aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Si Idealis Yang Keras Kepala

Pada satu titik atau lainnya mungkin akan kita temukan orang yang seakan-akan kita kenal. Orang itu akan memberikan sebuah benturan tentang hidup kita sendiri. Tentang hal-hal yang belum sempat kita lakukan, tentang ide-ide yang belum sempat kita terjemahkan menjadi perbuatan, tentang hal-hal yang belum sempat kita selesaikan dengan diri kita sendiri. Bagi saya orang itu adalah kamu, si idealis yang keras kepala.

Terkadang aku merasa hatimu batu, prinsipmu batu, tapi kamu bukan seperti batu yang lainnya, kamu menjadi batu justru karena kamu tahu apa yang kamu lakukan.

Terkadang aku memang merasa tidak adil, bagaimana bisa kamu tahu banyak hal tentangku sementara aku hanya seakan-akan mengenalmu saja. Ya, tak ada yang lebih berbahaya daripada pengetahuan yang setengah-setengah. Tapi justru dari sana aku merasa dekat. Suatu hal yang terlalu absurd untuk kuakui, aku yang berlindung di balik logika dan rasionalitas. Suatu hal yang selalu kusangkal saja.

Si idealis yang keras kepala ini tahu apa yang diinginkannya, tahu pula apa yang dia kejar. Tapi ia tak sekedar tahu, yang ada di kepalanya berusaha diwujudkannya, perlahan-lahan, satu persatu. Sekalipun hal-hal itu mengalienasi dirinya yang asli dari sekitarnya. Sekalipun hal-hal itu membuatnya sendiri, perlahan-lahan ditinggalkan sekitarnya. Sekalipun hal-hal itu membuatnya mengorbankan banyak hal, mungkin hal-hal konyol dan tidak bisa diterima orang-orang sekitarnya.

Si idealis yang keras kepala itu begitu berbeda. Ada sisi idealisnya yang kutemukan mirip dengan orang-orang tua yang sudah mengalami banyak asam garam kehidupan. Mungkin ada akselerasi tertentu yang dia lakukan pada hidupnya, makanya dia bisa mencapai hal-hal itu. Tapi aku tak pernah tahu entah apa yang sedang atau ia alami.

Akan banyak yang menganggapnya konyol, atas jalan hidup yang ia pilih, hal-hal yang ia korbankan, dirinya yang asli. Si idealis yang keras kepala itu akan sulit diterima orang-orang segenerasi dengannya.

Tapi ia terlalu cepat dewasa. Menjadi dewasa dan memperlihatkan kedewasaan adalah dua hal yang berbeda. Sekali lagi, aku tak pernah tahu apa yang telah dialaminya. Tapi aku takkan menanyainya, sebab orang sepertinya akan tahu apa yang dia butuhkan, apa-apa yang ia sembunyikan, apa-apa yang dia tunjukkan dan kenapa dia melakukan hal itu.

Tapi ia tak selayaknya menyuruhku untuk menjadi biasa-biasa saja karena pengalamannya atas jalan hidup yang ia pilih. Seperti tiap jenius yang merasakan kesendirian, ia pun begitu. Tapi tak selayaknya ia melarangku. Akupun cukup tahu risiko jalan yang kini kupilih. Ia Tak selayaknya menyuruhku ikut arus saja sementara darinya aku kembali memberanikan diriku untuk benar-benar melawan arus.

Mengenalnya seperti mengenal kembali diriku yang telah kukubur dulu. Mengenalnya lebih dalam seperti menemukan diriku sendiri. Mengenalnya seperti menemukan teman yang bisa dijadikan teman seperjalanan. Mengenalnya seperti memberikan keyakinan sendiri atas jalan yang tengah kuambil, meskipun nantinya akan sendirian, akan teralienasi dari sekitar, akan dianggap konyol, akan dianggap sia-sia, akan dianggap berbeda. Mengenalnya seperti memberikanku rasa aman.

Maka si idealis yang keras kepala ini tak boleh menyerah, ia tak boleh patah. Sekalipun sekali dua kali di titik hidupnya yang menuju dewasa ini akan ditemukannya bebatuan yang menjegalnya. Sekalipun sekali dua kali dia akan terjatuh, mungkin terluka parah, dia tak akan berhenti. Sebab jiwanya kuat, memikul segala risiko nilai-nilai yang dia perjuangkan.

Mungkin aku hanya mengira-ngira. Mungkin yang kukenal darinya hanyalah asumsi liar dikepalaku tentangnya. Maka sedikit banyak mengenalnya bagiku seperti memperlajari kembali arti tauhid. Konon katanya, Tuhan itu seperti prasangka hambaNya kepadaNya. Begitupun kukenal ia, sebatas prasangkaku saja. Sempat pula aku bertanya, jika ia tak sesuai prasangkaku apa yang akan kurasakan kepadanya? Tapi sekarang aku tahu jawabannya, ia akan tetap kukagumi dan kujadikan kawan seperjalananku.

Maka maaf, jika aku ternyata ingin mengenalmu lebih dalam. Melihatmu berkembang, mencoba memahamimu saat engkau jatuh, menemanimu saat engkau gamang, saat seluruh dunia menjauh darimu karena engkau begitu berbeda.

Tetaplah jadi idealis yang keras kepala, apapun yang engkau hadapi, sekalipun Tuhan, seluruh pemuka agama atau seluruh dunia menjauhimu karena engkau begitu berbeda. Kuharap aku akan ada di sampingmu, menemanimu dalam perjalanan sambil kulanjutkan perjalananku.

Ijinkan aku mengenalmu lebih dalam, dirimu yang sebenar-benarnya, apapun kenyataan dan risikonya kuterima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 9, 2014 by in Prosa.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: