aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Dunia Dari Ruang Gelap

“jadi, bagaimana sejauh ini engkau menghidupi hidupmu?”

Pertanyaaan itu terus berputar dan kutagih jawabannya kepada diriku sejak siang tadi. Bagaimana tidak, beberapa kejadian yang tak terduga belakangan makin menyeretku ke dalam jurang ketiadaan keputusan. Sejauh ini aku memilih menjejakkan sebelah kakiku di dalam ruang gelap dan sebelah kakiku di dalam ruang terang. Seorang kawan mengingatkanku kemarin, diantara 7 deadly sin yang ada di diri manusia, yang bertahan di diriku adalah greedy (ketamakan). Aku tidak menerimanya, kalau kunilai diriku sendiri, yang menjadi masalah utamaku adalah pride (kebanggaan). Tapi mungkin ia benar, justru karena aku tak menyadarinya maka itu menjadi dosa yang berbahaya bagiku. Pada akhirnya aku menginginkan semuanya terjadi, aku ingin mempelajari semuanya, aku ingin semua idealita dalam kepalaku terjadi meski disaat yang sama kupahami juga dari hati yang terdalam perkara takdir dan keteraturan semesta– pada akhirnya aku tak bergerak kemana-mana.

Belakangan aku bosan. Mungkin aku bosan karena kebingungan–karena aku pada akhirnya tak memutuskan apa-apa. Mungkin karena pada akhirnya aku melihat banyak warna dan menginginkan semuanya. Akibatnya, aku tak merasa hidup lagi. Aku merasa hampa, bukan kosong, karena dalam kosong terasa sesuatu yang ada, entah apa. Dalam hampa yang ada adalah resah, bahkan tanpa aku mengerti penyebabnya. Aku tak lagi merasa hidup, kembali tak peduli pada hidupku sendiri

Lalu tanpa sengaja aku berkenalan dengan orang-orang ini. Disaat aku sebenarnya sedang lari dari segala hal, dari kompleksitas pikiranku, dari tanggung jawabku, dari keinginanku untuk mendiskusikannya denganmu. Mereka adalah orang-orang yang hanya mengenal sedikit warna sejak awal, dunia di mata mereka buram atau bahkan gelap. Belakangan di waktu-waktu pelarianku aku cukup sering main-main di sebuah sekolah luar biasa, entah apa pula yang membawaku kesana, tak jelas ujung pangkalnya.

Tapi darisanalah kembali kutemukan makna. Sesuatu yang mahal karena kesederhanaanya. Mungkin aku memang terlalu cepat meraba banyak warna tanpa menjalani sedikit demi sedikit warna sebenar-benarnya, aku mengetahui apa-apa yang sebelumnya belum sempat kuemban secara batin dan lahir. Mayoritas sahabat-sahabat dan guru-guruku disana adalah orang-orang yang bermasalah dengan penglihatannya. Sebagian tuna netra, sebagian memiliki penglihatan sangat terbatas sedari kecil. Maka dunia di mata mereka adalah dunia yang sempit, yang cuma berwarna sedikit.

Mereka orang-orang yang lebih hebat dari manusia lainnya. Dari gelap dan sedikitnya warna yang mereka kenal, mereka ciptakan dunia sendiri. Dunia dari ruang gelap yang kemudian dari kegelapan perlahan-lahan dunia itu mereka hidupi, mereka beri bentuk, mereka beri cara kerja sendiri, mereka beri aturan sendiri, mereka ciptakan kesenangan sendiri tanpa mempertentangkannya dengan dunia kita yang rumit dan terlalu banyak warna. Ya, dari pada melakukan pertentangan, mereka lebih melakukan sinkretisasi, menciptakan harmoni sendiri dari dunia yang ada.

Aku terpukau saat melihat beliau-beliau ini menjalani dan memberikan arti dalam hidup mereka sendiri. Ada semacam durabilitas hidup yang kurindukan. Ada hidup yang sebenar-benarnya dihidupi. Ada kegelapan yang didalamnya terdapat sejuta warna,  sangat berkebalikan dengan aku yang mengenal sejuta warna tapi hanya gelap kurasa akhir dari semuanya.

Ada syukur, penghargaan dan ketulusan yang mahal disana. Sesuatu yang sebenarnya sangat biasa, tapi justru sangat mahal untuk aku temui saat ini. Tiap sebelum kelas mulai para pelajar selalu mengucap syukur kepada semesta dan berterimakasih pada teman-teman disekitarnya. Bagaimana tidak, keterbatasan mereka membuat mereka berinteraksi satu sama lain dalam kekurangan masing-masing, setiap manusia disana ternyata satu. Mereka satu tubuh yang jika satu luka yang lain merasa sakitnya. Bullshit besar dengan yang selalu berkoar-koar bahwa kaum muslimin itu satu tubuh, yang satu luka yang lain merasa sakitnya. (sejauh ini) Bukan dari mesjid, ceramah agama atau dakwah kampus hal itu kurasakan, tapi dari mereka-mereka ini. Mungkin kita harus mengakui, yang kita bicarakan sekedar konsep saja. Atas nama agama kebanyakan dari kita cuma sekedar onani otak dan merekayasa hati saja. Tapi merekalah yang bertindak berdasarkan rasa, bukan rasa  kasihan (yang sombong) pula yang membuat mereka saling membantu satu sama lain. Tapi karena rasa saling menghargai dan membutuhkan satu sama lain tanpa ego pribadi yang terlalu tinggi.

Maka jangan sesekali engkau merasa kasihan kepada kawan-kawanku ini. Mereka bukan orang yang butuh dikasihani. Karena sesungguhnya bisa jadi mereka bahkan lebih hidup daripada kita sendiri. Lagipula, aku selalu merasa bahwa rasa kasihan adalah rasa yang sombong dan mahal. Adalah kesombongan diri yang merasa lebih sempurna, lebih tahu dan lebih bisa yang membentuk rasa kasihan. Siapa kamu sampai merasa lebih dari mereka? Maka kalaupun ingin melakukan sesuatu, singkirkanlah pelan-pelan ego di dalam rasa kasihan. Jangan lakukan karena merasa bisa menolong, karena sesungguhnya tak ada yang perlu ditolong, kalaupun nantinya ada yg merasa paling ditolong, itu adalah dirimu sendiri. Jangan juga lakukan dengan keinginan untuk mendapat berkah atau jaminan surga, tidakkah ego dan keinginanmu yang sebenarnya sedang engkau beri makan? Lakukanlah karena kita sesama manusia yang sebenarnya satu, saling memahami satu sama lain. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang durabilitas hidupnya tak perlu ditanyakan lagi.

Sejujurnya aku sangat terkejut ketika mereka semudah itu memberikan kepercayaannya kepadaku. Mereka yang baru kukenal satu dua menit tak sungkan merangkul lenganku untuk berjalan bersama. Sementara pikiran dan hatiku yang masih sering terkontaminasi ini tak akan bisa langsung percaya sepenuhnya kepada seorang asing. Hidup mereka adalah sebuah keluguan murni, kebiasaan, sesuatu yang diulang-ulang setiap hari sampai mereka benar-benar terbiasa. Cara mereka mengajar dan belajar, menulis dan membaca braille, berjalan dengan tongkat, mengorganisir hidup mereka, memakai handphone, mengoperasikan komputer, menghargai manusia, adalah sebuah bukti bahwa dalam gelap mereka punya begitu banyak warna.

Aku selalu menolak menjalani kehidupan yang begitu prosedural ; bayi-kecil-sekolah- remaja-kuliah-lulus-bekerja-menikah-punya anak-mati. Dari beberapa tahun yang lalu aku selalu menolak untuk menjalani prosedural itu tanpa jelas yang kutuju sebenarnya. Tapi makin kucari pola yang kuinginkan, makin kulawan hal-hal itu makin kurasakan hampa. Dari mereka kusadari, mungkin yang prosedural dan berulang-ulang itu tak seburuk yang kupikir ; jika dan hanya jika kutemukan warna dan bentuk yang sebenarnya, hidup sesederhana itu justru adalah surga; jika dan hanya jika telah kukantongi maknanya, hidup yang biasa itu justru adalah luar biasa; jika dan hanya jika kulalui dengan cinta kasih di tiap pertikel terkecilnya.

Maka kuputuskan saja, tiap-tiap warna yang kukenal kutata ulang, kuberikan ruang pada masing-masing warna, lalu perlahan-lahan aku masuk di dalamnya, kuraba dan kubentuk tiap warna–bukan hanya sekedar melihatnya dan mengetahuinya dari jauh saja. Sekarang sedang kumasuki ruang kegelapan, dan tahukah kamu? ternyata di dalamnya kutemukan sejuta warna.

jadi, jika malam ini kutanyakan kepada diriku sendiri ‘bagaimana caramu menghadapi hidupmu?’ telah kutemukan dan kujalani jawabannya–aku jadi anak kecil lagi.

P.S : perkenalkan dua guru hebat, Bu Ade dan Bu Aan, yang mengajarkanku banyak hal tanpa mendikte, ceramah di atas mimbar, berorasi di depan parleman– hanya dari keseharian dan kesederhanaan mereka yang mahal🙂 (*aaaaah koneksi lagi bermasalah, nanti saya upload fotonya)

P.P.S : bukankah makna dan nilai bertebaran di semesta ini? Hanya saja kita yang tak cukup rendah hati untuk mengenalnya.

4 comments on “Dunia Dari Ruang Gelap

  1. makhluklemah
    December 18, 2013

    Tulisannya keren sekali,,

  2. astie
    December 26, 2013

    “dalam hampa yang ada resah” dan menurutku dalam kosong tidak ada rasa. nice writing anyway🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 18, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: