aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Politik Agama dan Teologi Pembebasan

Tadi siang saya dan kawan saya mengunjungi Pekan Literasi yang diadakan oleh Museum Konferensi Asia-Afrika. Kebetulan, ketika kami sampai disana sedang diadakan bedah buku sebuah buku sejarah yang cukup kontroversial yang ditulis oleh salah satu dosen sejarah sebuah universitas di Bandung. Sepuluh menit berada di ruangan tersebut sudah cukup untuk membuat saya gelisah dan sangat ingin mendebat beliau akan beberapa “fakta sejarah” yang disampaikan. Untungnya saya menemukan beberapa hal menarik yang membuat diri saya akhirnya cukup bersabar untuk tidak macam-macam di tempat baru. Launching buku yang sudah diterbitkan dalam dua jilid ini dulunya pernah diadakan di mesjid di depan kandang gajah, dari beberapa kawan saya sempat dengar buku itu sangat kontroversial tapi baru sekarang saya faham kenapa beberapa kawan saya sempat emosi karena buku itu.

Saya penikmat sejarah. Tapi sejarah selayaknya tidak dimaknai lewat sekedar kejadian, tanggal kejadian, tokoh dan sekian orang yang mati pada kejadian itu. Pernah dikala saya begitu tergila-gilanya dengan sejarah, saya mengumpulkan banyak versi literatur, penelitian ataupun catatan harian dari saksi mata ataupun peneliti kejadian suatu peristiwa sejarah. Sejarah sesungguhnya adalah alat yang manis untuk agitasi masal dan pengarahan opini publik kepada suatu orang atau suatu kejadian tertentu. Apalagi di Republik yang primetime televisinya dihiasi oleh segala sinetron-sinetron yang terlalu di dramatisir ini. Ya, jika awal dulu SBY menang dengan komunikasi politik air mata, menjual penindasan yang dialaminya bolehlah saya simpulkan mayoritas penduduk di negeri ini masih lebih bisa ‘membeli’ apa yg dijual lewat perasaan daripada logika-logika ilmiah dari penelitian yang saintifik.

Kalau ada yang harusnya paling dinikmati dari sejarah adalah historiografi dari sebuah peristiwa. Historiografi melepas konklusi benar-salah dari suatu kejadian. Dari historiografi kita akan melihat sebuah “fakta sejarah” di tengah-tengah, kita pelajari “asbabun nuzul” dari peristiwa sejarah tersebut, kita pelajari latar belakang peneliti atau saksi mata barulah kita tarik sintesa tersendiri, tanpa ada kecenderungan mendaulat benar-salah dari sebuah “fakta sejarah”.

Isi bedah buku tersebut didominasi oleh presentasi penulis tentang betapa besar ‘hutang’ bangsa ini pada sebuah agama mayoritas. Bahwa seharusnya banyak jejak sejarah yang harusnya ‘membesarkan’ organisasi agama atau tokoh organisasi agama tersebut pada masa-masa perjuangan dulu. Selebihnya presentasi tersebut dipenuhi makna cocoklogi antara kitab agama tersebut dengan fakta-fakta sejarah ataupun keputusan-keputusan yang pernah diambil para pembesar dari organisasi keagamaan tersebut di masa-masa kemerdekaan.  Dari lelucon-lelucon yang beliau utarakan disela-sela presentasinya tersebut dapat pula saya tangkap sinisme dan sentimen negatif dari gerakan-gerakan kiri yang sempat jadi oposisi organisasi keagamaan ini waktu memperjuangkan kemerdekaan dulu.

Jangan salah sangka, saya bukannya anti agama manapun, apalagi agama ini. Bagaimanapun juga dari kecil saya selalu dibawa untuk mempelajari agama ini lebih jauh, saya tak punya sentimen apa-apa terhadap agama ini. Hanya saja, saya selalu jijik ketika tiap agama dibawa ke ranah politik, ke ranah perebutan kekuasaan.

Saya tak ingin mengomentari “fakta sejarah” yang disampaikan beliau. Yang jadi menarik bagi saya adalah ketika memperhatikan orang-orang yang menghadiri bedah buku tersebut. Bedah buku tersebut didominasi anak-anak muda yang kurang lebih segenerasi dengan saya, hanya beberapa yang jauh lebih tua.  Saya memperhatikan, tiap pembicara menyampaikan “cocoklogi” beliau tentang kebesaran agamanya dan fakta sejarah, saya melihat anggukan-anggukan antusias, badan yang dimajukan kedepan, tangan yaang terbuka ataupun menyentuh dagu sebagai tanda berpikir. Dan semakin beliau mengedepankan kebesaran agamanya dalam sejarah bangsa ini, semakin antusias pula orang-orang sambil menggumamkan puji-pujian dalam bahasa asal agama tersebut.

Salahkah hal ini? Tidak, tentu tidak. Sejarah selalu milik pemenang. Fakta yang sampai kepada publik dari generasi ke generasi selaluh fakta mendukung pemenang. Seperti saya yang baru mengerti tentang Tan Malaka ketika saya SMA hanya karena buku-buku sejarah dari SD-SMA tak pernah menceritakan soal beliau hingga saya menemukan madilog berdebu di perpustakaan SMA saya.

Sejarah pula yang mengingatkan bahwa kejadian-kejadian besar di masa lampau adalah karena turut andilnya agama yang berpolitik. Mulai dari ketika Marx mengkritisi relasi antara masyarakat eropa dengan gereja pada tahun 1800an dulu. Semua dimulai dari kritik Marx terhadap Feurbach yang mengatakan bahwa ‘agama adalah dunia khayal dimana manusia mencari dirinya sendiri’. Tapi kritik Feurbach terhadap relasi agama-manusia di masa itu hanya sampai disitu, Feurbach tidak menjelaskan kenapa manusia lebih cenderung melarikan diri di dunia khayalan daripada hidup di dunia nyata. Menurut Marx, manusia tidak ke dunia nyata karena kehidupan nyata, tidak mengijinkan manusia untuk mewujudkan kekayaan hakekatnya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya. Agama adalah protes manusia terhadap keadaan yang terhina dan tertindas. Agama adalah candu rakyat. Oleh karena itu, kritik agama tidak bermanfaat. Yang perlu adalah mengubah keadaan masyarakat yang membuat manusia lari ke dalam agama. Yang diperlukan bukan kritik agama, namun revolusi. Agama akan menghilang dengan sendirinya, bila manusia dapat membangun dunia yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan hakikatnya secara nyata dan positif.  Agama melumpuhkan semangat lawan kelas tertindas dan karena itu menguntungkan kelas atas.

Hal senada juga terjadi di Republik ini, dalam beberapa tulisan Tan Malaka (*saya lupa di buku yang mana), Tan menjelaskan ketika ustadz-ustadz meminta masyarakat untuk pasrah dan ikhlas saja menghadapi penjajahan yang dihadapi, sebab nanti akan dibayar di akhirat dalam bentuk surga. Dalam “Islam Sontoloyo” yang ditulis Soekarno pada tahun 1940, Soekarno mengkritik pimpinan-pimpinan ummat di Indonesia yang biasa menyebut dirinya kyai yang ternyata malah meletakkan dirinya ‘diatas’ masyarakat yang lainnya, dimana pemuka-pemuka agama menjadi satu kelas elit tersendiri. Hal senada juga diceritakan oleh Ajip Rosyidi lewat novel “Anak Tanah Air” yang mengambil latar waktu tahun 1960an, disana diceritakan tentang seorang ustadz yang selalu mendapatkan zakat fitrah beras berlimpah ruah dari masyarakatnya dan beliau selalu menjualnya hingga mendapatkan uang berlebih, padahal mayoritas masyarakat yang memberinya zakat, hidup sehari-harinya saja sudah pas-pasan bahkan cenderung kekurangan. Fakta-fakta inilah yang pada akhirnya digunakan D.N. Aidit dalam tulisan-tulisan ataupun pidatonya yang pada akhirnya membakar amarah N.U. dan Masyumi dimasa itu. Ya, siapa yang tidak ‘kaget’ ketika mengetahui bahwa sesuatu yang didoktrin ‘sangat suci’ dan berasal dari Illahi ternyata bergumul jelaga kotor. Pada akhirnya agama jadi semacam “pride” sendiri yang dipertahankan. Dalam politikpun agama sudah memiliki “pasar” yang sangat jelas. Di kandang gajah saja yang konon miniatur Indonesia, fakta-fakta menjijikan soal politik-agama sudah bisa terlihat dengan jelas. Tak sedikit orang-orang yang didaulat kafir, atheist, liberal dijatuhkan dan orang-orang yang berasal dari suatu golongan agama diagung-agungkan. Ya, jika hal itu terjadi di kampus yang katanya perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia yang tiap mahasiswanya diajari sains-manajemen-seni dan metode menjijikan seperti itu masih berlaku, jangan heran jika di Indonesia terjadi hal-hal semacam itu.

Politik agama berbeda dengan teologi pembebasan. Dalam politik agama, identitas keagamaan menjadi jualan dalam perebutan kekuasaan, sedangkan dalam teologi pembebasan (meski berakar dari agama juga) menitik beratkan pada kemanusiaan dan melepas sekat-sekat kekuasaan politik. Apa yang dilakukan tokoh agama atau spiritual seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Don Helder Camera, Romo Mangunwijaya ataupun K.H. Abdurrahman Wahid merupakan bentuk dari profetis agama (teolog ipembebasan) yang ingin membela masyarakat dari ketertindasan sistem sosial baik dari negara ataupun agama itu sendiri. Namun usaha mulia mereka ini sering dituduh merusak keyakinan yang mapan, merencanakan revolusi dari kekerasan, mengganggu stabilitas masyarakat atupun ‘berkhianat’ dengan agamanya sendiri.

Teologi Pembebasan pada awalnya muncul di Eropa pada abad ke-20 sebagai sebuah respon dari globalisasi yang mulai terjadi dan menyebabkan manusia kehilangan akar kemanusiaannya. Di Eropa teologi pembebasan berkembang menjadi pemikiran, sedangkan di wilayah Amerika Latin, teologi pembebasan berkembang menjadi gerakan melawan hegemoni kekuasaan negara yang otoriter. Di Indonesia sendiri perkembangan wacana teologi pembebasan cenderung lambat (sama lambatnya seperti sisi hidup bangsa kita yang lain), wacana ini mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun1980an dan mendapatkan tantangan keras oleh negara. Romo Mangunwijaya dan Gus Dur adalah salah dua orang yang mengembangkan wacana ini di Indonesia, pertentangan terhadap wacana ini adalah dengan alasan wacana ini adalah bagian dari ideologi Marxisme. Wacana yang dikembangkan Romo Mangun dan Gus Dur ini adalah bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan manusia, dengan memandang manusia sebagai manusia—bukan bagian dari umat agamanya masing-masing – dari penindasan yang dialami manusia oleh negara ataupun agama sekalipun.

Bagi saya, agama seharusnya tak sekedar dilihat dari dimensi seharusnya (das sein) melainkan lebih pada realitasnya yaitu pada dimensi empirik yang bisa dilihat dan dirasakan (das solen). Pada akhirnya kita harus melihat keterhubungan agama dengan realitas sosial yang terjadi di dunia, bukan di langit – hinga akhirnya agama menjadi sesuatu yang membebaskan manusia, bukan malah mengikat manusia menjadi pion-pion catur dalam perebutan kekuasaan. Seperti Islam yang seharusnya menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) bukannya rahmatan lil mu’minin (rahmat bagi kaum mukmin) ataupun Yesus yang berasal dari Roh Allah yang diutus untuk mewartakan kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Bagi saya agama harusnya tanpa batas, jika sudah membatasi mungkin memang lebih baik tidak beragama saja.

2 comments on “Politik Agama dan Teologi Pembebasan

  1. datu
    February 18, 2014

    tulisan menarik sep,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 17, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: