aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Berhala

Jika Ibrahim hidup pada tahun 2014, mungkin ia akan menjelma seorang anarko. Ibrahim di tahun 2014 mungkin akan menghancurkan handphone, televisi, membunuh tiap personil JKT48 dan sejenisnya. Mungkin juga Ibrahim akan membakar tiap mesjid, gereja atau kuil peribadatan yang ditemuinya.

Jika Isa hidup pada tahun 2014, mungkin ia akan menjelma seorang sosialis sejati. Tiap benda yang ia miliki akan diperuntukkan untuk orang lain. Tak akan rela ia melihat orang-orang kelaparan di Afrika sana. Ia mungkin akan menjelma menjadi pejuang kemanusiaan.

Jika Muhammad hidup pada tahun 2014, mungkin ia akan menjadi seorang atheist. Mungkin yang pertama ia lakukan adalah mengingkari Islam yang secara praksis digunakan untuk kepentingan politik dan ijin untuk membunuh manusia lain atas nama iman yang bertentangan. Mungkin Muhammad akan melakukan hal yang serupa Nietzsche lakukan: membunuh Tuhan. Sebab atas nama Tuhan segala hal jadi halal. Manusia tak lagi dipandang setara dengan manusia lainnya. Sebab manusia ditumbuhkan dalam sekat-sekat agama, suku bangsa dan negara untuk pada akhirnya membela kebenaran yang jadi milik golongannya. Muhammad mungkin akan membunuh Tuhan, sebab Tuhan telah kita salah gunakan.

Di tahun 2014, bentuk fisik dan bukan fungsi yang menyatakan suatu hal ada. Pada akhirnya hidup kita kita jadikan berhala. Pada akhirnya Tuhanpun kita jadikan berhala. Sebab Tauhid kita bengkok, tak lagi lurus menyerupai huruf alif. Tak lagi sederhana menyerupai titik di huruf Ba. Tuhan, agama dan benda-benda yang sebenarnya sederhana kita jadikan kompleks dan tak kita gunakan dari pikiran menuju perbuatan. Benda-benda itu hidup bukan menyokong fungsi manusia yang sesungguhnya, melainkan termanusiakan tanpa manusia. Mereka menjadi berhala yang tertuhankan tanpa Tuhan.

Sebab pada akhirnya semua berujung pada adab. Adab manusia terhadap semua sisi yang dapat didefinisikannya. Terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, terhadap alam, terhadap yang hidup ataupun tak hidup, terhadap seonggok tai sekalipun. Pada akhirnya adalah bagaimana kita hidup yang memperlurus tauhid kita—bagaimana kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Ecce Homo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 7, 2014 by in Prosa.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: