aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sanyasi

Pembagian siang dan malam bukanlah untukku, demikian pula pembagian bulan dan tahun. Untukku arus waktu telah terhenti, di atas gelombang-gelombang dunia enari laksana jerami dan ranting. Di dalam gua ini aku sorang diri, tenggelam dalam diriku — dan malam abadi sunyi, bagai danau pegunungan yang takut akan kedalamannya sendiri. Air berlinangan dan menetes dari celah-celah, dan di kolam-kolam mengembang katak-katak purba. 

Aku duduk menyenandungkan mantra-mantra ketiadaan. Batas-batas dunia undur ke belakang, segaris demi segaris. Bintang-kemintang, bagaikan api memijar, yang terhembus dari landasan waktu, telah sirna dan kegembiraan itu adalah milikku yang datang kepada Dewa Syiwa, yang setelah mimpi ribuan tahun terjaga untuk menemukan dirinya seorang diri di dalam jantung kebinasaan yang abadi. 

Aku bebas, aku Makhluk agung yang terasing. Tatkala aku masih menjadi budakmu, wahai Alam, kau telah menghasut hatiku untuk melawan hatiku sendiri, dan membuatnya bertarung sengit untuk melakukan bunuh diri dalam dunianya. Hasrat-hasrat yang tidak punya tujuan kecuali melahap dirinya sendiri dan segala yang datang pada mulutnya,  telah menderaku sehingga aku meradang.

Aku lari berkeliaran untuk memburu bayanganku seperti orang gila. Dengan lecutan-lecutan kesenangan yang menghalilintar kau telah mendorongku kedalam kekosongan kepuasan. Dan kelaparan-kelaparan yang merupakan penggodamu, telah membimbingku ke dalam bencana kekurangan yang tak ada habis-habisnya, makanan telah berubah menjadi debu dan minumanpun menjadi uap. 

Akhirnya, setelah duniaku penuh bergelimangan air mata dan debu, akupun bersumpah bahwa aku akan membalas dendam terhadapmu, wahai Wujud yang tiada berakhir, ratu penyamaran yang tiada pernah habis. Aku berlindung dalam kegelapan — dalam puri keabadian — dan berjuang melawan cahaya yang menyesatkan, dari hari ke hari, sampai ia kehilangan segala senjata dan kemudian tergolek tak berdaya di dekat kakiku. 

Kini, setelah aku bebas dari perasaan takut dan hasrat, setelah kabut menjadi lenyap dan akalku memancar secara murni dan cerah, biarkanlah aku pergi memasuki kerajaan dusta, dan duduk di atas jantungnya, tanpa tersentuh dan bergerak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 20, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: