aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Abaikan Saja Racauan Ini

Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya kita kejar hingga dini hari ini. Pada akhirnya aku mendamparkan diriku ke tempat ini. Tempat yang sama seperti hari-hari lalu jika tak ingin kudekap malam sendiri sementara ada konser tersendiri yang bersuara ribut di kepalaku. Mungkin di kali lain, jika engkau tetiba hendak menemuiku menghadang pagi, datanglah kesini.

Apakah yang sebenarnya kita kejar? Hingga menjelang pagi kita benamkan kepala kita di runtutan angka dan data yang harus diolah — mengejar deadline katanya. Apakah yang sebenarnya kita kejar? Hingga menjelang pagi kita sibuk sendiri mengejar setoran atas apa-apa yang kita janjikan tapi tak sempat kita gapai. Apakah yang sebenarnya kita kejar? Hingga menjelang pagi tak lepas senyuman dari seorang gadis yang menatap hangat seorang pemuda, adakah itu cinta? Apakah yang sebenarnya kita kejar? Sehabis dentuman musik di lantai dansa tadi kita berbondong-bondong kesini. Adakah lepas kita rasa? Apakah yang sebenarnya kukejar? Kupandang hampa tiap mata-mata yang tak terasa nyawanya, kujejaki jalanan sendiri di ruang yang semakin membeku tadi, kbiarkan dentuman-dentuman di otak dan hatiku semakin ribut saja. Aku sebenarnya ingin berjalan kemana?

Sebagian orang terlalu miskin sampai-sampai yang ia punya adalah uang. Sebagian merasa sangat kaya karena cinta dan kehangatan telah dimilikinya, mereka tak lagi memasukkan variabel uang dalam kebahagiaannya. Tapi sebagian lagi tak cukup beruntung untuk mengenal cinta. Ah, bukan cinta murahan ala sinetron yang kumaksud disini, tak jua secetek cinta lelaki dan perempuan saja, tentu engkau bisa paham maksudku. Tapi baru aku pahami, jatuh cinta bukan perkara gampang. Jatuh cinta ternyata adalah proses dua arah: memberi dan juga menerima cinta–persis seperti pintu yang engkau buka lebar, ada yang masuk dan ada pula yang keluar dari pintu itu. Memberi cinta bagiku perkara gampang, tapi tidak menerimanya. Alasannya? Kalau engkau kuberi tahu, berarti telah kubuka sedikit pintu itu untukmu.

Kali ini Tagore rupanya menertawaiku. Ah, aku benci rupa tuanya yang menjadi cover  buku ini. Ia semakin merusak otak-hatiku saja atas segala yang kugali dan kupaksa cerminkan malam ini. Aku kesal dengannya, sebab terlalu dekat rasanya tulisan-tulisannya denganku. Ah, orang sepertiku tak akan pernah meminta, sekalipun aku butuh, sekalipun sempat engkau janjikan. Tak kunjung aku tahu janjimu saat itu datang dari hatimu atau cuma obrolan kosong saja. Tapi tak sudi pula kutagih semuanya, sekalipun aku membutuhkannya. Sekali lagi, aku tak akan meminta. Jika engkau sebenar-benarnya ikhlas, aku tahu engkau akan muncul dengan sendirinya. Ah, entahlah. Ada yang hanya bisa kubagi dengan orang-orang sejenis– denganmu khususnya. Bukan perkara kenyamanan atau aku ada rasa. Bukan. Sebab hal-hal semacam ini terlalu berbahaya untuk dibicarakan dengan orang lain– bukankah tidak mengetahui adalah sebuah anugerah tersendiri dan mengetahui bisa menjelma menjadi kutukan?

Belakangan rasanya berbeda–terutama saat kusadari beberapa hal. Terbiasa melihat dari sudut pandang orang pertama, kedua dan ketiga sekaligus ternyata sangat berbahaya, apalagi jika semuanya berujung pada samudera kehampaan tak berdasar. Haruskah aku takut jika tak ada lagi yang kutakuti? Apa yang akan engkau lakukan jika perasaanmu ditengah-tengah? Jika engkau tak lagi merasa sangat takut, sangat senang, sangat benci, sangat menginginkan sesuatu atau seseorang — sedang perekayasaan dalam bentuk apapun tak lagi mempan? Ah, rasanya seperti mengapung ditengah lautan saja.

Belakangan hidup tak lagi menyenangkan — sedang matipun sama tak menariknya.

Ah, Bahagia dan Cinta– benda apa sebenarnya mereka itu? Terasa begitu asing bagiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 7, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: