aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Dengan Sayang

There is only one evil, one crime, one sin : the lack of heart

— Multatuli

Rasa sayang adalah sebuah bencana dan anugerah yang memenuhi isi bumi ini. Jika kita telaah dari lini masa, pembunuhan pertama yang terjadi diceritakan dalam Kitabullah juga berawal dari rasa sayang, pemberontakan besar-besaran dalam sejarah kehidupan bernegara dan pembunuhan masal atas nama kepentingan bersama juga berasal dari rasa sayang.

Lalu dari mana datangnya rasa sayang? Apakah itu adalah rasa sayang apabila rasa sayang seseorang terhadap sesuatu akan menghancurkan sesuatu yang lainnya? Jangan utarakan pertanyaan itu pada sang pecinta, sebab dunia di matanya hanya diisi oleh kekasih–tiada yang lainnya, rela hatinya untuk membunuh dunia seisinya demi sang kekasih.

Begitulah hidup dan dunia ini kita olah dari jaman ke jaman— dengan sayang kita hancurkan sebuah peradaban, kita bangun sesuatu yang lebih megah di atasnya, dan dengan sayang pula sesuatu itu dihancurkan yang lainnya. Tapi bagiku itu bukanlah rasa sayang. Akan tiba disatu titik dimana kita tertipu dengan rasa sayang itu — kita tidak mencintai yang jadi “inti” dari rasa sayang itu, yang kita cintai adalah diri kita yang kita cerminkan dari objek yang kita sayangi itu. Demikianlah bagiku, pembelaan dengan sungguh-sungguh terhadap bangsa, negara, ideologi atau ajaran adalah bohong belaka.

Mungkin rasa sayang adalah sebuah konsep yang terlalu tolol untuk diterapkan secara top-down dan besar-besaran. Rasa sayang jadi kehilangan esensinya jika dimasukkan dalan ruang-ruang bernama negara, ajaran, ideologi, ras dan agama dan berusaha diorganisir oleh sebuah institusi— rasa sayang cuma berubah jadi ego pribadi saja.

Mungkin rasa sayang serupa kerajinan tangan tanah liat yang mesti dibuat secara pribadi biar nilai barang tersebut berharga, tak bisa diproduksi secara masal di pabrik. Biar tiap lekuk yang ada dari gerabah yang diproduksi adalah interpretasi dari makna rasa si pengrajin, bukan sekedar gerabah dingin tak bernyawa yang diproduksi mesin, sesempurna apapun ia.

Mungkin kesalahan terbesar kita adalah karena kita tak lagi memakai ‘hati’ dalam tiap-tiap yang kita lakukan– rasa sayang adalah sebuah barang langka. Aku justru belajar rasa sayang bukan dari pejabat tinggi pemerintahan, petinggi agama atau profesor di sekolahan. Rasa sayang kudapatkan dari jalanan– dari ibu-ibu penjual lotek di simpang dago yang selalu melayani dengan senyuman, sapaan hangat dan selalu ingat pesanan tiap pelanggannya– dari kakek tua yang menjadi tukang parkir shift malam di simpang dago yang selalu menanyai ‘mau kemana’ dan berpesan untuk hati-hati sampai tujuan kepada orang yang tak sengaja bertatapan mata dengannya di malam hari– dari seorang tukang angkot yang selalu tersenyum tiap kali ada penumpang yang turun– dari penjaga loket kereta api di stasiun jakarta kota yang selalu mengucapkan ‘terima kasih’ dengan senyuman yang tulus kepada ratusan orang yang antri tiap harinya.

Yang kita diami adalah hidup yang tidak hidup. Memang, tak ada yang perlu diubah dari hidup. Sebab hidup yang terasa adalah yang tercermin dari hapi paling dalam. Sejenak aku memang mati rasa, sebuah fenomena yang biasa disebut Nietzsche sebagai witticism— sebuah keadaan dimana rasanya hampa saja yang mengisi ruang hati, sebuah kematian dari perasaan. Aku cuma merasa tak ada yang bisa diubah saja di duniaku yang tak kunjung bisa kumaafkan ini. Tapi aku cuma lupa, bukannya tak bisa diubah, memang tak ada yang perlu diubah di luar. Jika ada satu hal yang perlu kutata–bukan kuubah– adalah hatiku sendiri, tempat bersemayamnya semesta ini.

Terus aku teriak ke langit yang berputar bertanya ; “Mana Lampu milik Takdir tuk arah anak-anaknya yang dalam Kegelapan bingung?” Dan langit menjawab — “Pengetahuan Buta!”

– Omar Khayam

 

Mungkin jika tiap-tiap manusia menata hatinya sendiri saja, menggali rasa sayang terhadap semesta– rasa sayang tanpa batas-batas wilayah, ideologi atau ajaran, ketika itulah seisi dunia ini berjalan dengan sayang, mungkin itulah surga.

Ada pintu yang kuncinya tak aku dapatkan; Ada kerudung yang membuatku tak melihat; Ada agama yang membuatku terikat, tak paham diriku sendiri. Tapi baru sejenak bicara Aku dan Engkau, tampaknya Engkau dan Aku sudah tak ada.

 

2 comments on “Dengan Sayang

  1. imWie~
    December 12, 2013

    Waoooo.. ~
    Km menjaddi wanita yang sedikitan.
    Karena pemikiranmu diluar wanita kebanyakan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 10, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: