aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Cermin Nietzsche

Bung tau, aku telah jatuh cinta pada Nietzsche sejak pertama kali aku membaca Zarathustra. Dan lewat Nietzsche pula akhirnya aku sadar betapa mudah aku jatuh cinta pada jiwa-jiwa yang kesepian, yang dalam pengasingan, yang memilih sendirian. Hal yang sama pula yang akhirnya menggerakkan aku memilih buku-buku Bukowski dan Sylvia Plath dari siang tadi. Tak terasa seharian ini selesai juga kubaca Factotum.

Kawanku punya teori sendiri tentang cinta, Bung. Dan kuamini pula teorinya itu. Baginya kita jatuh cinta karena sebuah cermin. Ada cermin yang khas di diri orang-orang tertentu yang bisa mencerminkan nyaris keseluruhan diri kita. Maka yang kita cintai darinya adalah diri kita sendiri yang tercermin dari orang itu. Maka Bung, bila suatu saat aku jatuh cinta padamu sangat mungkin karena hal itu. Dan mungkin pula Bung juga begitu.

Sekilas tadi kubaca pula buku dari Beauvoir kepada Sartre. Semacam buku terakhir yang menandakan perpisahan mereka. Sungguh romantis rasanya, Bung. Ketika seseorang mengabadikan tiap rasanya dalam bentuk apapun itu. Rasa itu menjadi abadi. Menjadi semacam kuil yang akan selalu kita datangi bila melankoli nostalgik itu melanda.

Tapi Bung, semakin lengkap bayangan yang tercermin dari diri seseorang, berarti semakin mirip pula jiwanya, semakin mirip pula perjalanan yang sedang mereka tempuh. Aku sempat merasakan romantisme semacam itu Bung. Tapi sayangnya, seperti kata Nietzsche pula, dua jiwa itu harus siap berpisah karena suatu ketika cermin itu akan retak dan masing-masing dari mereka harus melanjutkan perjalanannya. Maka mungkin aku tak akan pernah bisa memiliki Bung. Sebab seberapapun persis imaji yang sedang kita cerminkan, ada jalan-jalan yang harus kita tempuh. Ah, sialan kali rasanya perasaan-perasaan macam itu.

N.B

Apakah ketika kita bertemu dan berpisah nanti Bung akan membuat sesuatu dari cerita kita? Ah, aku akan menantikannya.

One comment on “Cermin Nietzsche

  1. hs
    October 10, 2014

    zarathustra (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 5, 2014 by in Bung.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: