aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Bukan Tentang Natal atau Agama yang Kamu Yakini Benar

Tadi siang saya bertemu orang gila di jalanan dekat gerbang belakang kampus kandang gajah. Saya kira umurnya masih belasan tahun, sedikit lebih muda dari saya. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kotor, bertelanjang kaki pula ia lalui aspal Bandung di siang yang terik tadi. Ia sebenarnya mempunyai sepasang sandal, hanya saja sandal itu hanya ditentengnya saja, jangan tanyakan saya kenapa, saya belum segila dia. Lalu mendadak orang gila ini berteriak histeris, menabrakkan dirinya ke depan mobil yang sedang melaju. Untungnya mobil itu tak melaju kencang. Tetiba sambil berteriak histeris sambil menangis ia memukul-mukul bagian depan mobil itu dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke bagian depan mobil itu.

Saya dan kawan saya yang tengah naik motor berhenti. Orang-orang yang sedang beraktifitas di sekitar sana juga berhenti, menyaksikan dari pinggir, menjaga jarak aman. Saya dan kawan saya bingung, kami tak tega, tapi tak jelas pula bisa berbuat apa. Akhirnya kami cuma bisa melihat dari pinggir saja, hingga si orang gila cukup tenang untuk tak histeris lagi dan mobil itu perlahan-lahan kabur pergi. Dan perlahan-lahan penonton di pinggiran jalan pun beranjak pergi, membiarkan si orang gila menangis histeris sendirian.

Kemarin pagi saya juga temui orang gila ketika sedang bersepeda dari depan kampus ke daerah taman cibeunying. Orang gila yang ini terlihat lebih tua. Entah, saya tak bisa menaksir umurnya dengan persis. Pagi itu dia masih tertidur tengkurap dengan pantat telanjang di atas rumput di kawasan perumahan sekitar cilaki. Sebenarnya ia punya sarung, tapi rupangya dia lebih memilih menjadikan sarungnya itu bantal. Jangan tanya saya kenapa dia tak memakai sarung itu, saya belum segila dia. Atau mungkin baginya sarung yang dipasang di kepala adalah semacam prinsip atau pilihan kenyamanan. Ya, pilihan, mungkin itu diksi yang tepat. Segila-gilanya ia, ia tau apa yang membuatnya nyaman, ia membuat pilihan sekalipun pilihannya membuat ia ditertawakan.

Pernah pula sekali waktu saya main-main ke Rumah Sakit Jiwa di kawasan Jalan Riau. Entah kenapa saya punya ketertarikan tersendiri terhadap orang-orang gila. Jangan tanyakan kenapa, mungkin karena terkadang saya merasa saya adalah salah satu bagian dari mereka. Ada satu orang yang saya hampiri lalu saya ajak ngobrol ngalor ngidul. Saya bicara tentang A dia menanggapi B, saya bicara C dia menanggapi D, tapi ternyata habis juga waktu kami sekitar satu jam dalam kondisi tersebut.

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tulisan Putu Wijaya di rubrik opini Harian Kompas. Ia beropini tentang hukuman yang dijatuhkan di meja hijau. Bagaimana mungkin, seseorang yang berlaku salah dihadapan hukum karena penyakit jiwanya diberikan hukuman secara fisik tanpa mengobati yang ada di jiwanya. Penderita penyakit jiwa disini tak berarti pula orang-orang yang berada di Rumah Sakit Jiwa ataupun di jalanan tadi. Seseorang membunuh tentunya disebabkan oleh sesuatu, kebenciannya, muaknya ia dengan hidupnya atau orang-orang tertentu hingga ia tak bisa menahannya lagi. Seorang pencuri tentunya disebabkan oleh sesuatu, misalnya ketidakmampuannya untuk bersabar, memegang prinsip, tetap berusaha dan bersemangat serta bersyukur di jaman yang serba materil ini. Maka, mereka-mereka ini tak pantas diberikan hukuman fisik, harusnya diberikan pertolongan untuk mengobati jiwanya. Ya, saya sepakat dengan beliau. Tapi, bagaimanapun juga jika dipandang dari ilmu psikologi, sebenarnya tak ada yang waras, kita semua sebenarnya sama-sama gila.

Tapi kegilaan paling absolut ada pada orang-orang yang tak sadar bahwa dia sebenarnya sudah gila. Ada yang jauh lebih gila daripada orang gila dijalanan atau di rumah sakit jiwa atau orang-orang yang berbuat salah di mata hukum karena jiwanya sakit. Kegilaan yang ini sekilas terlihat putih dan indah, kegilaan yang diliputi jubah agama dan nama-nama Tuhan. Ah, tentunya ini bukan semacam kegilaan ekstase rasa Rumi pada Kekasih, bukan pula kondisi saat gibran sedang menjadi Majnun bagiNya– gila mereka ini sih gila yang indah. Gila yang ini berserakan di lini masa di waktu-waktu tertentu. Ibarat burung-burung yang punya jadwal migrasinya tiap-tiap musim tertentu, begitupun kegilaan yang ini, punya waktu kambuhnya sendiri.

Sayangnya saat-saat ini adalah satu dari beberapa waktu kegilaan ini akan kambuh, puncaknya mungkin melam ini atau esok hari. Setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi benar. Bukan menjadi benar agar menjadi ‘budak’ dari Kebenaran. tapi menjadi benar, agar dirinya bisa berdiri di atas kebenaran, agar kebenaran menjadi identitas dari dirinya. Maka berlombalah kita melilitkan jubah bernama agama, aturan, non agama, toleransi dan lainnya ke tubuh kita. berlomba-lombalah kita menjadi penguasa kebenaran.

Sayangnya kita lupa berbuat benar saja, tanpa perlu menguasainya.

Pada titik ini saya jauh lebih bisa menghargai orang-orang gila yang saya jumpai di jalanan, di rumah sakit jiwa, di meja hijau, daripada yang saya temui berkeliaran di lini masa.

Sekali lagi, ini sama sekali bukan tentang natal ataupun agama yang kita yakini benar, tapi tentang bagaimana kita ‘berpakaian’ dan apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan. Adakah kita teriakkan nama Tuhan, tapi sebenarnya Ia tak kita sertakan dalam tiap partikel kecil hidup kita? Adakah kita teriakkan atas nama kebenaran tapi sebenarnya tak jua ia kita hidupi dalam laku kecil kita?

Mari menjadi manusia saja, sebenar-benarnya manusia.

Ah, mari berkaca saja.

2 comments on “Bukan Tentang Natal atau Agama yang Kamu Yakini Benar

  1. Frans Mateus Situmorang
    December 24, 2013

    Ah, bukankah menjadi gila adalah salah satu konsekuensi bagi mereka yang mencoba mencari-Nya?

    Lalu siapakah yang sebenarnya patut disalahkan?
    Kita yang jadi gila karena tak mampu menerjemahkan ucapan-Nya yang jauh melampaui akal?
    Atau Dia yang serba Maha, yang entah apa alasannya mau memberikan kitab-Nya yang agung bagi kita, umat manusia, yang rapuh jiwanya ini?

    • Septia Agustin
      December 24, 2013

      seorang sufi yang bernama Ibnu Al-Arabi suatu saat pernah berkata cem gini te, ada 3 pola yang di ambil manusia saat mendekatiNya, yang pertama, manusia itu berjalan menujuNya, yang kedua manusia itu berjalan menjauh dariNya, yang ketiga manusia berjalan bersamaNya.
      kegundahan dan kebingungan itu konon katanya karena pola pertama dan kedua, dimana manusia itu sendiri memosisikan-Nya jauh dari diri manusia itu.
      Mungkin ujung-ujungnya akan seperti Sidharta Gautama yang setelah berjalan kesana kemari mencariNya akhirnya menemukan diriNya di dalam dirinya sendiri. Kalau dia terasa jauh wajar kitab-Nya yang agung tak kunjung kita pahami.

      Ah, tapi tak segala hal mesti dipahami dari akal te, ibarat sajak-sajak sapardi yang bagiku justru terasa ngehek jika dikaji dengan pisau analisa ketatabahasaan dan sastra dari sudut pandang si anu, keindahan di dalam puisinya terasa berkurang jadinya. Bukankah kau sendiri yang dulu bilang, kalau itu bahasa rasa, tak usah dipaksakan dikelola akal dan mesti diwujudkan sepenuhnya dalam kata, biarkan dia mengalir dan terasa begitu saja, mungkin begitu juga harusnya cara kita memahamiNya, jika akal membentur tak terpahami, rasakan saja. Kata kawanku, rasakan dan jalani saja sampai waktunya tiba, Jibril akan turun dari langit sambil membawa eskrim yg kutunggu. Ah, ngomong apa pula aku ini,,, cem betul! hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 24, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: