aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kemelekatan Pertama

Saya yang sekarang menyadari kenikmatan menjadi manusia adalah bisa merasakan berbagai macam rasa, bisa berempati dan bersedih hati, bisa tertawa terbahak-bahak tanpa paksaan, bisa jujur sepenuhnya terhadap perasaan-perasaan sendiri dan berbagai reaksi yang timbul dari dalam diri ketika berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang. Tapi ironisnya, saya yang sekarang juga menyadari bahwa menjadi manusia adalah salah satu hal paling sulit. Bisa ada ratusan orang yang saya jumpai tiap harinya dan saya cuma bisa mengira-ngira di kepala berapa banyak yang menjadi manusia atau menjadi zombie saja. Maka, sering pula saya dapati diri saya sendirian ditengah kerumunan “manusia”. Semakin kesini hubungan antar individu rasanya menjadi semakin hambar seiring semakin dinginnya hubungan antar “manusia”.

Maka mempertahankan kewarasan adalah tantangan lainnya bagi saya. Akhirnya saya bongkar semua dinding realita yang ada. Segala hal saya dekonstruksi untuk akhirnya saya konstruksi lagi. Sekilas memang terasa sia-sia, tapi ternyata tidak. Persis seperti setelah travelling lalu kembali ke kota asal, mata saya tidak memandang batu yang itu sebagai batu yang dulu lagi. Ya, dekonstruksi bagi saya menjadi salah satu cara untuk melakukan travelling ke dalam diri sendiri. Toh destinasi pada dasarnya bukanlah sekedar tempat, melainkan mata yang baru dalam memandang sesuatu. Ya, benda atau siapapun di semesta ini mempunyai kelebaran dan kedalaman sendiri. Semakin saya melakukan perjalanan, semakin lebar dan dalam pula benda atau kejadian yang sebenarnya biasa-biasa saja. Mungkin ini pula sebab ada ungkapan bahwa akhir dari tasawuf adalah adab juga, adab kita terhadap semesta yang jadi berbeda setelah kita melakukan perjalanan.

Semakin saya menyadari keterasingan saya di dalam keramaian, semakin pula saya mengutuki ruang dan waktu yang ini. Saya cuma merasa, saya yang ini sudah tidak muat lagi berada di ruang dan waktu yang ini. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya membentuk ruang dan waktu sendiri. Ya, Einstein memang benar, ruang dan waktu adalah relatif secara fisik maupun secara psikis. Akhirnya saya membangun dunia utopia saya sendiri dimana tak lagi ada hal asing atau sepi yang menajam menjadi seribu jarum dan menusuk tubuh saya secara bersamaan. Ada dunia utopia tempat saya dan hal-hal yang membuat saya nyaman—dan tak ada  yang boleh tahu ruangan yang sangat pribadi ini.

Foucault mempunyai konsep tentang cermin sebagai ruang utopia, yakni bahwa ruang di dalam cermin yang secara fisik tidak ada, tetap saja eksis sebagai ruang manusia, karena hanya melalui cermin itulah manusia melihat dirinya sendiri secara utuh. Jadi, utopia  Foucault bukanlah utopia khayalan seperti utopianya Plato. Utopia Foucault adalah utopia yang ada secara eksistensial, yang meski tak ada secara faktual, tetap hadir  sebagai makna aktual. Dan inilah utopia saya tanpa orang-orang asing, dimana masa lalu, kini dan depan melebur menjadi satu, dimana ruang dibelahan dunia manapun melebur juga menjadi satu. Kita tak perlu bertemu untuk bisa “bertemu”. 

Sebab ruang dan waktu adalah keterikatan pertama para “manusia” yang kini menjelma zombie.

Sebab kita adalah manusia bebas yang tak membutuhkan ruang dan waktu fisik untuk bertamu, sebelum bertamu kita sudah bertemu di ruang utopia masing-masing.

Kita manusia bebas yang mengecap madu kebebasan sesungguhnya adalah rasa pahit yang kita konsumsi terus menerus hingga rasa pahit berubah menjadi manis.

Kita cuma manusia biasa yang ingin tetap menjadi manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 1, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: