aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Trek Lari Terpanjang Sejagad Raya

Konon, diantara semua manusia di jagad raya ini, wanita inilah yang tau paling tau ujung jagad raya. Dia selalu berlari kecil dalam tiap keadaan. Tiap hujan, tiap terang, tiap mendung, tiap salju dia selalu berlari. Tiap pagi, tiap siang, tiap malam, dia selalu berlari. Sering pula ia tidur sambil berlari. Di atas tanah, di atas rumput, diatas aspal, mendaki gunung dan bahkan diatas laut dia juga berlari. Pokoknya wanita ini selalu berlari. Suatu ketika ada penjual es cendol yang bertanya padanya kenapa ia berlari, wanita itu cuma mengambil bungkusan es cendolnya sembari memberikan uang limaribuan kepada si penjual, ia menjawab sambil kembali bersiap berlari “Aku mau keujung jagad raya” katanya.

Entah sejak kapan wanita ini mulai berlari menuju ujung jagad raya tak pernah ada yang tahu. Orang bilang dulu ketika masih kecil dia seperti anak-anak lainnya. Hingga suatu saat ayahnya mengambil sepatunya dan ibunya mengambil topinya, mereka berdua sejak itu menghilang lalu berkata topi dan sepatunya diletakkan di sebuah lemari di ujung jagad raya. Sejak itulah wanita itu mulai berlari, ia berlari tanpa sepatu melindungi kakinya dari duri dan beling dan tanpa topi melindungi dirinya dari panas, angin, hujan atau salju. Perlahan wanita itu menjadi semakin terbiasa terus berlari tanpa sepatu dan topi. Lama-lama ia jadi kebal pada luka beling, paku dan kerikil tajam yang diinjaknya dijalanan. Terkadang malah wanita itu iseng pula menginjak beling, sekedar untuk mengecek apakah kakinya masih luka? apakah ia masih merasakan sakit? apakah ia masih peduli pada darah? apakah dia masih hidup?. Tak jarang ia mengecek berkali-kali sampai telapak kakinya penuh luka, entah apa yang dia pastikan.

Sudah 15 tahun ia berlari tanpa henti sejak saat itu. Ditengah larinya dia menemukan kawan pada senja, pada rembulan, pada fajar, pada segala benda yang ada di langit. Tak jarang dia berpikir cara untuk bisa menggapai titik-titik terang berkilauan diatas kepalanya itu. Sebab dikala malam sedang gelap-gelapnya, adalah bintang dan bulan yang menjadi penanda arah baginya. Ah, ia merasakan kedekatan sendiri pada langit. Terkadang ia berpikir, lemari tempat ibu dan ayahnya menyembunyikan sepatu dan topinya itu  ada diantara bintang-bintang yang diam-diam menemaninya saat gelap itu.

Maka suatu kali wanita itu berlari mendaki gunung paling tinggi sebumi ini. Ia mendaki himalaya sendirian! rencananya ia ingin melompat dari puncak himalaya ke rembulan yang rasanya cuma berjarak satu jengkal dari kepalanya itu. Nanti, jika ia telah mencapai rembulan, ia akan melompat ke bintang dan planet yang lain.

Ia telah menyiapkan segalanya. Ia menyiapkan kesendiriannya. Ketika sampai di puncak himalaya, ia mengambil kuda-kuda untuk melompat. Perasaannya bercampur aduk. Ia coba latihan melompat. Dalam lompatan pertama rupanya rembulan tersentuh oleh ujung jarinya, sekilas ia melihat lemari itu disana. Tapi akhirnya ia terdiam, berpikir sedalam-dalamnya. Ia memikirkan kembali apakah sepatu dan topi itu yang benar-benar ia inginkan? Bagaimanapun kaki dan kepalanya sekarang sudah bisa tahan tanpa sepatu dan topi. Apakah ia harus memakai sepatu dan topi seperti manusia lainnya? 

Tapi pada akhinya dia melompat juga. Pada lompatan ke 8 akhirnya dia sampai di bulan, bulan yang dari dekat sangat bopeng tapi dari jauh sangat indah, persis seperti manusia pikirnya. Ternyata lemari yang dilihatnya itu hanyalah pantulan di cermin saja, memang dia bisa melihat ada topi dan sepatu yang disembunyikan orang tuanya dulu, tapi itu ternyata cuma cermin saja,  bukan benda sebenarnya. Tapi entah kenapa ia tak kecewa, ia malah jadi lega, mungkin ia setengah berharap bahwa sepatu dan topi itu tak pernah ada, cuma ilusi saja. Sejauh ini dia bisa bertahan beginii, tak perlu pula rasanya memakai sepatu atau topi.

Ia meraba cermin itu, sambil menangkap sebuah ketakutan sendiri di dasar hatinya. Ah, rupa-rupanya dia takut memkai sepatu dan topi. Dia takut kakinya malah jadi lemah karena ada yang melindungi. ” Sudahlah, memang lebih baik begini saja” begitu batinnya. Dan seketika cermin yang dirabanya berubah menjadi sebuah lubang hitam yang perlahan menyedot semua yang disekelilingnya.

Tapi bukan wanita itu yang terlebih dahulu disedot oleh lubang hitam itu padahal wanita itu ada di depannya, aneh sekali bukan. Wanita itu melihat bumi pertama kali tersedot ke dalamnya, lalu menyusul bintang-bintang dan planet lain ikut masuk ke dalamnya, tapi tidak wanita itu. Hingga akhirnya setelah semua planet dan bintang tersedot ke dalamnya,, bulan yang diinjak wanita itu ikut tersedot. Akhirnya cuma ada wanita itu, lubang hitam dan matahari, cuma tersisa mereka bertiga di jagad raya. 

Tapi wanita itu tak marah kepada lubang hitam. Pada awalnya dia tidak pernah memiliki apa-apa. Tidak sepatu dan topi yang dipakai semua orang di dunia untuk melindungi diri mereka. Pada akhirnya dia merasa tidak terikat apa-apa, dunia hilangpun tak mengapa, Ia tak pernah memiliki apa-apa, ia tak akan kehilangan apa-apa.

Dan seketika setelah pikiran itu berlari di dalam kepalanya si lubang hitam menyedot matahari. maka tinggallah si wanita itu bersama lubang hitam di depannya. Wanita dan lubang hitam itu diselubungi kegelapan abadi, kegelapan maksimum yang bisa diberikan semesta. Ah, bahkan dimalam-malam tergelapnya ketika berlari ia masih ditemani bulan dan bintang. Ah, kalau manusia lain mungkin sudah mati atau bunuh diri dalam kegelapan maksimal itu.

Tapi tidak wanita itu, ia tetap teguh dalam kegelapannya. Ia biarkan tubuhnya melayang-layang dalam kegelapan total, sementara diujung jarinya masih ia rasakan lubang hitam itu menyentuhnya. Ya, wanita itu lebih memilih hidup sendirian mengambang ke dalam ketiadaan daripada masuk ke dalam lubang hitam itu. Kesendirian bukan masalah lagi bagi wanita itu, sekalipun kesenderian adalah hal yang paling mematikan manusia-manusia di dunianya. Tak sudi ia mengambil keemungkinan-kemungkinan bahwa ketika ia masuk lubang hitam itu ia akan menemukan semestanya yang lama, bintang, bulan, matahari, es cendol dan bahkan mungkin sepatu dan topinya. Ia tetap tak bergerak.

Akhirnya ia menerima saja. Ya, ia tutup matanya, ia tarik lepas ujung jarinya dari lubang hitam yang telah menelan jagad rayanya itu. Ia rangkul lubang hitam itu, ia belai, ia kecup, ia bisikkan kata cinta, ia utarakan kasih dan permintaan maafnya kepada lubang hitam itu. Lalu semua ia lepas. Ia lepas saja tanpa melawan, tanpa berlari, tanpa merasa bahwa kakinya spesial bisa menahan luka tanpa pelindung apapun, tanpa merencanakan kemana ia akan pergi ia mengambang saja, ia biarkan kegelapan total yang telah ia kecup, sayang dan terima itu membawanya entah kemana.

Hingga pada suatu masa ia membuka mata, dan dihadapannya terhadang senja. Senja yang jadi jembatan gelap-terangnya. Ia tak mencari gelap ataupun terang. Sebab ia tahu, berada di depan senja berarti menggandeng gelap dan terang dalam semestanya. Rupa-rupanya matahari dan planet-planet lainnya telah kembali ke posisinya semula. Wanita itu juga telah kembali ke titik awal mula larinya yang juga ternyata menjadi titik akhirnya. Ya, setelah 15 tahun ini ia rupanya tak kemana-mana sekalipun dia telah berlari keluar-masuk semestanya. Senja telah dihadapannya, gelap-terang berdampingan disisinya. Ah, rupanya kini sepatu dan topi yang disembunyikan ayah ibunya dulu telah melekat pada kaki dan kepalanya. Ah, rupanya ia telah menjalani perjalanan terpanjangnya— antara otak dan hatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 11, 2014 by in Prosa.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: