aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Nasionalisme di Era Dunia Tanpa Batas

Semakin saya mempelajari sejarah peradaban dan perkembangan manusia, mulai dari manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk komunal ataupun manusia sebagai bagian dari negara bangsa, semakin saya menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan memenjarakan dirinya sendiri. Akan ada satu fase hidup manusia, entah dia memosisikan dirinya sebagai bagian dari individu, komunal ataupun negara bangsa—untuk mencari eksistensi dan identitasnya sendiri. Pencarian akan eksistensi ini adalah sebuah manifestasi bahwa manusia itu hidup sebagai sebentuk individu yang berbeda dari sekedar debu-debu yang berterbangan nyaris kasat mata di udara ataupun yang membedakannya dari amoeba yang terus membelah.

Manusia dari berbagai jaman, mulai dari jaman primitifnya sebagai sapiens hingga saat ini terus menerus melahirkan pertanyaan-pertanyaan eksistensialisme. Dari sanalah juga bisa kita lihat ada pola yang terjadi dari jawaban-jawaban manusia ini, mulai dari pembahasaan paling primitif lewat dongeng-dongeng, mitos dan ketakutan-ketakutan yang ditimbulkan terhadap alam, perkembangan filsafat dari masa ke masa hingga perjalanan sains dan engineering di abad ini, semuanya adalah konsekuensi dari manusia yang terus berpikir dan mencari makna dari hidupnya sendiri.

Sebagian manusia akan berkembang jauh melebihi manusia-manusia di jamannya, hingga sintesanya tentang cara pandang di hidupnya menjadi sebentuk virus yang ditakuti ataupun dosa besar bagi orang sejamannya—kebenarannya tak bisa diterima mayoritas awam di jamannya. Tak sedikit para filsuf, saintis, musisi, pelukis yang pada akhirnya baru diakui kebenaran dari hipotesa-hipotesanya tentang hidup jauh setelah dia menghembuskan nafas terakhirnya di dunia.

Diantara identitas-identitas yang disematkan manusia dalam pencariannya terhadap makna hidupnya adalah apa yang biasa kita sebut sebagai “Nasionalisme”. Bagi saya saat ini, nasionalisme adalah sebuah usaha pembebasan diri manusia untuk kebutuhan paling primitifnya—kebutuhan manusia untuk bisa bertahan hidup di tanah yang ditinggalinya. Sesungguhnya tak ada yang spesial dari nasionalisme. Nasionalisme terbentuk dari kesamaan rasa yang dirasakan sekumpulan orang yang kebetulan tinggal di sebuah lokasi yang sama, perasaan-perasaan inferior, keterjajahan dari kelompok manusia lain dan ketidakbebasan manusia mengolah hidupnya sendirilah yang memicu Nasionalisme.

Tapi perlahan apa yang saya kenal sebagai nasionalisme saat ini bertransformasi menjadi hanya selapis tipis daging dan kulit di tubuh kita yang kita sebut sebagai bangsa dan negara. Bagi saya ada yang tidak wajar ketika kita menjadikan nasionalisme sebagai ujung tombak peradaban. Usaha survival antar individu yg bertransformasi menjadi usaha survival antar kelompok yang kemudia bertransformasi menjadi usaha survival antar negara malah membuat manusia lupa esensi dasar manusia.

Kemanusiaan adalah esensi dasar manusia. Kemanusiaan harusnya tak berbatas pada lokasi tempat tinggal, jenis ras, budaya yang dianut, kemelut perpolitikan antar bangsa, peperangan atas nama agama (dan anti agama). Kita lupa, bahwa nasionalisme pada suatu titik memang bisa menjadi alat pembebasan bagi sekelompok manusia, tapi dititik lain juga nasionalisme pulalah yang membuat suatu negara bangsa menjajah negara lain, menginjak-injak eksistensi kemanusiaan itu sendiri.

Abad ini dimulai dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Cepatnya arus informasi yang bergulir menjadi akselerasi perkembangan pola pikir manusia. Di suatu belahan dunia ini, seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi manusia semakin berpikir terbuka, semakin bisa melihat apa yang jadi esensi dasar kehidupan negara-bangsa. Tapi di belahan dunia yang ini, manusia masih memenjarakan dirinya dalam selapis tipis kebanggaan semu berbangsa dan bernegara.

Sungguh saya percaya, di dunia yang semakin menjadi tanpa batas ini, pembelaan atas nama nasionalisme akan menjadi suatu hal yang semakin basi. Sudah waktunya manusia melakukan transformasi nilai dari pengelolaan hidupnya, termasuk urusan berbangsa dan bernegara ini. Semua manusia sesungguhnya sama, batasan negara semata-mata hanyalah pengelolaan kebutuhan paling primitif saja, tak ada yang patut dipertentangkan apa lagi sampai-sampai terjadi perang bertahun-tahun yang membunuh banyak orang. Sudah waktunya tiap manusia berdiri dengan identitas ‘warga negara dunia’, berada pada satu payung ‘pemerintahan dunia’, melepas sekat-sekat pembeda, melihat esensi manusia sebagai suatu kesatuan yang sama dan setara, tak hanya secara filosofis tetapi sampai ke tatanan metode.

Sudah saatnya kita menjadi warga negara dunia, menghancurkan sistem-sistem pemerintahan yang ada yang pada akhirnya membuat kita berperang dan terpecah belah. Bagaimanapun juga esensi hakikat identitas manusia dari masa ke masa adalah sama, hanya metodelah yang bergerak. Maka transformasi nilai ke dalam tataran metode haruslah segera kita lakukan, agar dunia tanpa sekat ini benar-benar bisa membawa kita ke jati diri kita sesungguhnya: sebagai manusia.

2 comments on “Nasionalisme di Era Dunia Tanpa Batas

  1. Manoressy Tobias
    February 14, 2014

    Humanisme universal. Seperti yg lw bilang ke gw semalam.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: