aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

dua puluh tiga

Why explore the universe when we don’t know ourselves? There’s an emptiness inside our heads that no one dares to dwell.

 

Seekor bocah terdampar dalam realita di kepalanya sendiri. Entah sejak kapan sorot matanya tak sama lagi. Lalu dia berkelana mencari sebab pertama. Dia terdampar. Dia tersesat. Dia hilang. Dia buta. Dia terikat. Dia mati rasa. Dia mati. Dia hidup. Dia berenang ketepian. Dia melawan arus. Dia berjalan. Dia mencari kesementaraan. Dia ada. Dia hilang lagi. Dia tersesat lagi. Dia ada lagi. Begitu kurang lebih siklus yang terus menerus dijalaninya. Sedang sebab pertama tak kunjung ditemukannya.

Sorot matanya tak lagi sama sejak belasan lalu. Sorot yang hanya ditunjukkannya ketika ia sendirian atau bersama teman-teman dekatnya saja. Dia berjalan tanpa kaki. Melayang-layang saja. Tapi tak kunjung juga memilih akan menetap di langit atau di bumi.

Tapi manusia tak serta merta muncul dari langit. Manusia adalah fungsi matematis dengan kompleksitas yang indah. Manusia adalah dialektika dari kehidupannya. Maka bocah itu berkali-kali menghancurkan-membangun dirinya sendiri. Sebuah tindakan yang cenderung masokis sebenarnya. Tapi dia telah memahami filosofi Syiwa dari lama. Syiwa bukanlah dewa penghancur, justru Syiwa adalah dewa paling baik. Sebab dari tiap kehancuran bocah itu semakin memahami dirinya dan hidupnya sendiri. Ini menjadi candu yang lain baginya. Makanya bocah itu tak pernah membiarkan siapapun terlalu dekat. Menghancurkan dan dihancurkan hanyalah perkara waktu saja. Maka ia cenderung mencintai dengan platonik.

Umurnya sekarang dua puluh tiga. Tapi jiwanya mungkin serupa dengan orang tua. Kali pertama ketika ia jatuh cinta dengan filsafat ketika ia berumur tiga belas tahun. Tapi filsafat baginya bukanlah seperti ilmu kalkulus yang ia pelajari dengan duduk di kelas dan mendengarkan si guru mengajarkan. Filsafat baginya adalah semacam bahasa. Sungguh sangat menenangkan menemukan orang-orang sepemikiran, seperasaan ; yang berasal dari ruang, waktu dan dialektika hidup berbeda tapi menarik kesimpulan sewarna. Belakangan baru ia sadari, inilah yang bernama ilmu huduri. Umurnya sekarang dua puluh tiga, tapi kecamuk dalam hati dan pikirannya, apa-apa yang sedang dan telah dilakukannya serupa pula dengan apa-apa yang sempat dilakukan Sartre, Nietzsche, Heidegger di umur yang jauh lebih tua daripadanya… bahkan sisi-sisi terkelam mereka sekalipun.

Ia bertanya, kenapa dunianya berotasi dengan cara yang berbeda? kenapa waktu di dunianya bergerak dengan cara berbeda? kenapa dia melihat hal-hal yang tak terlihat? kenapa prinsipnya jadi begitu berbeda? Kenapa akhirnya pengetahuan dan pemikirannya menjadikannya menjadi sebentuk alien? Dia bertanya hingga bumi disekitarnya berputar-putar dalam spiral hingga tak membentuk. Sedang pertanyaan di kepalanya tak dapat terbendung.

Tapi ia juga belajar tentang cinta. Tentang kasih dan kehangatan yang langka dirasakannya. Tentang menjadi hidup dan menjadi manusia. Tentang mengalahkan diri sendiri. Tentang mencintai setiap elemen dalam hidupnya walaupun cuma setitik debu. Tentang menjadi idealis dan mempertaruhkan segalanya. Tentang mengaduk semen abstraksi pikirannya lalu membangunnya dalam benda-benda nyata. Tentang bersabar. Tentang tulus. Tentang ikhlas. Tentang hidup yang bebas. Hidup yang tak butuh afirmasi apa-apa.

Ah, ia masih berjalan untuk selesai dengan dirinya sendiri. Setelah itu, baru kamu boleh masuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 10, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: