aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sebuah Percakapan Tentang Tuhan

Dan suatu hari awal pekan, ketika datang genta kuil menerpa telinga, seorang berucap, “Guru, banyak terdengar orang bercakap tentang Tuhan. Apa katamu tentang Tuhan, dan siapakah Ia sebenarnya?”

Tegaklah ia dihadapan mereka, laksana pohon muda, tiada gentar diterpa angin atau dilanda taufan, dia menjawab, “Coba gambarkan, sebuah hati yang meliputi segenap hati kalian, suatu cinta yang mencakup seluruh cinta kalian, suatu jiwa yang merangkum segenap jiwa kalian, suatu suara yang meliputi semua suara kalian, dan suatu keheningan yang lebih dalam dari semua keheningan yang abadi.

Carilah kini, dan rasakan dalam liputan kabut kedirian, dapat kaupahami keindahan yang lebih elok daripada segala keelokan, sebuah kidung yang lebih agung daripada nyanyian samudera dan belantara, wibawa yang bersemayam atas tahta, galaksi Orion hanya laksana penyangga kakinya, memegang tongkat tanda wibawa, dan galaksi Pleiades tiada lebih dari kedipan permatanya.

Kau yang selamanya hanya mencari pangan dan papan, sandang serta tongkat perjalanan; carilah kini yang Satu, yang bukan sasaran panahmu, bukan pula gua tempatmu berlindung.

Dan apabila kata-kataku hanyalah karang serta penghalang, cari jualah, demi terkuaknya hatimu, agar pertanyaan ini mengangkat diri pada kasih dan kebijaksanaan Mahatinggi, yang disebut Tuhan.”

Mereka pun terdiam, semua bungkam membisu oleh hati yang tercekam ; Almustafa tergetar oleh rasa iba kepada mereka, ditatapnya semua dengan pandang mesra, sambil berkata, “Baiklah kita tak bicara lagi tentang Tuhan, Mahaagung. Mari berbincang tentang tetangga dan sanaksaudara, tentang unsur-unsur alam di sekitar wisma dan ladang garapan.

Dalam khayalan kalian akan terbang ke tengah awan, dan menganggapnya telah amat tinggi; kalian menyeberangi lautan luas, mengira menempuh jarak teramat jauh. Tetapi aku berkata; bila kau tanam benih dalam tanah, akan kau capai ketinggian lebih melangit; dan bila kau sambut pagi jelita dengan sapaan suka cita pada tetanggamu, kau telah mengarungi samudera yang luas.

Terlalu sering kau nyanyikan nama Tuhan, yang Maha Agung, namun sebenarnya kau tak pernah mendengar lagu yang sebenarnya. Lebih baik kau dengarkan kicau burung yang menyambut sinar pagi, dan gemerisik dedaunan gugur tertiup angin kencang, pesanku lagi, ingatlah ini: Baru akan terdengar simfoni, tatkala daun gugur ke bumi!

Sekali lagi kuminta, jangan sembarangan membicarakan Tuhan, yang adalah Segala, namun pupuklah saling mengerti antar kalian, tetangga dengan tetangga, pujaan dengan pujaan, teman dengan teman.

Sebeb, siapa yang akan menyuapi anak burung dalam sarang apabila induk terbang ke angkasa? Dan bunga anemon mana yang akan terbuahi, apabila tidak disantuni lebah dari anemon lain?

Baru ketika tercekam dalam gua sempit, kau terpikir mencari langit yang kausebut Tuhan. Tembus dulu tabir pribadi besarmu; jangan tinggal diam berpangku tangan, mulailah membabat hutan rasa dan pikiran!

Para Pelaut dan Teman-temanku, lebih bijaksana tak kita bicarakan Tuhan, yang tidak kita mengerti, lebih utama kita persoalkan perihal yang dapat kita pahami. Namun engkau tahu bahwa kitalah napas dan wewangian Tuhan. Dia pun bersemayam dalam dedaunan, bunga-bungaan dan buah-buahan.”

Dikutip langsung dari buku ‘Taman Sang Nabi’ karya Kahlil Gibran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 20, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: