aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Remah-Remah

Tadi sore aku duduk sendirian saja. Perlahan kuhitung satu demi satu ban kendaraan yang melintas di depan mataku. Setelah hitungan ke dua ratis masih belum ada hal menarik yang terjadi, sedang pikiranku sudah berkelana entah kemana, Seorang kawan berkata bahwa aku adalah orang yang terlalu banyak berpikir. Aku rasa ia tak sepenuhnya benar. Kenyataannya aku berpikir tanpa aku berusaha untuk berpikir, terjadi begitu saja. Rasa-rasanya ia terjadi seperti bernapas saja, tak pernah kurencanakan.

Beberapa pertanyaan pada akhirnya sangat mengganggu pikiran dan hatiku, ada kalanya ia menghentak-hentak tiap ruang pikirku, menjelma menjadi puzzle yang memberikan efek gatal-gatal karena tak kunjung bisa kuselesaikan. Beberapa yang lain hanya berlalu begitu saja lalu masuk dalam antrian tanya lainnya lalu kemudian muncul tiba-tiba di waktu-waktu tertentu.

Aku sudah terlalu terbiasa menciptakan dialog-dialog imajiner di dalam kepalaku. Sebab ada hal-hal yang tak dapat dipahami orang lain dan aku terlalu malas menjelaskannya kepada orang lain, aku membagi diriku menjadi beberapa bagian dan membiarkan mereka berdialog, berdebat, berkelahi bahkan saling membunuh di dalam kepalaku. Ah, yang begini terkadang lebih nyaman daripada harus menceritakannya kepada orang lain tentang isi kepalaku. Aku sesungguhnya tak bernafsu pada perdebatan dan keharusan kita memilih yang lebih benar. Aku tak butuh jadi juara, sedang banyak yang berusaha mendebatku belum dapat mendebatku secara sebanding atau melepas dogma-dogma di kepalanya agar bisa berdiskusi.

Pada hitungan ketigaratus dari ban-ban yang lalu lalang di hadapanku barulah ada yang menarik. Persis ketika itu pula playlist yang kususun secara acak di ponselku mengalunkan baris ini: “And I’m on my knee, looking for the answer. Are we human or are we Dancer?” (Human-The Killers). Ah, manusia adalah semesta yang sama kompleksnya dengan semesta yang ada di luar dirinya. maka aku tak akan pernah bisa benar-benar tahu yang ada di dalam diri seseorang. Tak akan tahu aku apa yang ada di dalam kepala dan yang dirasakan Ikarus ketika sayap-sayapnya perlahan terbakar ketika terbang terlelu dekat dengan matahari. Atau apakah kiranya yang ada di kepala dan hati Karna ketika ia dengan kepala tegak berjalan ke medan perang mempertahankan kehormatannya ketika ia tahu ia akan kalah? Ah, pada akhirnya aku hanya bisa mengira-ngira saja. Yang benar-benar bisa kutahu hanyalah apa-apa yang ada di dalam diriku. maka apabila engkau merasa aku sangat memahamimu, bisa saja mungkin karena pribadi kita memang mirip atau kondisimu saat ini pernah kulalui dulu. Tapi kurasa memang tak akan bisa seseorang memahami semesta jika ia tak memahami dirinya sendiri.

Kau selalu bilang bahwa hidup adalah mengalami. Tapi rasa-rasanya mengalami hanyalah metode untuk mengenali lebih dalam saja. Ah, tapi tentunya ini hanya perkara diksi saja. Aku yakin yang kita maksud sebenarnya sama. Kemarin bapak menambahkan satu hal lagi saat aku berdiskusi dengan beliau di telepon ; “pertentangan”. Dengan pertentanganlah aku mengalami lebih banyak hingga ‘semestaku’ semakin luas dan aku semakin mengenalku. Ada hal-hal yang membuatku merasa nyaman untuk jujur kepada Bapak. Kenyamanan untuk jujur yang sejauh ini cuma kurasakan dengan ketiga lelaki saja; Mbah Kakung, Bapak dan engkau. Bapak tak melarangku untuk nakal atau ketika aku menjadi sangat destruktif atas eksperimenku kepada diriku sendiri. Ia sangat mendukungku untuk nakal. Tapi ketika aku mulai hilang arah, melampaui batas dan mulai kehilangan diriku lagi Bapak selalu muncul secara tiba-tiba, entah lewat sms yang jarang kubalas atau telepon ditengah malam, sedikit mirip dengan dirimu yang sering muncul tiba-tiba di waktu yang tepat. Ah, Bapak ini bukanlah Ayah kandungku. Tapi apalah artinya darah? Dua puluh dua tahun hidupku mengajarkanku bahwa darah bisa tak berarti apa-apa, sebatas nasib saja.

Lalu aku mulai mempertentangkan segalanya lagi. Ternyata oh ternyata, makin ku kenal diriku, ternyata makin kukenal pula dirimu, pohon di pinggir jalan sana, aspal dan tetesan gerimis yang membasahinya dan tiap partikel semesta yang menyertainya. Akhirnya faham pula aku kenapa Rumi dalam kitab Masnawi menyebutkan bahwa sesungguhnya air, udara sinar mentari adalah makhluk hidup — Bahwa benda-benda mati yang kita posisikan sebagai barang ini sesungguhnya ‘bernyawa’ dan ‘hidup’.

Terlintas pula di benakku; Bagaimana seseorang bisa menyelesaikan orang lain kalau ia belum selesai dengan dirinya? Mencintai orang lain jika ia belum mencintai dirinya? Menepati janji pada orang lain, sedang kepada diri sendiri tak ditepati?

Ah, tetiba aku teringat cerita ketika Rumi menggetuk pintu rumah Syams untuk belajar. Cerita yang sama belakangan baru kutahu dari buku Anthonny de Mello ternyata berkembang dalam sastra di daerah Persia dan Gujarat. Sebuah cerita tentang pecinta dan kekasihnya. Suatu saat sang pecinta mengetuk rumah kekasihnya. Lalu sang kekasih bertanya “Siapa disana?” Sang pecinta kemudian mejawab “Aku.”. Sang kekasih tak bergeming, ia tak membukakan pintu untuk sang pecinta. Hal itu terjadi terus menerus hingga suatu hari sang pecinta kembali mengetuk pintu rumah sang kekasih dan sang kekasih kembali bertanya: “Siapa disana?” kemudian sang pecinta menjawab: “Engkau”, barulah pintu dibukakan oleh kekasih. Melayang pula ingatanku kepada kata-kata Romo Mangunwijaya yang paling meresap kedalam hatiku: ‘“Puncak dari cinta bukanlah kecintaan kepada seseorang atau sesuatu, tetapi kepada rasa cinta kepada cinta itu sendiri.”

Itulah Cinta, ketika keakuan telah tiada, melebur ke dalam Engkau. ketika aku menjadi tiap desir angin, tiap tetes hujan, tiap wajah yang kutemui, kursi yang kududuiki, pulpen yang tengah kugenggam, kertas yang tengah kugoresi — Aku yang kuhidupi. Itulah semua Aku — Cinta itu sendiri. Maka kusayangi diriku selayaknya kusayangi tiap hal yang kutemui, sebab tak ada lagi aku, yang ada hanya engkau.

Ah, ketika aku larut pada jalanan di depanku, tak lagi penting berapa jumlah ban yang berjalan di depanku🙂

dan kemudian mengalun pula perlahan dari kedua headphoneku : The star maker says, “It ain’t so bad”/ The dream maker’s gonna make you mad/ The spaceman says, “Everybody look down”/ It’s all in your mind// (Spaceman, The Killers)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 10, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: