aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Orkestra Peradaban Jakarta

Persis di siang bolong seperti ini, Bung. Hanya saja udara dan suasananya begitu berbeda. Bandung memang kebalikan dari Jakarta. Tapi ada satu hal dari kota itu yang selalu sukses menarik perhatian saya.

Bung tau apa yang istimewa dari kota Jakarta? Jakarta adalah tempat dimana saya berada di garis batas antara manusia dan bukan manusia. Di kanan saya ada fenomena kebinatangan yang tak lazim. Tapi persis disebelah kiri saya binatang-binatang ini mampu menjelma manusia.

Saya selalu terkesima dengan orkestra manapun juga, Bung. Saya selalu senang menutup mata lalu membiarkan orkestra VIvaldi, Mozart, Beethoven mengalun membentuk imaji-imaji liar di kepala saya. Orkestra yang sama seperti yang ada di depan Stasiun Tanah Abang waktu itu. Teriakan penjaja minuman, makanan, kernet angkot dan kopaja, dentuman musik dangdut yang pecah, suara rem yang diinjak yang terdengar keras mungkin karena minyak rem kopaja bermasalah, suara klakson bertalu-talu. Bertalu-talu pula mereka menelusup dalam imaji kepala saya. Apa pula yang menyebabkan orang tak sabaran? Apa pula yang mereka kejar? Sudah berapa jam si bapak supir kopaja terjebak dalam kemacetan? Berapa uang yang diterima perharinya? Adakah semuanya setimpal dengan pergolakan emosi yang dialaminya tiap hari di jalan raya? Ataukah mereka sudah mati rasa? Ataukah mereka sudah menjelma ibarat wali di jaman modern yang tetap bisa tersenyum dan menikmati keadaan macam itu? Sudah berapa tahun pedagang kakl lima itu berjualan disana? Mereka datang dari kampung mana? Kenapa mereka ke Jakarta dan bertahan disana? Apa kabar sawah dan ladang mereka di kampungnya? Tidakkah mereka ingin menjadi petani saja? Cukup banyak bung, kawan-kawan saya di kampus gajah yang ingin hidup menyepi di desa lalu menjadi petani saja sambil medirikan pusat-pusat pendidikan berbasis komunitas di desa-desa. Ah, apakah manusia-manusia ini bahagia?

Kalau saya pelajari lagi, Bung. Pasca Orde Baru filosofi dan konsep kota (terutama di kota-kota besar) sudah terlepas dari akarnya. Kalau Bung suka bertualang ke desa-desa dan kota-kota kecil, Bung akan paham benar maksud saya ini. Kota dalam definisi paling pragmatisnya adalah “pasar”. Sebuah pusat keramaian tempat orang-orang dari desa-desa sekitar berkumpul di suatu tempat melakukan transaksi jual beli. Bahkan di tempat-tempat yang masih “asli” bukan sekedar jual-beli transaksional yang terjadi, Bung. Ada dimensi “manusia” yang sangat indah dimana orang-orang saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal, saling bertanya kabar, saling bertanya bagaimana kehidupan di rumah, saling bertukar kebutuhan. Ini semacam kristalisasi betapa manusia tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan asset orang lain tapi masih bisa tetap menjadi manusia diantara interaksi materialistis yang terjadi. Disana manusia yang satu menghidup manusia yang lainnya, baik dari sumber ekonomi maupun spiritual dalam interaksi sebagai manusia. Indah bukan bung?

Tapi tidak pasca orde baru di jakarta. Pasca orde baru timbul trend lain dan pergeseran pasar. Pasar sebagai sentral pusat kota bergeser menjadi mall sebagai pusat kota. Ada satu gerak menarik tentang perubahan sebuah infrastruktur sebagai subsistem pembangunan dan bagaimana infrastruktur itu mengubah manusia, Bung. Manusia kota menjadi makin transaksional. Kita tidak lagi peduli dengan siapa kita melakukan transaksi jual-beli. Kita bahkan tak tau nama si penjual. Kita mungkin tak lagi berpikir sudah berapa lama mbak-mbak itu menjadi SPG, dia berasal darimana, adakah sexual harrastment yang ia terima ketika berpakaian seksi seperti itu? Terlebih lagi, kapital yang masuk dalam proses jual-beli tak lagi masuk ke dalam kantong-kantong individu yang benar-benar membutuhkannya, sekedar agar tungku di dapurnya mengebul dan anak-anaknya dapat sekolah. Kapital-kapital yang mengalir hanya masuk ke dalam lingkar-lingkar tertentu, orang kaya yang semakin kaya. Tidakkah ini sebenarnya masuk kleptokorporasi yang halus juga, Bung? Lama-lama apa kabar si Minah yang cuma punya warung 1×1 meter di trotoar atau si Badu yang bergerilya ditengah lampu merah untuk menjual air mineral? Toh kita sendiri lebih tertarik masuk ke indomaret, mall dan sejenisnya yang dingin dan ber-ac, iya kan, Bung?

Makin kesini saya makin sadar satu hal, Bung. Hal yang paling mahal dan berharga dari pendidikan tinggi atau banyaknya buku-buku yang saya baca bukan terletak pada titel, pilihan kerja yang beragam atau gaji besar yang menanti, Bung. Tapi pada kesadaran. Mahal betul, Bung, rasanya kesadaran itu. Bahkan sejauh ini saya berpikir kesadaran tak selalu berbanding lurus dengan tingkat pendidikan seseorang. Lalu berbanding lurus dengan apa? Entah, Bung. itu pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Sekalipun saban hari Pak Iskandar dan Bu Tri Mumpuni telah menhajarkan engineering kesadaran di masyarakat bawah, ada satu suara kecil di kepala saya yang masih bertanya : Apakah benar kesadaran bisa di rekayasa? Ah, omongan saya melebar, ini akan saya tulis lain kali, Bung.

Intinya, Bung, Jakarta selayaknya kota-kota lain persis seperti orkestra. Sialnya yang tinggal disana mau tidak mau telah memegang satu instrumen musik bung. Lalu siapa yang jadi maestronya? Pemerintahkah? Ah, aku masih sangsi dengan jawaban itu, Bung.

N.B. Siang ini aku akan ke kineruku, mau menyelesaikan beberapa tulisan dan mencari beberapa buku seksi. Bung mau aku pilihkan buku yang menarik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 5, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: