangnya saya tak sempat bertanya sementara bayangannya menghantui saya terus, Bung. Apa yang membuatnya memiliki daya hidup sedemikian tingginya?

Saya merasa hidup ini makin mengerikan sekaligus makin menjijikkan. Dan dosa saya adalah saya sadar betul hal itu. Titik dimana segala pengetahuan tentang kehidupan selama ini berbenturan dengan realita menjadi semacam neraka. Sekarang saya ragukan lagi, apa pula yang membuat Nietzsche berpikir soal Amor Fati? Jika Nietzsche sempat bertemu ibu pemulung yang meregang nyawanya karena TBC menahun tanpa mendapatkan kesehatan yang layak itu, atau jika Nietzsche menemukan perempuan muda yang umurnya setengah windu dari saya tapi tiap malam takdirnya adalah digilir lelaki entah siapa, adakah Nietzsche masih dapat merasakan Amor Fati?

Ah, iya Bung. Perempuan muda itu, yang umurnya cuma terpaut setengah windu dari saya, yang tetiba ingin saya peluk dan saya lindung selayaknya adik sendiri itu. Saya tak bisa tidak menangis mendengar ceritanya. Diperkosa ketika berumur empat belas tahun, dan diantara dinding-dinding tipis papan itu tiap malamnya dia harus siap meladeni lelaki-lelaki entah siapa yang mendatanginya tengah malam. Bahkan ia berkata kepada saya “apakah saya mendingan sekalian jadi pelacur, mbak?” Ah Bung, hati saya patah mendengarkan hal itu. Melihat anak-anak yang tumbuh tanpa perlindungan dan kasih sayang itu.

Saya mencoba percaya, Bung. Bahwa orang tua akan selalu baik, akan selalu melindungi anak-anaknya. Bahwa ada satu perlindungan maksimal yang diberikan oleh pertalian darah. Tapi, Bung… Tak sekali dua kali juga saya jumpai gadis muda yang dijual oleh orang tuanya sendiri. Atau anak-anak di emperan dan di persimpangan lampu merah yang berusaha melindungi diri mereka sendiri. Sementara Bung, di depan mereka ratusan orang-orang lewat tiap harinya seakan-akan tak terjadi apa-apa.

Bung tau penyiksaan paling maksimal dari seseorang yang sadar? Ya, ketika ia tahu ada sesuatu yang salah, yang sangat bobrok, busuk dan menjijikan. Tapi ia tak bisa melakukan banyak. Sementara bayangan-bayangan tentang permasalahn itu tak dapat ia lepaskan dari pikirannya. Tolong saya Bung, saya tidak dapat berhenti mengkhawatirkan perempuan paruh baya itu, anak-anak yang berkeliaran di sekitar lampu merah, gadis-gadis kecil di kawasan kumuh itu yang rasa-rasanya takdir hidupnya berputar di dunia itu saja. Saya semakin tak kuat memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang mereka kedepannya. Tapi untuk jadi ignorant dan bersikap seakan hal-hal ini adalah hal yang biasa, saya juga sudah tak sanggup. Otak saya berputar selama mata saya masih terjaga. Sialnya kali ini saya semakin tak bisa lagi memikirkan tentang diri saya sendiri. Sistem di kepala saya sudah bergerak terlalu jauh. Tak lagi sekedar onani otak. Sialnya saya tahu betul saya tak akan mampu menyelesaikan banyak hal. Ah, hidup rasanya makin sepi. Apa pula yang menarik untuk dihidupi?

P.S : Apakah menurut Bung semua manusia berhak untuk bahagia? lalu jika seorang manusia menjadi sebab ketidakbahagiaan manusia lainnya, bolehkah saya membunuh manusia itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 9, 2014 by in Bung.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: