aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kuda Kota

Kuda tak seharusnya ada di jalanan kota besar, apalagi lebih dari satu kuda. Kota besar bukanlah rumah bagi para kuda. Tempat kuda berada adalah padang rumput luas membentang, tempatnya bisa mengafirmasi keberadaannya sebagai kuda dengan cara lari sekencang-kencangnya di padang tanpa rintang dan meringkik hingga ke ujung tenggorakan.

Jalan raya bukanlah tempat bagi para kuda. Mata mereka ditutup agar tak rasakan bahaya mengancam dari sekitar. Kaki mereka dipaku dengan tapal agar mereka mampu melalui aspal perkotaan. Bokong mereka dicap, hingga ada penanda, bahwa mereka tak bebas, mereka adalah milik seseorang.

Para kuda di kota harus terbiasa untuk menahan dorongan mereka menjadi liar, mengkhianati diagram maslow mereka sendiri untuk tak pernah mencapai puncak paling atas, mengaktualisasikan diri menjadi kuda yang sesungguhnya. Para kuda di kota harus patuh. Patuh pada tiap pecut. Patuh pada arahan dari otoritas yang memaksa mereka untuk rela membudaki diri mereka. Para kuda di kota harus rela direkayasa, agar mereka bisa teratur, realita yang boleh dipandang mereka mesti dibatasi. Mereka tak boleh jadi liar. Bahkan, mereka tak boleh mengetahui hasrat paling liar—sekaligus paling biasa – untuk menjadi kuda yang bebas, bebas merdeka atas segala bahkan atas dirinya sendiri tanpa otoritas apapun yang mengatur, bebas melihat segala realita yang terpampang, bebas berlari dan meringkik di padang rumput.

Tapi inilah kuda kota. Di minggu sore ini mereka harus patuh saja. Melangkah tanpa berlari lalu bergabung bersama asap knalpot dan klakson kendaraan-kendaraan lain. Mereka dilarang berlari, dilarang meringkik, dilarang melihat keseluruhan realita, harus menerima bahwa mereka dimiliki orang lain, tak bebas menentukan arahnya sendiri, mengkhianati diagram maslow teratas mereka.

Ah, para kuda ini membuat saya menangis dalam diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 25, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: