aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sebuah Pengingat

Tepat sebulan setelah ulang tahun saya yang ke-22, saya kebetulan bertemu beberapa orang hebat yang sangat saya hormati. Ah, tapi bukankah kebetulan itu tak pernah ada? Kalau kau merasa itu adalah kebetulan, itu hanya keterbatasanmu membaca pola keteraturan semesta. Kalau ada yang paling kuingat dari 2 sks kuliah probabilistik dan statistik lalu dikombinasikan dengan 3 sks kuliah gelombang acak adalah semakin acak (undeterministik) suatu fenomena, sebenarnya dia semakin determenistik (teratur) kadang kala hanya kita saja yang tak bisa melihat keteraturannya. Hal itu bisa berlaku pada acaknya gelombang laut, kecepatan angin, curah hujan ataupun hidup kita ini. Maka tak ada suatu hal yang namanya kebetulan, kalau kau percaya Tuhan, silahkan bahasakan ini sebagai kehendakNya, jika engkau skeptis terhadap Tuhan, sebut saja ini keteraturan setiap variabel semesta yang saling berkaitan. Beliau-beliau yang sangat saya hormati menghadiahi saya puisi-puisi ini. Ya, sebuah hadiah karena muncul di saat yang tepat dan tanpa direncanakan sebelumnya. Disini saya tuliskan kembali murni menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Jadi, jika saya guncang dan hilang arah lagi, ini bisa kembali menjadi mesin waktu saya kesaat itu, membantu saya menggali kesan dan rasa yang itu saat puisi ini dibacakan. Ya, perjumpaan, makna, ketepatan waktu dan kondisi dari puisi-puisi ini adalah salah satu hadiah ulang tahun terbaik saya–dengan segala ‘kebetulan’ yang meliputinya🙂

Perahu Ruh

Warna-warna beraneka berterbangan di angkasa
Kuning, ungu, biru, cokelat, dan
Abu-abu melayang-layang menerjemahkan
Cahaya sehingga angan-angan malamku terbangun
Membuatku tegak
Ngungun
Bersila
Di pusaran angin sendalu
Lalu aku terkimbang
Bagai perahu
Yang disunggi gelombang parau
Pada senja kala yang hitam
Yang ditoreh
Sebersit warna kesumba
Rasa yang bukit, rasa yang laut, rasa yang langit
Mengalir jadi air bah di seluruh nadi-nadiku.
Garis yang lurus berliku-liku seperti sungai Walannae
Mencari ujungnya sendiri yang tersesat dalam hatiku
Kembang nangka, kembang jambu
Memacu lagu nafas pagi hariku
Hai
Kau boleh menebak
Aku cerdas atau dungu
Kakiku
Kukuku
Kenanga, mawar, melati, dan
Cempaka yang mekar di laut
Dan di halaman buku-buku
Adalah sanjungku
Yang menumpulkan
Duri-duri akanku.
Setelah itu
Ada sesuatu yang berdentum
Mengumumkan
Gelap pilihan
Yang sangat cocok
Untuk disibak cahaya terang
Lalu
Sunyi dan bisu
Jadi satu
Di bukit bulu
Lada
Lombok
Lengkuas
Kencur
Kunir
Yang kuning
Menyentuh
Ning
Di ujung kalbu
Ombak
Dan gamelam
Bertalu-talu
Dan
Aku
Menumbuk padi
Di
Lesung
Engsel tulangku
Aku berlayar
Ke negeri kelenjar
Ombak berdebar
Gairah hidup tak terukur
Kesiar kesiur
Dayung berayun
Perahu memanjat gelombang
Lalu meluncur
Ada rasa
Di dalam rasa
Ada hakikat rasa
Di dalamnya lagi
Ada burung perak
Bersayap perkasa logam
Terbang
Memenuhi angkasa raya
Alif Lam Lam Ha
Disingkat jadi Huwa
Jadi Hu
Kusamba kusambi
Cakaci cakacu
cakacakaci cakacakacakacu

Abah D. Zawawi Imron

Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

— Gus Mus

Ah, tak akan ada kata-kata yang bisa menyerupai apa yang saya rasakan saat itu– patah semua kata! Debaran yang itu yang hanya beberapa kali saya rasakan dalam hidup saya, getaran yang itu yang saya rasakan kalau otak dan hati saya sedang damai-damainya, ketenangan yang itu yang hanya sekali dua kali saya rasakan. Ah, kata-kata ternyata sulit membahasakan nuansa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 25, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: