aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Tentang Cinta, Nirsistem dan Orang-Orang Sakit Hati

Hannah Arrendt di dalam The Human Condition (1958) mengatakan bahwa ada dua sifat utama dari tindakan manusia, yaitu unpredictable dan irreversible. Artinya, setiap tindakan manusia yang  dilakukan di dalam ruang publik tidak dapat diramalkan dan tidak dapat diulang dari nol. Maka, untuk mengulangi yang unpredictable tadi manusia membutuhkan janji. Tentu bukan janji yang belakangan dengan mudah kita temui di baliho-baliho di pinggir jalan, pamflet-pamflet yang dipaku ke batang pohon, atau iklan-iklan yang berseliweran di televisi. Janji yang dimaksud disini adalah janji yang keluar dari hati nurani kemanusiaan kita. Dan untuk menanggulangi yang irreversible adalah dengan pengampunan. Hannah Arrendt yang keturunan Yahudi menunjukkannya dengan memaafkan Martin Heidegger, seorang tokoh propaganda Yahudi yang menyatakan sesal atas perbuatannya di masa Nazi dulu.

Tapi sepertinya Pramoedya Ananta Toer  tidak sepakat dengan Hannah Arrendt. Baginya maaf hanyalah sekedar basa-basi saja, begitulah kurang lebih yang saya tangkap dalam surat balasan Pram kepada Goenawan Mohammad atas penolakan maaf Gus Dur kepada Pram yang telah melalui belenggu rezim orde baru. Bagi Pram, bukan maaf yang terpenting, tapi penegakan terhadap sistem yang jelas. Sebab maaf tak akan bisa membawa kembali masa-masa dan kebebasan sekian juta manusia yang telah dijajah oleh orde baru. Maaf yang diutarakan Gus Dur selaku presiden saat itu bagi Pram hanyalah sekedar basa-basi saja jika tidak dilakukan perbaikan terhadap sistem dan penataan hukum.

Demikianlah dua orang dari dua jaman yang beririsan, yang berada pada belahan dunia yang berlainan, yang sama-sama disakiti sistem dijamannya, yang sama-sama sempat sakit hati, kemudian memandang dunianya saat itu dengan kaca mata yang berbeda. Tentulah banyak lagi orang semacam mereka, belum lagi para tahanan di Gulag Archipelago yang mengalami nasib serupa tapi tak sama dengan para tahanan buru. Gerak Jaman adalah sebuah gerak penjajahan. Gerak jaman adalah sebuah gerak kegagalan manusia menata sistem sebagai alat kesejahteraan dan keadilan sosial. Gerak jaman adalah gerak yang menghasilkan orang-orang yang sempat sakit hati. Dan demikianlah jaman didepannya juga ditata dengan basis kesakithatian tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel dari Huffington Post tentang generasi saya (Generasi Y) dan perkembangannya dari jaman kakek-nenek dulu. Bagaimana kakek-nenek dulu yang hidup di masa perang rata-rata menginginkan hidup yang stabil, maka doktrinasi kestabilan ekonomi adalah doktrinasi utama yang diberikan kepada ayah-ibu kita; Bagaimana ayah-ibu kita mendapatkan sebuah safety dari kestabilan pendapatan maka doktrinasi yang diberikan kepada kita adalah ‘hidup layak’ secara ekonomi ala mereka. Atau bisa kita tilik pula dari perkembangan eropa tahun 1800an. Ada yang menarik dari pengantar yang ditulis Herman Hesse di dalam Siddharta – bagaimana kegagalan politik, sains dan ekonomi terhadap kemanusiaan di eropa yang ujung-ujungnya berakhir pada genocide dan hutang berkelanjutan di negara-negara eropa pasca  perang dunia membawa masyarakat eropa kepada pencarian baru yaitu spiritual enlightment, tak lagi terjebak pada aspek materil saja. Atau jika kita mencermati negeri sendiri dan peka terhadap perkembangan feodalisme-sosialisme dan komunisme-nasionalisme-liberalisme, sadar pulalah kita bahwa yang menjadi fondasi dari gerak zaman ini adalah rasa sakit hati.

Mungkin disini saya mesti sepakat dengan Thomas Hobbes ; sifat alami manusia adalah perang satu melawan yang lain—mulai dari satu individu melawan individu lain, satu suku bangsa melawan suku bangsa lain, satu negara melawan negara lain, satu aliansi melawan aliansi lain – entah dalam bentuk perang fisik saperti jaman dulu hingga perang ekonomi di depan antara blok asia dan blok amerika yang sepertinya tak akan kalah serunya. Demikianlah sistem hidup kita jika kita tilik secara global adalah sebuah survival, sebuah usaha melindungi resource  yang ada agar individu/suku bangsa/negara/aliansi kita dapat bertahan hidup – sepertinya memang tak berbeda dengan binatang yang mencoba bertahan di hutan rimba.

Satu hal yang belum bisa saya terima adalah semua usaha pertentangan tersebut mengatasnamakan cinta. Suara kecil di dalam kepala saya berkata ; ”love is overrated, dear”. Entahlah, yang seperti ini yang membuat saya tidak percaya “cinta” yang diturunkan di dalam sistem. Cinta terhadap suku bangsa sendiri, tanah air sendiri adalah yang menjadi jualan utama dari masa ke masa. Hitler melakukan genocide atas kecintaannya terhadap ‘jerman murni’, negara maju menguasai human resource dan natural resource juga atas kecintaannya terhadap masyarakatnya agar memperoleh kapital yang dibutuhkan untuk bertahan pada standard kesejahteraan hidup bangsanya, negara dunia ketiga angkat senjata karena merasa hak-haknya dirampas dan berjuang dengan bambu runcing karena kecintaannya kepada generasi selanjutnya agar bisa hidup lebih makmur. Tolong jelaskan pada saya, cinta macam apa yang pada akhirnya membuat manusia membunuh manusia lainnya atau sebuah negara menjajah negara lainnya atau sebuah agama melakukan pemaksaan dan kekerasan atas nama Tuhannya? Mungkin itu cintaik – bukan cinta.

Entah, saya tak percaya sistem. Saya tak percaya pula orang-orang yang mengumbar-umbar cinta dalam berbagai aspek. Sekuntum mawar akan dikenal sebagai mawar bukan karena ia berteriak-teriak menyebut dirinya mawar, bukan pula karena ia memerkan mahkota bunganya yang indah kepada semua orang, ia cukup menjadi mawar saja. Begitupun manusia.

2 comments on “Tentang Cinta, Nirsistem dan Orang-Orang Sakit Hati

  1. alderine
    March 5, 2014

    semacem atas nama cinta padahal basisnya rasa sakit hati ya sep. karena lo ngepos sekarang jadinya geli :p

    • Septia Agustin
      March 5, 2014

      Hahaha.. semangat de! Gw siap dikontak 24 jam kok.. nomer im3 yak :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 4, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: