aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Di Luar Kotak Identitas

Para penggemar kajian sufistik atau yang mengikuti perkembangan filsafat eksistensialisme atau yang menyenangi sastra-sastra pembebasan semacam Tagore, Rilke, Mangunwijaya atau yang menyenangi Psikoanalisis atau yang mendalami Fisika Kuantum dari akarnya akan memahami jebakan sebuah kotak yang kita tinggali dan hidupi– sebuah kotak identitas.

Kaum sufi akan membahasakannya dengan melepaskan aku untuk bisa bertemu Aku, melepaskan baju kefanaan, telanjang seutuhnya, mengenal diri sendiri sehingga bisa mengenal kesejatian. Konsekuensi logis dari proses ini adalah berkenalan dengan diri sendiri, menyadari hal-hal yang paling ‘halus’ dari diri sendiri, menyingkirkan hijab di dalam kalbu yang menghalangi aku dari Aku. Tapi proses perkenalan ini konon tak pernah gampang dan datang dari langit begitu saja. Ada perjalanan yang harus dialami, ada ‘derita’ yang harus dialami untuk mengecap madu pertemuan. Perjalanan yang harus ditempuh sendiri karena jalan dan halangan tiap orang tak pernah sama.

Para sastrawan pembebasan akan membahasakannya dengan perbudakan yang terjadi. Entah perbudakan diri kepada diri sendiri, diri sendiri-masyarakat, hingga dalam lingkup negara ataupun dunia. Bagi saya, para sastrawan ini membawa saya masuk ke dunia ‘tanpa dimensi’. Sebuah dunia dimana saya bisa masuk ke kepala dan diri tokoh manapun. Sebuah dunia tanpa doktrinasi benar-salah. Saya ingat sekali kali pertama saya menemukan kumpulan tulisan sastrawan-sastrawan Lekra yang dikompilasi dalam buku “Lekra tidak membakar buku”. Itulah kali pertama saya mendapatkan negasi dari doktrinasi sekolah menengah tentang komunisme. Membaca sastra itu seperti membuka pikiran terhadap segala macam ‘kebenaran’ yang menjadi konstruksi sosial di masyarakat. Bahwa pada kenyataan ‘kebenaran’ adalah sebuah kemelekatan terhadap identitas. Benar pada satu identitas (kaum) belum tentu benar bagi identitas lainnya. Maka, memahami kebenaran adalah melepas identitas sosia-politik-budaya-agama yang telah dilekatkan di badan saya sejak saya lahir dulu.

Ahli Psikoanalisa semacam Sigmun Freud akan membahasakannya dengan pertentangan antara id vs superego dalam menghadapi realitas. Freud membawa saya memahami pertentangan dan perang yang ada dalam diri dalam menghadapi realitas. Satu sisi diri yang realistis dan ‘ingin diterima’ oleh sosial dan diri lain yang memiliki standard moral tertentu. Sedikit banyak hal ini juga sebenarnya diajarkan dalam filsafat kasunyataan Ki Ageng Suryomentaram walaupun dalam dimensi yang lebih dalam dan lebih kompleks.

Yang menyenangi fisika kuantum akan bisa melihat dalam konsep yang paling besar sekaligus yang paling kecil, mengenal sesuatu dari sisi kuantumnya ternyata juga berarti mengenal semesta. Fisika kuantum adalah sebuah dialektika dari identitas diri, mulai dari manusia dan bumi yang seakan-akan adalah pusat dari semesta menjadi sesuatu yang bisa membawa manusia lebih rendah hati dalam menjalani hidup tanpa melihat identitas sosial, budaya, agama sekalipun. Memahami fisika kuantum berarti memahami bahwa satu-satunya kepastian yang ada di dalam semesta adalah ketidakpastian itu sendiri, yang dapat kita ketahui hanyalah probabilitas posisi dan momentumnya saja. Bagaimana mungkin, suatu materi yang dalam fisika klasik selalu dianggap sebagai suatu yang riil ternyata menjadi tidak riil dalam persepsi fisika kuantum. Materi (partikel) dalam mekanika kuantum memang tidak riil, karena ia selalu memiliki sifat gelombang akibat gerakannya, sementara di jagat raya ini tidak ada partikel yang diam mutlak. Dalam fisika kuantum akan kita temui penyangkalan mulai dari identitas terkecil segala yang ada di semesta.

Tapi tiap-tiap penyangkalan dari identitas ini tak pernah gampang diterima, mulai dari Al-Hallaj ataupun Syekh Siti Jenar, Copernicus hingga Einstein tak pernah dapat diterima oleh masyarakat di jamannya. Tapi perihal kebenaran bukanlah perihal aklamasi dari eksistensi, cepat atau lambat, jika kebenaran itu memang berdiri di titik paling objektif, kebenaran itu akan menjadi benar. Sebaliknya jika terjadi dialektika lain dalam pencarian kebenaran hingga hipotesa awal tak lagi berlaku pun tak masalah. Sebab pada akhirnya apa yang kita yakini sebagai kebenaran di saat ini berangkat dari kerangka ruang dan waktu yang ini. Bisa saja dikala saya berkata “benar”, pada (t+1)s kondisi itu sudah tak berlaku lagi. Siapalah kita yang dapat mengklaim kebenaran semesta selamanya?

Tapi kebenaran yang semacam itu saya rasa baru bisa kita pahami jika dan hanya jika kita telah berada di luar kotak identitas. Sejak bertahun-tahun yang lalu saya selalu mengimajinasikan manusia hidup dalam gelembung-gelembungnya masing-masing. Gelembung-gelembung yang yang terbentuk dari lingkungan paling kecil kita di keluarga, kita perbesar dan kita hias dengan pengetahuan, dan dialektika perjalanan kita hingga titik ini. Tapi manusia-manusia yang berada di dalam gelembung itu cenderung merasa gelembungnya itu baik-baik saja dan layak ditinggali. Dikala manusia itu telah mampu untuk melangkah keluar dari gelembungnya, dia akan menyadari gelembungnya itu rusak, banyak tambalan disana-sini dan gelembung tersebut justru menghalangi dirinya dari kenyataan di sekitarnya.

Gelembung itu adalah ‘label’ tersendiri yang tanpa sadar kita sematkan ke diri kita. Hingga pada akhirnya yang kita hidupi adalah label itu sendiri dan perlahan kita kehilangan diri kita sendiri. Tapi memahami dan mengakui segala sisi yang ada di gelembung itu bukan perkara gampang, ada sisi-sisi diri yang harus dikalahkan, dan ternyata mengalahkan diri sendiri tak pernah mudah.

Hingga akhirnya si saya bukanlah label yang disematkan dengan atau tidak sadar. Si saya adalah utara dan selatan sekaligus, kanan dan kiri sekaligus, baik dan buruk sekaligus — si saya adalah setiap identitas dan sekaligus kematian tiap identitas– si saya berada di dalam sekaligus diluar kotak identitas — bebas

8 comments on “Di Luar Kotak Identitas

  1. rousyan
    March 17, 2014

    Tapi saat mengkaji filsafat / sufisme, harus diingat lagi bahwa dia pun hanyalah ikhtiar berpikir.. dan konon dlm sufisme Islam, beberapa aliran memang mewanti pengamalnya untuk mengimbangi pengalaman sufisme dengan mempelajari ilmu fiqh..

    • Septia Agustin
      March 17, 2014

      Yup.. ada yang pernah ngingetin gw.. ujung2nya sufisme adalah perihal adab.. balik ke fiqih atau syariat lagi.. tp tentu dengan rasa yg beda.

      • rousyan
        March 17, 2014

        Yoi. AFAIK Sufisme itu soal “rasa”.. dan ujung2nya emg adab dan pengabdian kepada guru, bukan permainan filsafat theologi.. makanya kalo di kisah wali songo, ada sunan yg disuruh jagain tongkat di pinggir kali a.k.a kalijaga.. bahkan di era modern ini gw masih mendengar org yg cara bergurunya adlh berternak sapi di suatu universitas..

      • Septia Agustin
        March 17, 2014

        Hem…. tp tetep kak jalan subyi yg kudu dilalui sendiri. Anyway, pernah baca kasunyataan ki ageng suryomentaram? Disana ada negasi pernyataan lo diatas, yg soal guru.

      • rousyan
        March 17, 2014

        Gw ga pernah bc buku yg lo maksud sih, tp bbrp buku kasunyatan/makrifat kejawen yg pernah gw baca, memang menyatakan seperti itu.. tp in the end of the day, yg gw yakini, barangsiapa melakukan perjalanan spiritual tanpa guru, maka setan akan menjadi gurunya.. krn bahkan org yg sudah punya guru aja ttp bs dapet kesaktian dr jin putih..

      • Septia Agustin
        March 17, 2014

        hahahaha.. yaudah sih kak… mending yg beginian kita obrolin via japri deh.. gw agak gak sepakat sama statement lo diatas sih.

  2. rousyan
    March 17, 2014

    Hahahaha.. selow aja sep. Ga sepakat jg gapapa, beda itu biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 16, 2014 by in Rekayasa Otak and tagged .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: