aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Let’s Collapse All The System, Dear

Jika bisa, aku ingin hidup dalam dunia yang ada di dalam kepalaku. Ah, bukan! Biar kukoreksi, aku ingin menghidupi dunia di dalam kepalaku. Bagaimanapun juga, menurut statistik manusia-manusia di dunia hanya hidup hingga umur 50 tahunan saja, beda sekali dengan orang-orang ‘jaman tua’ yang rata-rata hidup hingga umur 70 tahun. Maka, jika berdasarkan statisitik tersebut, mungkin saja saya akan mati umur 59 tahun, berarti di detik ini saya masih punya 37 tahun hidup lagi. Ah, tapi sepertinya hitungan pragmatis ini akan langsung dibantah oleh kawan saya sambil membawa beberapa tabel dan metode pendekatan perhitungan rerata umur manusia. Tapi tak apalah, bukan angka eksak yang jadi poinnya disini.

37 tahun bisa menjadi waktu yang lama dan sekaligus sebentar, sebenarnya tergantung bagaimana cara saya menghidupinya. Saya benci dunia yang saya tinggali ini. Jika sempat dan jika hanya sempat bolehlah kiranya dunia di kepala saya ini yang saya hidupi selama tahun-tahun ke depan. Sebuah dunia tanpa sistem.

Saya tak butuh negara. Saya tak butuh hukum dan penegaknya. Saya tak butuh sistem ekonomi beserta uang sebagai nilai tukarnya. Saya tak butuh seseorang sebagai pemimpin tertinggi. Saya tak butuh ras atau batasan-batasan wilayah sebagai identitas kedaerahan. Saya tak butuh aturan-aturan moral. Bahkan, saya tak butuh agama sebagai pengikat. Baiknya hancurkan saja semuanya.

Pada akhirnya saya yang ini terjebak pada sistem tertentu, kemanapun saya pergi, apapun tindakan saya–semuanya adalah pengekangan, secara langsung atau tidak langsung. Setiap orang di hidup yang ini ternyata adalah objek dan korban bagi sesuatu yang lainnya. Maaf kalau terdengar sinis, tapi bisa saja hidup yang kita jalani ini sebatas masalah survival saja, terutama ketika tiap-tiap individu terjebak, dijebak dan menjebak dirinya sendiri atau orang lain dalam sistem-sistem tertentu. Lalu tiap-tiap sistem membuat skenarionya sendiri yang kasat mata, membuat tiap-tiap individu di dalamnya mempertahankan apa yang sebenarnya semu. Tak apalah sebenarnya, bisa saja perjuangan tiap-tiap individu itu memberikan arti lebih pada hidupnya, memberikan semacam gejolak biar hidupnya lebih bermakna.

Maka atas nama bangsa, atas nama negara, atas nama kapital, atas nama minyak bumi dan logam mulia yang bersarang dibawah tanah yang kita tinggali, atas nama budaya yang kita cintai sebagai identitas pribadi, atas nama kapital yang mengalir memutar dan kita pertahankan untuk berputar banyak di wilayah kita, atas nama kesukuan dan unsur-unsur moral serta budaya di dalamnya, atas nama perkembangan sains dan teknologi yang sebenarnya adalah ‘jual nama’, atas nama agama, kecintaan terhadap Tuhan, nabi, kitab tertentu, atas nama anti agama karena dendam pribadi, atas nama surga, neraka serta pahala dan dosa — kita saling membunuh, kita jebak diri kita dalam benang kusut sistem pranata sosial sejak dahulu kala ini.

Ah, pengetahuan memang sebuah kutukan. Sama terkutuknya seperti aku ataupun kamu yang merasakan keresahan yang sama. Terkutuklah kita yang tidak tenang menghadapi hidup yang begini, tapi untuk melawanpun tak kunjung kita temukan cara yang tepat.

Maka sayangku, jika sempat ada waktu, baiknya kita rubuhkan saja sistem yang ini. Entah dengan apa akupun masih belum terbayang. Otakku yang biasanya dipenuhi strategi dan rencana-rencana taktis langsung patah jika kupakai pola pandang semesta. Aku tahu persis apa yang akan kulakukan tak akan berpengaruh banyak di jamanku. Tapi entah puluhan atau ratusan tahun ke depan. Bukankah tak sedikit saintis ataupun musisi yang karyanya baru diakui sekian tahun setelah ia mati? Ah, aku rupanya belum punya keberanian seorang Karna, si ksatria dalam Mahabarata yang tetap teguh maju ke medan perang memperjuangkan prinsipnya sekalipun ia tahu bahwa ia akan kalah dan mati. Rupanya aku juga belum punya keikhlasan Bisma Dewabarata, guru para Kurawa dan Pandawa yang mengambil jalan sunyi dan meninggalkan tahta. Pun rupanya belum juga aku punya kebijaksanaan seorang Semar, yang meskipun seorang Batara, lebih memilih menjadi jelata,menjadi jembatan antara penguasa dan papa, memastikan tiap ksatria benar-benar menjadi ksatria.

Yang aku tahu, tak bisa rupanya aku menghidupinya sendirian. Maka jikalau ada waktu, inilah ajakanku hanya untukmu, sayang. Mari hancurkan semuanya. Mungkin dimulai dengan kita saling jatuh cinta saja. Ah, mungkin cinta memang jawaban dari semua bencana ini. Karena hanya dengan cinta dan kasihlah tiap-tiap individu yang punya nurani akan menghapus batas-batas negara, suku, budaya, ekonomi dan agama–akan menghancurkan dinding-dinding batas sistem ini.

Maka sayang, jika dan hanya jika engkau mau meluangkan waktumu, mari kita saling jatuh cinta–selagi kita sama-sama masih punya waktu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: