aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sonder-Suwung-Surreal

Who and what am I? My answer: I am the sum total of everything that went before me, of all I have been seen done, of everything done-to-me. I am everyone everything whose being-in-the-world affected was affected by mine. I am anything that happens after I’ve gone which would not have happened if I had not come. Nor am I particularly exceptional in this matter; each “I,” every one of the now-six-hundred-million-plus of us, contains a similar multitude. I repeat for the last time: to understand me, you’ll have to swallow a world – Salman Rushdie in Midnight Children

Lelaki itu berjalan sendirian sambil membawa kawat berbentuk lingkaran dan botol berisikan sabun cair. Di tempat-tempat tertentu ia berhenti lalu meniup kawat berbentuk lingkaran itu. Ia meniupnya menjadi gelembung sabun terbesar di dunia. Ia kurung orang-orang, pohon-pohon, rumah-rumah, mobil-mobil dan setiap objek yang ditemuinya. Bahkan kalau mau ia bisa mengurung dunia dalam membran tipis gelembung sabun itu.

Baginya tiap orang hidup dalam gelembung sabunnya sendiri. Membran tipis yang membatasi orang-orang itu antara dirinya dan dunianya, antara realita yang dia pahami dan dunia yang sebenarnya. Baginya tiap orang mengurung dan membatasi dunianya agar mereka merasa aman, Dengan tidak mengetahui apa-apa mereka lebih bahagia. Makanya lelaki itu meniupkan gelembung-gelembung sabun ke orang-orang itu. Biar mereka hidup biasa-biasa dan aman-aman saja, begitu pikirnya.

Lelaki itu bisa menjadi makhluk paling nyata di muka dunia ini. Telah ia pahami pelintiran realita dan persepsi yang ada di kepalanya. Telah ia hancurkan sedikit demi sedikit tiap realita di kepala dan membangunnya kembali– untuk menyimpulkan mana yang benar-benar nyata.

Sayangnya lelaki itu masih hidup di kepalanya sendiri. Kepalanya jadi begitu besar, tak mampu lagi membendung tiap pikir yang bersarang di kepalanya. Kepalanya terlalu besar untuk badannya sendiri. Maka tangannya tak pernah cukup untuk menggapai apa yang ingin ia gapai, kakinya tak cukup untuk melangkahi tempat yang ingin ia datangi. Akhirnya ia hidup sendiri, bersarang di kepalanya sendiri. Ia terombang-ambing dalam nyata dan fana. Ia tak ada sekaligus ada. Ia ingin menelan dunia untuk bisa memahami lebih, untuk membuktikan ide-ide di kepalanya. Sayangnya ia tak sanggup, tak akan pernah sanggup dan ia tahu betul hal itu.

Maka lelaki itu akhirnya hanya bisa terduduk diantara trotoar jalanan. Memperhatikan membran tipis sabun yang telah ia tiupkan kepada tiap objek di seluruh dunia. Ia menghindar, menepi, menyepi, membusuk dalam lamunannya sendiri bersama berbatang-batang rokok dan kehidupan lain di dalam kepalanya.

Lelaki itu selalu sendirian dalam keramaian. Hatinya adalah tembok-tembok yang tak dapat dihancurkan. Pikirannya adalah puzzle dan labirin yang rumit. Ia menghindar, menepi, menyepi, membusuk dalam pikirannya sendiri. Ah, bagaimanapun juga ternyata ia harus bertahan hidup. Bagaimanapun juga ia harus belajar membendakan abstraksi-abstraksi pikirannya. Bagaimanapun juga ia harus belajar meng-ada. Ia tahu ia harus berhenti merasa kosong, merasa suwung, menjadi tak berguna karena pikiran-pikirannya lebih besar daripada yang dicapai tangan dan kakinya.

Aku melihatnya lagi malam itu. Dia yang mengindar, menepi, menyepi dan membusuk dalam lamunannya. Dia yang teralienasi karena realita di pikirannya. Dia yang kulihat di tiap puisi-puisi Arthur Rimbaud. Dia yang kulihat di dalam kenihilan Nietzsche. Dia yang kulihat diantara gerak-gerak pembebasan sejarah peradaban manusia. Dia yang kulihat diantara senja. Dia yang kulihat diantara bulan separuh. Dia yang kuhirup di tiap lembaran buku-buku yang selalu punya wangi yang khas. Dia yang kulihat ketika aku bercermin. Dia yang kulihat di dalam persamaan kompleksitas. Dia yang kulihat diantara manusia-manusia yang belajar bebas.

Dia yang dia. Dia yang aku. Dia yang mereka. Dia yang membenda. Dia yang sederhana sekaligus kompleks. Dia yang ada dan juga tiada. Dia yang masih menghindar, menepi dan menyepi—- kali ini semoga tak membusuk lagi.

—-

Sonder n. the realization that each random passerby is living a life as vivid and complex as your own — populated with their own ambitions, friends, routines, worries and inherited craziness — an epic story that continues invisibly around you like an anthill sprawling deep underground, with elaborate passageways to thousands of other lives that you’ll never know existed, in which you might appear onl once, as an extra sipping coffee in the background, as a blur of traffic passing on the highway, as a lighted window at duks.

sur·re·al adjective \sə-ˈrē(-ə)l alsoˈrā-əl\ : very strange or unusual : having the quality of a dream

suwung : keadaan tanpa ada apa-apa. tiada tapi ada, ada tapi tiada (bahasa jawa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 23, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: