aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sebuah Jawaban Tentang Cinta

Seno Gumira Ajidarma pernah membuat sebuah cerpen yang berjudul “ Sebuah Pertanyaan Tentang Cinta.” Cerpen itu adalah salah satu cerpen SGA favoritku. Dalam cerpen itu dikisahkan seorang wanita yang menelpon kekasihnya di telepon umum sambil terus bertanya kepadanya “Apakah engkau mencintaiku?”.

Pertanyaan tentang cinta adalah satu dari sekian pertanyaan yang tidak bisa kujawab karena aku selalu berdalih bahwa aku tak percaya suatu hal yang disebut cinta, sama halnya dengan betapa aku tak mempercayai pernikahan. Tapi bukan hidup namanya jika akhirnya aku tak dipaksa untuk menjawab hal-hal yang kuhindari dan sekaligus kutakuti. Dan selayaknya pencarianku terhadap hal-hal lain, akan tiba pula saatnya hidup mengolahku untuk menemukan jembatan otak-hati dari segala hal yang menghalangiku untuk menemukan diriku, termasuk didalamnya sebuah pertanyaan tentang cinta.

Orang sekeras kepala diriku sepertinya butuh paksaan tersendiri untuk menjawab hal-hal yang kutakuti untuk kuhadapi. Sama halnya dengan paksaan berupa batas waktu bagi studiku yang dulu selalu kutunda-tunda untuk kuselesaikan dengan dalih ada jawaban yang harus kutemukan terlebih dahulu. Tapi jawaban bukanlah wahyu yang datang dari langit. Jawaban rupanya akan kutemukan dengan menghadapi ketakutan-ketakutan itu. Harusnya hal ini kutempel di jidatku agar tiap kali aku bercermin aku ingat bahwa untuk menemukan jawaban aku harus bergerak. Bahwa untuk menemukan jalan dari otak ke hati – perjalanan terjauh anak manusia, ada hal-hal yang harus kuakui dan kuhadapi, bukan sekadar menghindar dan menemukan pembenaran-pembenaran baru lainnya.

Dulu aku selalu berpendapat, cinta adalah proses dua arah, makanya cinta adalah suatu hal yang nyaris mustahil, ditambah lagi beberapa kebencianku tentang beberapa hal dimasa lalu. Maka bagiku lebih mudah untuk mencintai daripada menerima cinta, akhirnya aku bermain di batas aman saja.

Tapi aku lupa, cinta rupanya adalah sebuah ijin bagi diri sendiri untuk melepaskan ego pribadi dan menerima cinta. Ijin yang sulit untuk kuberikan pada diriku, terkait dengan beberapa pengalaman dimasa lalu. Tapi engkau ada benarnya, aku selalu menemukan excuses dari tiap hal, mungkin hal itu pula yang menyebabkan aku tak bergerak dari beberapa hal.

Cinta rupanya tak terkait dengan konsep dua arah itu tadi. Ah, harusnya aku memang melepaskan semua konsep dan melakukannya saja. Sebab konsep-konsep tak akan membuatku bergerak kemana-mana.

Mungkin perjalananku soal hal ini memang harus seperti ini, jawaban tentang cinta kudapatkan tanpa sadar. Setelah tembok penyangkalan kurobohkan barulah lebih jelas kudapatkan makna. 

Cinta adalah ketika tanpa sadar aku membuka diriku yang asli, tanpa rekayasa, meskipun tak pernah kujelaskan pada dirimu. Cinta adalah ketika tanpa sadar semua logika dan rasionalitas terlepas hanya karena satu dua kalimat darimu. Cinta adalah ketika tanpa sadar aku takut tak bisa mengenalmu, entah siapa sebenarnya dirimu. Cinta adalah ketika tanpa sadar permainan yang kuciptakan sendiri tak lagi berarti, tak lagi berarti puzzle yang kukumpulkan untuk bisa menebak-nebak dirimu, tak lagi berarti puzzle itu membentuk imaji apa, entah dia nyata atau fana, sebab ada hal lain yang kusadari. Cinta adalah ketika aku melihat senja, pelangi, rembulan, fajar, hujan dan tanpa sadar aku ingin membagi yang kulihat denganmu. Ternyata yang kucinta bukanlah senja, pelangi, rembulan, fajar atau hujan . Cinta adalah ketika tanpa sadar ingin kubagi kekhawatiranku denganmu entah itu dipagi buta, di siang bolong, di tengah malam, entah akan engkau respon seperti apa. Cinta adalah ketika hal-hal absurd menjadi masuk akal, termasuk keinginan untuk mengenalmu yang entah siapa sebenarnya. Cinta adalah ketika tanpa sadar siapa dirimu tak lagi penting, entah engkau berpura-pura, jujur, seorang cassanova ataupun makhluk paling bajingan di seluruh dunia. Cinta adalah ketika tanpa sadar aku menjadi gila karena segala rasionalitasku yang menggebu-gebu menolakmu akhirnya runtuh juga.  Cinta adalah ketika tanpa sadar tiap detail kecil dihariku, dari buku-buku yang kubaca, musik yang kudengar, hal-hal yang kualami mengingatkanku padamu. Cinta adalah ketika tanpa sadar kuturuti juga filosofi kucing boker  yang berujung pada aku di penghujung pagi yang menuliskan hal ini. Cinta adalah sebuah keadaan tanpa sadar, apa yang jadi awal dan akhirnya tak lagi berarti. Cinta adalah sebuah bentuk keikhlasan, keikhlasan untuk jujur sepenuhnya memperkenalkan diriku sekalipun tak kunjung kutahu engkau.

Ya, Cinta sama sekali bukan proses dua arah, bahkan tak butuh jadi dua arah. Sebab keikhlasan yang timbul dari Cinta pada akhirnya membuatku membunuh egoku yang lain, yang mengijinkan aku meniti jalanan penghubung otak-hatiku tentang hal ini, yang membawaku selangkah lebih dekat mengenal diriku.

Inilah jawabanku tentang Cinta, bahkan tak perlu pula kutanyakan tentang jawabanmu. Sebab keikhlasan rupanya tak butuh didefinisikan, tak butuh dijawab, tak butuh dijelaskan.

3 comments on “Sebuah Jawaban Tentang Cinta

  1. putricisompet
    February 9, 2014

    percaya cinta pada pandangan pertama?

    • Septia Agustin
      February 9, 2014

      Kalaupun itu terjadi, orang seperti saya pasti akan menyangkalnya. Tapi, cinta akan selalu menemukan jalannya sendiri hingga akhirnya saya akui, itupun kalau benar cinta. Hehehe

      • putricisompet
        February 13, 2014

        jalan menuju cinta, tersesat sedikit bisa menuju benci..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 9, 2014 by in Prosa.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: