aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Get A Star And Kill Her

Segala sesuatu yang sudah tidak memenuhi fungsinya bisa disebut sampah. Tapi benda mana pula diseluruh semesta ini yang tidak memilik kemampuan menyampah? Sama seperti tiap makna yang bagi Derrida cuma mengada, begitupun wanita itu. Wanita itu cuma mengada sebagai manusia, cuma mengada sebagai bagian dari jejaring kehidupan, cuma mengada sebagai fungsi semesta.

Ya, baginya semesta –termasuk dirinya sendiri adalah fungsi matematis. Ia selalu menyukai matematika. Ia mencintai cara matematika meraba–mendefinisikan setiap variabel dalam semesta, membaca keterkaitan tiap variabelnya kemudian membahasakannya dalam sebuah fungsi. Ia, sampai kondisi paling nihilnya saat ini, selalu bisa dibuat berdecak kagum oleh sebuah jejaring bernama kehidupan. 

Baginya matematika adalah seni. Seni yang disebutnya sangat cantik ketika sebuah fungsi yang sangat kompleks terbahasakan dengan sederhana. Sungguh baginya kesederhanaan adalah sebuah puncak pemahaman atas kompleksitas. Maka ia kerap kali juga mengutuki sebait puisi Sapardi yang selalu menggodanya untuk mencintai dengan sederhana. Bah, kesedarhanaan adalah puncak pemahaman, ia tak bisa dilakukan secara langsung, kesederhanaan adalah sebuah bukit dari gunung kesadaran! begitu pikirnya.

Sebagai sebuah fungsi, ia pun meraba tiap-tiap jarak yang menjadikannya bernilai. Tiap satu langkah kehidupan memberikannya nilai, kadang positif, kadang negatif, tapi tak jarang pula yang ia dapati kekosongan. Kali ini kekosongannya terlalu lama. Ia cubiti dirinya berkali-kali, Tak jarang pula ia sangat tertarik untuk bermain-main dengan pisau dan api, untuk memberikannya pengingat rasa sakit dan pedih. Ah, terbiasa dengan kepedihan telah menjadikannya mati rasa. Kemampuannya menahan rasa sakit telah melebihi kebanyakan orang. Yang ia rasakan cuma mati rasa saja.

Padahal rasa adalah yang membuktikannya sebagai manusia. Perwujudan dari sebuah fungsi yang bernilai, yang mampu merespon tiap kondisi eksternal yang dipetakan dengan fungsi tersebut. Ia tak lagi sangat senang, sangat sedih, sangat kecewa, sangat marah. Bahkan ia tak lagi merasakan apa-apa.

Tapi tiap benda memiliki kemampuan mengada, yang memberikannya sebuah makna sebagai “ada” di detik ini. Ada adalah sebuah cipta, sebuah interaksi suatu objek dengan semestanya, sebuah aksi yang menghasilkan reaksi lainnya. Tapi apakah absensi sebuah ke-ada-an adalah bentuk meng-ada juga? Apakah ketidakmampuannya memanifestasikan tiap aksi yang diterimanya tetap menjadikannya manusia? Ataukah ketidakmampuannya meng-ada saat ini menjadikannya lagi-lagi tak berfungsi normal sebagai manusia? Menguburnya dalam penjara kenihilan? Apakah itu berarti dirinya telah menjadi sampah?

Ah, semoga ada bom atom yang menghancurkan bumi, sehingga ia dan bumi melebur menjadi debu-debu bintang diluar angkasa saja. Semesta yang setara dengan debu. Indah.

2 comments on “Get A Star And Kill Her

  1. ari
    July 26, 2014

    Salam kenal,…
    Gaya bhs nya bagus mba’, buat pembaca tdk bosan,….
    Klo di ijinkan, bisa minta alamat FB nya mba’,…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 16, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: