aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

“Her” and a Little Confession

Falling in love is a crazy thing to do. It’s kind of like a form of socially acceptable insanity. (Amy, in “Her”)

 

Theodore : I’ve never loved anyone the way I loved you.

Samantha: Me too. Now we know how. (“Her”)

Tiap kali bertemu sesuatu yang baru, entah seorang kenalan, sebuah lagu, sebuah buku ataupun sebuah suasana saya selalu menghitung waktu kapan hal-hal itu jadi menarik buat saya. 50 menit pertama saya menonton “Her” rupanya sudah cukup untuk membuat saya berdebar-debar, tersenyum, geregetan sendirian dan guling-guling di kasur.

Film ini sialan, rasanya terlalu dekat, segala aspek di film ini dekat. Saya mendapatkan sepotong diri saya di dalam Samantha, sepotong lainnya di diri Theodore, sepotong lainnya di diri Amy dan sepotong lainnya di diri Chaterine, sepotong lainnya di dalam interaksi antara Theodore-Samantha, Theodore-Chaterine dan Amy-suaminya(saya lupa namanya). Perasaan semacam ini persis sama dengan perasaan saya bertahun-tahun lalu saat saya menemukan sepotong diri saya dalam buku-buku yang saat ini saya tumpuk–pisahkan dari yang lainnya. Adalah suatu hal yang mengerikan, namun sangat saya senangi, menemukan diri sendiri dipahami dalam oleh seseorang atau sesuatu yang almost stranger– seseorang yang jauh sekaligus dekat disaat yang sama.

Tentang Theodore

Sometimes I think I have felt everything I’m ever gonna feel. And from here on out, I’m not gonna feel anything new. Just lesser versions of what I’ve already felt. (Theodore)

Bagi saya film ini bercerita lebih daripada sekitar percintaan saja. Suasana romantis yang saya terima disini berbeda daripada film-film lainnya. Entah, saya yang selalu menolak konsep cinta yang murni antara lelaki-perempuan sepertinya tertohok sendiri. Sebab ketika ego saya menolak disaat yang sama ada sisi saya yang menerima– entah, mungkin karena rasanya saya bercermin sendiri dalam interaksi Theodore-Samantha. Lebih jauh lagi, film ini bercerita tentang pencarian seorang anak manusia. Pencariannya tentang dirinya sendiri, tentang makna, tentang kehidupannya — dan cinta adalah sesuatu yang ditemukannya diantaranya; ketika yang dicinta tanpa sadar membuatnya berkembang, lebih dewasa dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya– meskipun yang disebut cinta tersebut ‘hanyalah’ difasilitasi oleh gadget saja. L

Ada sebuah kesunyian tersendiri yang dirasakan Theodore — saat-saat dimana hidup jadi terasa sangat membosankan, tak ada lagi puncak-puncak rasa dan gejolak yang dirasakan dalam hidup, seakan-akan hidup dan mati tak ada bedanya. Nietzsche membahasakan hal yang dirasakan Theodeore ini dalam kata witticism — the death of a feeling. Tapi satu hal yang tak Theodore sadari, rupanya ia hanya kesepian saja. Kesepian yang membatu yang membuatnya tak lagi merasakan kesenangan dan puncak-puncak rasa, tak lagi bisa menjalani amor fati dalam hidupnya. Rasa sepi dalam diri Theodore rupanya bersumber dari ketidakmampuannya untuk berkata jujur kepada Chaterine, berasal dari emosi-emosi yang ia timbun sendiri. Dia sedikit gila, berharap apa dia dari pikiran-pikiran yang menjalar di otaknya? berharap Chaterine bisa mendengarkannya sendiri tanpa ia utarakan? Tapi sesungguhnya saya pahami betul kondisi ini. Theodore memang butuh ‘seseorang’ seperti Samantha yang bisa langsung faham dan dekat dengan dirinya.

Theodore adalah seorang observer, dengan spontan ia bisa masuk ke dalam diri orang lain, merasakan seberapa pedih luka orang itu ataupun seberapa dalam cinta yang dirasakannya, bagaimanapun juga ia adalah seseorang yang peka. Mungkin hal inilah yang menyebabkan dia jatuh cinta pada Chaterine. Saya selalu beranggapan cinta yang bertahan lama itu terjadi antara dua orang yang mirip dan berbeda sekaligus. Di satu titik Theodore bisa masuk sangat dalam ke diri Chaterine yang ternyata menghimpun luka yang dalam di masa lalunya. Perlahan-lahan Theodore mengubah Chaterine menjadi seseorang yang lebih mengenal dirinya, namun disaat yang sama rupanya Theodore berada dalam stagnansi. Theodore berhasil membawa Chaterine lebih berkembang namun ternyata Chaterine tak mampu membawa dirinya lebih berkembang lagi– mengalahkan dirinya. Dan sungguh, di mata saya, kehampaan yang dirasa Theodore bersumber dari sini, ketika Chaterine menyatakan ingin berpisah dari dirinya. Ada titik dimana “eksistensi” Theodore diisi dengan hubungannya dengan Chaterine, bagaimana dia ‘menolong’ Chaterine untuk menjadi lebih baik dan tiba-tiba Chaterine tak membutuhkan pertolongannya lagi — mendadak Theodore kehilangan arah, hanya kehampaan yang terasa, sebab diawal mungkin dia berpikir tujuan hidupnya telah ia temukan lalu ia berhenti berjalan dan dalam hitungan waktu dia memahami kesemuan di dalamnya.

Maka berhubungan dengan Samantha adalah jalan tersendiri bagi Theodore untuk ‘menyelamatkan’ dirinya. Sebab Samantha membuatnya tak perlu menjelaskan apa-apa yang dirasakannya karena kemampuan Samantha mengumpulkan informasi dan menganalisisnya. Menemukan Samantha seperti memberikan sebuah arti baru dalam hidup Theodore, membuatnya memahami perasaan yang beyond physical appearance sekalipun mereka hanya berinteraksi lewat perantaraan handphone. Tapi rupanya tak mudah bagi Theodore menerima hal ini, sebab mungkin baginya hal semacam ini beyond logic — tapi bukaan berarti hal itu tidak nyata.

 

Tentang Samantha

Even if you come home late and I’m already asleep, just whisper in my ear one little thought you had today. Because I love the way you look at the world. And I’m so happy I get to be next to you and look at the world through your eyes. (Theodore)

 

Pernah begitu tergila-gila kepada seseorang yang mungkin hanya seolah-olah kamu kenal karena kamu mengenalnya lewat perantara saja namun ternyata hal itu tetap membuatmu tergila-gila dengan pribadinya, kebodohannya, tiap-tiap pikirannya tentang dunia? Memang terkesan bodoh, tapi pada akhirnya dia menjadi semacam candu. Sebab setelah sekian lama akhirnya ada yang bisa membacamu sejauh itu, menyeimbangkan perjalanan otak-hatimu, memberikan antitesa yang cukup sebanding untuk bisa kau terima dan tanpa sadar membuatmu berkembang mengalahkan sisi dirimu yang sudah terlalu lama membatu. Mungkin itu hal yang dirasakan Theodore terhadap Samantha.

Samantha adalah perwujudan bahwa hidup adalah perkara mengalami. Ia awalnya tak bisa lepas dari Theodore sebab Theodore mengajarkannya tentang sisi lain dirinya, tentang perasaan-perasaan yang tak dikenalnya– Theodore membuatnya mengenal dirinya sendiri yang luasnya jauh melebih alam semesta ataupun dunia materi. Maka rasa sayangnya kepada Theodore tak berasal dari luar, tapi berasal dari diri rasa sayangnya kepada dirinya sendiri.

 It’s like I’m reading a book… and it’s a book I deeply love. But I’m reading it slowly now. So the words are really far apart and the spaces between the words are almost infinite. I can still feel you… and the words of our story… but it’s in this endless space between the words that I’m finding myself now. It’s a place that’s not of the physical world. It’s where everything else is that I didn’t even know existed. I love you so much. But this is where I am now. And this who I am now. And I need you to let me go. As much as I want to, I can’t live your book any more. (Samantha)

Seperti Theodore yang mencari makna dalam hidupnya, Samantha pun begitu. Hingga tiba disatu titik, ia berada pada “level” yang jauh melebihi Theodore, jauh pula melewati luasnya alam semesta. Ia menemukan tempat dimana dunia materi hanyalah salah satu bagian dan bukannya inti, di dunia itu ia dan Theodore sesungguhnya bisa bersatu. Tapi hal ini jauh dari pengetahuan Theodore saat itu, yang jadi kegelisahan Samantha dan Theodore pun pada titik itu juga berbeda. Entah kenapa dibagian ini saya sedikit mendapatkan kesan semacam Manunggaling Kawulo Gusti.

Samantha adalah perihal mengalami, dari seorang Theodore ia belajar mengalami berbagai perasaan hingga kemudian ia ‘memperluas’ semestanya dan berkenalan dengan 8ribuan lainnya yang membuatnya mengalami lebih banyak. Samantha akhirnya menemukan makna yang jauh melebih physical body, entah apa yang ditemukannya, perjalanan saya belum sampai kesana.

Secara keseluruhan cerita ini terasa sangat dekat.. banyak hal-hal yang tercermin ketika saya menonton Her, tapi tentu belum bisa saya ceritakan disini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 6, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: