aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Banalitas dari Dinding Setebal 30 cm

Dinding berlapis kaca setebal 30 cm dan 5 kaki trotoar yang dihitung dari pinggir badan jalan ini adalah ruang baru saya melihat realita. Tiap kali ke tempat-tempat semacam ini pasti saya memilih tempat di sudut ruangan yang disampingnya terdapat dinding kaca. Bisa melihat segala yang terjadi di luar ruangan tanpa diperhatikan oleh orang-orang yang berada di sana memberikan suatu kesenangan sendiri bagi saya. Saya bisa menghabiskan waktu sendirian berjam-jam di tempat seperti ini sambil sekedar ngopi, mendengarkan musik sambil memandang keramaian di balik tembok kaca ini. Memperhatikan yang sering luput dari mata kebanyakan memang selalu menyenangkan.

Adalah Banalitas, yang menjadi hentakan pertama yang saya sadari dari kejadian sesore itu. Dari anak-anak kecil penjual bunga yang senantiasa mengetuk-ngetuk pinggir kaca, dari ibu pengemis dan anaknya yang menggelar lapak persis disebelah tembok kaca saya, dari bocah gelandangan yang memandang kosong berpuluh-puluh menit ke ujung jalanan, dari berpuluh-puluh orang yang lalu lalang dihadapan mereka. Banalitas sesungguhnya adalah penyakit yang berbahaya. Penyakit ini berbahaya bukan karena mematikan fisik, tapi karena mematikan jiwa.

Ketika pertama kali saya tiba di kota ini, saya merasa risih melihat sampah-sampah berserakan, got-got bau, gang-gang kumuh dan rumah-rumah berdempetan— tempat-tempat ini sungguh tak layak dihuni manusia manapun. Di tiap lampu merah dan ujung jalan utama selalu saya temukan barisan pengamen, pengemis dan anak-anak peminta-minta yang digiring orang tuanya. Setiap saya berjalan kaki jam dua pagi sering pula saya temui gerombolan manusia yang mencari keteduhan di emperan toko, mencari kehangatan diantara lapisan koran, kardus dan kain gombal. Malah, pernah pula saya temukan, diantara dini hari saya yang impulsif, suatu bangunan terlantar di kawasan jalan utama yang tiap tingkatnya dihuni orang-orang yang besar di jalanan. Kota ini sakit. Tiap orang yang waras akan sepakat kalau ada yang sakit disini. Tapi rupanya untuk bertahan waras bukanlah suatu hal yang gampang. Yang bertahan waras di tengah orang-orang gila haruslah siap disebut gila.

Sama pula ketika pertama kali saya ke Jakarta, pertama kali menginjakkan kaki di kawasan bantaran kali dan diantara rumah-rumah berdempetan dan wc helikopter. Ya, saya sengaja jalan tak tentu arah disana, sebab seringnya manusia saya temukan di tempat-tempat seperti itu, bukan diantara mall-mall dan gedung megah yang diberi pendingin. Saya singgah di sebuah warung, sekedar membeli minuman dingin dan bercakap-cakap dengan empunya warung. Bagi mereka hidup seperti ini tak ada masalah, sebab tak ada pilihan lagi katanya, masih untung bisa membuat rumah triplek diantara jalan-jalan berjejakan. Hal yang sama ketika saya turun dari kereta api dari semarang—pasar. Senen. Ada yang tidak normal, rasanya saya jadi sakit sendiri melihat rumah-rumah triplek berdempetan berjarak satu meter dari bantalan kereta api, hingga akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki sendirian menyusuri rel tersebut. Rumah-rumah tak layak pakai berukuran 2×1 yang diisi 4 orang langsung, dapur dan toilet yang dibatasi partisi seadanya, tanah yang dilobangi untuk dijadikan toilet banyak orang, ibu-ibu yang memasak di luar petak rumahnya persis di samping bantalan rel, kanak-kanak yang belum mengerti pedihnya realita berlarian kesana kemari main layangan bertelanjang kaki di dua meter tanah kosong di samping bantalan kereta api – Itu semua tidak normal! Bahkan domba dan sapi di kampung saya mendapatkan tempat yang lebih layak. Tempat semacam itu tak pantas dihuni manusia.

Tapi mereka sudah terbiasa katanya. Yang melihatpun sudah terbiasa katanya. Ya, itu memang salah tapi kita bisa apa katanya. Ini urusan pemerintah katanya. Kamu nggak usah sok-sok idealis memikirkan hal ini katanya.

Tapi ini sama sekali bukan urusan pemerintah, bukan pula urusan orang idealis atau apa, bahkan bagi saya tak ada yang namanya idealis, yang ada hanyalah yang berusaha tetap waras menjadi manusia. Sungguh, banalitas semacam ini adalah penyakit yang berbahaya bagi jiwa kita semua.

Dan satu jam saya habiskan memandang ibu-ibu pengemis, gelandangan, dan bocah penjual bunga di hadapan saya. Selain mereka lalu lalang pula berpuluh-puluh orang, tua-muda, bersama keluarga, bersama kawan, bersama kekasih tercinta—tak sempat saya hitung jumlahnya. Dan di antara puluhan yang lewat ini hanya 5 orang yang benar-benar melayangkan pandang pada mereka, satu orang pemulung, satu orang ibu-ibu, satu  orang anak kecil berumur 5 tahun dan seoran perempuan seumuran saya. Selebihnya? Berjalan seakan-akan tak ada apa-apa, mungkin beranggapan mereka ini tak ada.

Persis seperti kita semua yang perlahan menyerah pada banalitas semacam ini, persis kita yang perlahan tak lagi jadi manusia.

Tak perlu berpendidikan tinggi, beragama, berTuhan sekalipun untuk bisa melihat dan mendengar, jika yang mengaku berpendidikan, beragama dan berTuhan tak memakai telinga dan matanya sebagaimana mestinya, wajiblah kita semua mempertanyakan fungsi pendidikan, institusi agama dan institusi budaya kita.

Tak perlu jadi presiden, peraih nobel, pemuka agama, pemimpin revolusi untuk tidak tenggelam dalam banalitas.

Cukup melihat saja, sebenar-benarnya melihat,

Cukup mendengar saja, sebenar-benarnya mendengar,

Cukup jadi manusia saja, sebenar-benarnya manusia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 17, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: