aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Setara, Dekat dengan Debu

Sudah seminggu terakhir ini dengan ajaibnya saya bangun pagi bahkan sebelum alarm handphone berbunyi. Sudah seminggu sejak saya membuat perjanjian dengan diri saya sendiri pula akhirnya semua berjalan seperti dulu, saya tak lagi seperti ikan mati di atas lautan. Kebebasan adalah racun. Pada satu titik bisa saja itu yang dituju. Pada titik lain saya terbentur sebuah kesimpulan bahwa bebas yang sebenarnya adalah sebuah bentuk keikhlasan mengikat diri sendiri pada sesuatu. Tentu berbeda orang yang berada pada jebakan rutinitas untuk sekedar bertahan hidup saja, dan orang yang hidup teratur seperti berada pada rutinitas setelah ia membebaskan dirinya dari kecenderungan untuk bertahan hidup saja. Keduanya akan terlihat sangat mirip dalam tataran metode, tapi sebenarnya mereka berdua jauh berbeda.Tapi untuk paham keduanya memang harus dialami. Sama seperti untuk memahami gelap-terang dengan utuh, kedua sisi haruslah diraba dan dialami, agar sintesa definisi terpenuhi. 

Tapi tak semudah itu. Persis seperti membunuh diri untuk dapat mengenal gelap-terang di dalamnya, kemudian menghidupkan kembali seutuhnya. menyeimbangkan lahir-batin, ide-materil tak segampang itu. pada akhirnya kitalah yang memenjarakan diri kita sendiri. Ya, menghancurkan-membangun adalah sebuah kesatuan, tapi siapa kira membangun kembali menuju titik ekliktik sesukar ini.

Pagi ini sisi impulsif saya sedang memuncak. Pagi sekali saya berjalan keluar dari kontrakan dengan keinginan mencari sarapan. Tapi berada dalam ketidakpastian memang masih menyisakan sisi adiktif yang saya senangi rupanya. Saya sesungguhnya bukan orang yang menyukai keramaian. Saya lebih menyenangi tempat yang sepi dan dikelilingi orang-orang tertentu saja. Tapi selalu ada sesuatu dalam kerumunan yang saya senangi. Interaksi tertentu antar manusia, manusia dengan lingkungannya dan segala hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian seringkali tiba-tiba saya temukan diantara kerumunan. Maka pagi tadi saya berjalan mengikuti keramaian saja tanpa jelas yang saya tuju.

Seperti pelajaran tentang zikir yang saya pahami tadi pagi. Kalau ingin faham apa itu zikir, seharusnya saya tidak ke mesjid atau ke pesantren atau berdiam diri dalam kamar melahap buku-buku agama, berbagai risalah kenabian atau tata cara tertentu dalam peribadatan. Kalau ingin faham tentang zikir harusnya saya keluar dari kamar, ruang kelas dan toko buku lalu bernafas saja. Ya, bernafas saja, rasakan udara tak berbentuk yang memasuki rongga hidung lalu turun ke paru-paru. Tutup mata saja dan rasakan semilir angin yang mengelus mesra. Duduk saja di tengah terik dan rasakan hangat mentari merasuk ke pori-pori kulit. Diam saja dan dengarkan cericit burung pipit di awal pagi. Itulah zikir udara, zikir mentari dan zikir burung pipit. Mereka tak berkata sepatahpun tentang kebesaran Tuhan, mengagungkan nama Tuhan, mengucap 99 nama-Nya yang tertera di Alkitab — mereka menjadi Tuhan, menjadi kedamaian dan menjadi keagungan itu sendiri– dengan atau tanpa sesuatu itu disebut Tuhan atau apapun, hanya dengan menjadi dirinya saja.

Sama dengan nenek yang saya temui ketika sedang beristirahat minum es kelapa muda setelah lelah berjalan tadi pagi. “Assalamu’alaikum” sapanya ketika menyapa teteh penjual es kelapa muda. Saya tersentak. Demi apapun yang saya temui, belum pernah saya temui pribumi tanpa embel-embel kearaban ataupun identitas keislaman yang terlalu kentara melakukan hal itu, lagipula ini bukan di rumah. Si nenek masuk di antara kami yang sedang duduk disana sambil menggenggam dua lembar uang 2000 dan menenteng kresek hitam. Ternyata di dalam kreseknya ada krincingan dan beberapa genggam uang receh– ternyata beliau seorang pengamen. Si nenek memesan es jeruk dan memberikan dua lembar duaribuan kepada teteh penjual. Si teteh itu cuma mengambil selembar saja, padahal aku tahu betul harga segelasnya empat ribu rupiah. kata si teteh, itu cukup untuk balik modal saja. Kemudian si nenek tersenyum memperlihatkan dua giginya yang ompong, mengucapkan terima kasih dan mendoakan si teteh semoga laris, mengucapkan salam lagi, lalu beranjak pergi. Itulah zikir. Zikir si teteh untuk melakukan apapun yang dia bisa bagi orang lain. Zikir si nenek yang berusaha tetap agung dalam hidupnya. Itulah zikir seharusnya.

Ya, sesungguhnya bagiku kalimat “Assalamu’alaikum” punya konsekuensinya sendiri, sama dengan semua zikir yang kita ketahui. Jika saya mengucapkan salam entah dalam hati ataupun secara lisan, ada sebuah konsekuensi bahwa saya menjamin keselamatan orang-orang itu, setidaknya dari kezaliman yang mungkin saya lakukan– itu tak cuma sekedar budaya saja. Tapi tak sedikit kata yang kosong. Rapalan doa berbahasa arab yang mungkin membuat lidahmu terkilirpun bisa saja kosong. Begitu juga apa yang mulutmu komat-kamit sampaikan dalam sujudmu bisa saja kosong. Kata-kata adalah perantara saja. Apa yang berusaha disampaikan kata itu yang jarus saya pahami.

Ah, tapi tak akan ada yang bisa mengubah dunia jika tiap orang didunia ini tak mengurus dirinya sendiri. Yang selesai dengan dirinya sendiri seharusnya barulah boleh berbicara tentang orang lain, kaum, bangsa dan dunia. Pun kalau saya jadi pemimpin tertinggi di dunia ini tak akan ada yang bisa saya lakukan, tak akan ada yang bisa saya ubah. Siapa saya sampai pada akhirnya saya bisa mengubah dirimu? Romo mangun mengingatkan untuk berhati-hati pada kebaikan, pada cita-cita luhur, sebab didalamnya bisa saja diselimuti selubung ego. 

Pada akhirnya kita semua sama saja, setara, dekat dengan debu.

Tapi memang itulah zikir kita semua. Semesta punya kesetimbangannya sendiri, termasuk untuk menempa dan mengarahkanmu agar selesai dengan dirimu sendiri. Jalani saja, jangan lepaskan senyummu🙂

 

 

One comment on “Setara, Dekat dengan Debu

  1. makhluklemah
    January 6, 2014

    Aku baru ‘tersadar’ bahwa alam berzikir menyebut keagungan-Nya. Dan setiap pagi aku mengacuhkan semua itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 5, 2014 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: