aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sebuah Siklus Bernama Kesadaran

Mari kita kumpulkan benang demi benang yang berserakan untuk kemudian kita tenun menjadi kain. Lalu kita kumpulkan kain demi kain untuk kemudian kita jadikan kafan. Lalu itu kafan kita jahit selembar demi selembar hingga akhirnya menutupi seisi bumi dan menghalangi kita dari sinar matahari.

Kita yang hanya berdiri menenggelamkan diri dalam sunyi dan ratap meratapi tiap kejadian yang membekas menjadi luka ibu bumi akan sirna. Kita yang menyetubuhi kehilangan akan berhenti merengek meminta Jibril turun dan memberikan es krim vanilla sampil membisikkan wahyu ke telinga kita. Apalah arti sebuah wahyu jikalau wahyu hanya menyerupa sebuah afirmasi yang kita butuhkan atas kebenaran?

Maka biarkan saja bumi gelap seketika karena kafan yang kita selimuti. Kalau perlu mari kita teteskan darah kita setetes demi setetes di atas kain kafan itu. Hingga merah darah memekat menjadi hitam, hingga itu kafan jadi selubung yang memisahkan kita dari cahaya.

Yang hendak mencipta akan mencipta sekalipun hanya gelap yang menerangi. Yang akan mencinta akan tetap mencinta sekalipun sekujur tubuhnya terluka. Yang gila tetap akan menggila sekalipun ia masuk pada ruang realita tempatnya bisa berteriak “Saya tak lagi gila! Saya sudah waras!”

Sebab kesadaran adalah sebuah siklus yang membuat kita mengumpulkan benang-benang, memintalnya menjadi kafan, menjahit tiap kafan dan meneteskan darah hingga menghitam itu kafan. Sebab kesadaran adalah sebuah siklus yang akhirnya membuat kita mencabik-cabik itu kafan untuk mencari cahaya lalu memakai rombengannya untuk menutup kemaluan–sekedar untuk masuk ke dalam barisan si waras. Sebab kesadaran adalah sebuah siklus yang membawa kita menjauh dari jalan pulang hanya untuk menemukan sebenarnya kita tak pernah kemana-mana dan jalan pulang tak pernah benar-benar dibutuhkan.

Sebab kesadaran adalah sebuah siklus dimana kita sadari afirmasi tentang kebenaran hanyalah sebuah usaha untuk membajukan Tuhan. Tuhan yang kita hias dengan bunga-bungaan, Tuhan yang kita hias dengan darah dan kekuasaan, Tuhan yang kita peralat mengafirmasi kebenaran yang kita anggap.

Pada akhirnya kitalah yang membutakan mata, menulikan telinga, membisukan mulut, melumpuhkan tangan dan kaki, melumpuhkan indera penciuman. Hingga akhirnya kita lihat apa yang hanya kita ingin lihat, dengar yang ingin dengar, bicarakan yang ingin kita bicarakan, membaui apa yang ingin kita baui, merasakan yang ingin kita rasakan. Hingga akhirnya kita membunuh Tuhan lalu kita tertawa HAHAHA! sambil berteriak “Telah saya temukan Tuhan! Lihatlah kesini saudara-saudara… dia ada di dalam kitab yang pasti benar ini. Saudara-saudara celaka bila tidak aminkan hal ini!”.

Pada akhirnya Kesadaran memang sebuah siklus, yang kita hentikan karena kita mengafirmasi kebenaran. — Biar saja pelangi menjadi merah-kuning-hijau…. tak usah sadari spektrum-spektrum warnanya….. tak usah cari kebenaran lagi darinya.. merah-kuning-hijau sudah cukup! “Apa katamu? Pelangi punya 7 warna? Gila kamu! Kamilah orang-orang yang sadar! Pelangi cuma ada dua warna” demikian katamu.

Pada akhirnya kesadaran memang sebuah siklus, bagi orang yang cukup gila untuk hidup sendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 16, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: