aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Hidup Tapi Tak Hidup

Bisa saja ada seribu satu orang lalu lalang tapi dunia masih diisi kehampaan. Bisa saja ada seribu satu pasang mata yang bersinggung tatap denganku, tapi cuma satu dua yang dibakar api kehidupan. Bisa saja ada seribu satu pasang tangan yang sempat bersinggungan dengan tanganku, tapi entah berapa yang dilabuhkan dengan keikhlasan. Bisa ada seribusatu pasang kaki bergerak dihadapanku, tapi entah berapa yang tau betul dia berjalan kemana dan apa yang ditujunya. Bisa ada seribu satu pasang kekasih bercumbu dihadapanku, entah berapa pasang yang benar-benar bercumbu dengan cinta kasih yang sebenar-benarnya. Bisa ada seribu satu manusia yang datang dan pergi dalam hidupku, tapi rasanya baru beberapa yang benar-benar terasa berarti dan tak ada yang kutahan pergi, tak sempat kupertahankan tetap disini lebih tepatnya.

yang gelap dan terang,

yang datang dan menghilang,

yang kalah dan menang,

selalu ada.

yang kuat berkuasa,

yang lemah tak terjamah,

yang diam penuh amarah,

selalu ada

( Dua Sisi — Angsa dan Serigala)

Saat ini aku merasa seperti zebra di padang rumput hijau bertabur ilalang dan bunga-bunga liar dan diatasnya ada pelangi warna-warni melengkung indah. Ya, semua warna lenyap menjadi dua bagian warna– hitam dan putih saja. Sebab diantara seribu satu yang lalu lalang, bertatapan mata, berpapasan, bersinggungan tangan, datang dan pergi terkumpul pula seribu satu kehampaan. Bukan, bukan sepi yang kumaksud, bukan pula sunyi, tapi hampa. Sebab didalam sepi dan sunyi ada ketenangan dari diri sendiri, sedangkan dalam kehampaan ada keresahan bersembunyi di dalam ketenangan. Kehampaan adalah serupa bejana kosong bocor yang terus menerus berusaha kita penuhi, sekalipun kita tahu bejana itu bocor. Persis seperti penipu yang menipu diri sendiri.

Belakangan aku mulai muak dengan yang sedikit-dikit membawa nama “Tuhan” di setiap kata-katanya, padahal “Tuhan” hanya jadi pemenuh ambisinya, padahal “Tuhan” hanya jadi topeng dari tiap-tiap ketakutannya, padahal “Tuhan” hanya jadi simbol pengharapannya. Salahkah? tentu tidak. Tapi lama kelamaan “Tuhan” menjadi sebuah kebohongan dari diri sendiri untuk menghadapi kenyataan-kenyataannya. Salahkah? tidak, tentu tidak. Sebab tidak semua orang bisa menerima bahwa hidup memang mengerikan dan kenyataan tak seindah yang dibayangkan, tidak semua orang pula yang bisa bersenang-senang dibalik pengetahuannya tentang hal ini, maka kebanyakan dari kita akan menjadikan “Tuhan” sebagai sebentuk pelarian. Agama tak ubahnya seperti mengatur psikologi massa, memberikan ketenangan kepada orang-orang yang sedang kalut, supaya tetap ada harapan untuk bertahan hidup.

Tapi kebanyakan lupa, akupun sempat begitu, bahwa kenyataan mesti dihadapi sebagaimana bentuk nyatanya. Maka, jikapun timbul harapan, harapan itu bukanlah bentuk pelarian ataupun penolakan atas kenyataan yang seperti ini. Bumi ini memang sakit, menusia memang jahat, agama memang kerap dijadikan pelarian dan tunggangan politik, memang ada ibu yang tega membuang anaknya, memang ada anak yang tega membunuh ibunya, memang masa lalu kerap disusun dari kemarahan-kemarahan dan dendam tak berkesudahan, memanglah manusia bisa menjadi serigala bagi manusia-manusia lainnya, memang pada dasarnya manusia itu sendirian. Bagaimanapun juga kenyataan-kenyataan semacam ini harus dihadapi.

Tidak, ini sama sekali bukan sebuah bentuk pesimisme tentang kehidupan. Sekali waktu ketika mulai dewasa dan menerima kenyataan-kenyataan ini sebagai bagian dari hidupku, akupun belajar tersenyum kembali, keluar dari zona nihilitas yang looping terlalu lama dalam perjalananku. Sekali waktu ketika aku mulai lebih dewasa, aku belajar berbahagia di dalam keadaan-keadaan ini, aku belajar ikhlas dan pasrah, persis seperti Karna yang maju ke dalam kurusetra. Tapi pertama kali aku  mesti jatuh dan sakit dulu untuk bisa melihat realita sebagaimana mestinya, lalu jatuh lebih dalam lagi untuk bisa belajar tersenyum dan berbahagia ditengah realita yang kupandang sebagaimana mestinya, lalu jatuh lebih dalam lagi untuk tetap jatuh cinta pada kemanusiaan dan perdamaian walaupun dari seribu satu orang itu hanya segelintir manusia yang kutemui.

Tapi, bagi seribu satu orang yang hidup tapi tak hidup akan mengisi kekosongan itu dengan kesemuan, keengganannya melihat dan menerima realita yang tak indah ini akan membuatnya mengisinya dengan kesemuan, dengan harapan-harapan tentang “Tuhan” yang sebenarnya adalah sebentuk penipuan dari dan untuk dirinya sendiri, dengan alkohol tengah malam dan lantai dansa tempatnya bisa lepas seolah-olah bebas, dengan pagutan lelaki-lelaki haus tempatnya bisa merasakan kasih sayang sesaat, dengan uang dan barang-barang bermerk tempatnya menemukan identitas sesaat. Kesemuan yang saat ini cukup ampuh, tapi akan kadaluarsa beberapa saat lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 2, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: