aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Bung

Belakangan sepertinya saya butuh pelarian yang lain dari kecamuk-kecamuk pikiran yang ada di kepala. Sama seperti sebuah ruangan yang telah sumpek dipenuhi banyak benda, saya butuh ruangan lain yang lebih luas untuk menyimpan benda-benda itu. Apalagi belakangan. Semakin jauh saya berjalan, memasuki ruang-ruang tabu, cenderung radikal yang menyimpan kompleksitas atas realita yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya, semakin sempit ruang di kepala saya. Saya butuh pembenturan pemikiran yang lebih hebat lagi. Karena kali ini jembatan otak-hati telah jadi semakin jelas. Tiap-tiap teori, cerita dan pengalaman dari buku-buku yang saya baca makin menemukan bentuknya di dalam ruang-ruang realita yang saya alami. Semakin banyak dialog-dialog imajiner di kepala saya. Celakanya adalah makin kesini saya semakin tidak menemukan kawan-kawan seusia saya yang bisa cukup paham pikiran-pikiran yang berlari di kepala saya. Ah, saya merasa makin tua.

Maka akhirnya saya bentuk kanal “Bung” di dunia maya kecil saya ini. Sekedar menjadi dialog imajiner dari pikiran-pikiran yang berlari makin kencang di kepala saya. Ya, daripada semuanya hanya berakhir menjadi melankolia saja. Belakangan tulisan-tulisan saya disini cuma berakhir sebagai melankolia tantrum entah saya sematkan di topeng orang pertama, kedua atau ketiga. Mungkin dengan begini rasanya akan lebih sehat.

Lalu Bung yang mana? Bung yang serupa puzzle, yang paling bisa mengerti saya dari otak-hati lalu saat ini hilang begitu saja? Bung yang seniman tempat saya berbicara hal-hal kecil, yang bahkan tak mengenal siapa Mbah Pram, Tan Malaka, Seno Gumira tetapi garis-garis gambarnya terasa begitu kuat dan menyimpan pikiran yang tak terbahasakan? Bung yang kemarin menyanyikan lagu yang manis buat saya? Bung yang ketika bersama saya langsung menjadi sosok kebalikan dari sehari-harinya yang menunjukkan sisi hangat dan lembutnya? Bung yang diseberang lautan yang sangat saya ingin telanjangi pikiran-pikirannya karena tulisan-tulisan di blog pribadinya dan di kanal opini kiri itu begitu menarik? Bung yang belum sempat saya kenal? Atau bahkan Bung yang kamu? Ah, saya tak tahu dan saya tak peduli. Belakangan saya cuma sedikit iri dengan Emma Goldman yang memiliki Alexander Berkman ataupun Aung San Suu Kyi yang memiliki Michael Aris. Sepertinya menenangkan saja kalau ada yang bisa jadi pembenturan pikiran.

Ah, maaf saya melamun di siang bolong, Bung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 5, 2014 by in Bung.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: