aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

“Menjadi” dan “Bebas”

Kalau ada hal yang paling saya syukuri dari menjadi manusia adalah kemampuan berempati, kemampuan mengasihi dan mencintai, kemampuan menebas kepala ego sendiri untuk orang lain. Tapi sekali lagi, rupanya manusia adalah persoalan “being (menjadi)” bukan persoalan dilahirkan. Seseorang bisa saja dilahirkan ke dunia, tapi belum tentu ia bisa menjadi manusia.

Berbicara “menjadi manusia” sama saja kita berbicara soal moralitas — hal-hal kecil yang membedakan manusia dengan binatang. Tapi bagi saya moralitas disini bukanlah sekedar moralitas yang berasal dari adat istiadat, aturan-aturan kenegaraan ataupun aturan-aturan agama. Hal-hal itu bisa saja menjadi tahapan awal dari proses menjadi manusia ini, tapi tidak akan bisa menjadi semua prosesnya. Tentu berbeda, sebuah keteraturan yang terjadi dari penjalanan aturan-aturan dengan sebuah keteraturan (bahkan mungkin ketidakteraturan) yang bersumber dari kesadaran seorang insan. Sama halnya dengan seseorang yang membuang sampah pada tempatnya karena takut hukuman dan seseorang yang membuang sampah pada tempatnya karena kesadarannya dan kecintaannya terhadap alam. Dalam kerangka pikir yang rigid tentu kedua hal itu menghasilkan output yang sama–tapi bukan berarti hal tersebut sama persis. Bagaimanapun juga saya lebih memilih hal kedua walaupun akan menciptakan chaos di dunia.

Sejujurnya saya jengah melihat lini masa twitter belakangan. Saya semacam berfikir untu deactivate akun itu saja. Saya jengah dengan kebencian yang secara tidak langsung disebarkan oleh semua pihak, entah berkedok agama atau anti agama, entah berkedok ras, entah berkedok gender, entah berkedok komunitas, entah berkedok politik, apalagi yang mengawinkan agama dan politik– semakin kesini rasanya pancingan-pancingan kebencian saja isinya.

Dunia 3.0 atau yang lebih kita kenal sebagai dunia tanpa sekat ini memang berbahaya. Sangat berbahaya bagi kita yang berfikir kita “bebas” karena ketiadaan sekat-sekat ini. Saya pikir hal awal yang harus kita sadari adalah bahwa kebebasan itu tak pernah ada. Silahkan mencoba terbang, di satu lapis langit akan engkau sadari bahwa engkau sebenarnya terikat. Sama halnya dengan pensil yang terus menerus saya lihat ini, secara kasat mata memang tak ada yang berubah, tapi dalam persepsi kuantum akan ada yang berubah– hanya saja mata saya tak mampu menangkapnya, lalu karena tidak memahami hal ini otak saya langsung saja memproses bahwa “tak ada yang berubah”.  Begitu pula soal “bebas” ini. Kehendak bebas tak ada, kebebasan penuh tak pernah ada, semuanya pasti dipengaruhi oleh interaksi antar variabel yang ada di semesta. Orang beragama mungkin akan menyebutnya dengan ‘kehendak Tuhan’ dan para saintis akan menyebutnya dengan ‘keteraturan semesta’ — tak apa tak ada bedanya.

Saya teringat dengan diskusi Zacot, seorang antropolog Prancis dan para peserta diskusi Bajo Networking Program kemarin — dalam persepsi seorang antropolog, Zacot sangat memuja kearifan lokal, cara hidup dan budaya suku Bajo yang memiliki caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Sebuah cara hasil sintesa interaksi suku mereka dengan lingkungannya sehingga menghasilkan metode-metode dan budaya yang indah. Suku Bajo merupakan salah satu suku yang cara hidupnya paling ‘bertahan’ di antara suku-suku lain. Mungkin karena terisolasinya tempat tinggal mereka dan penolakan mereka terhadap modernitas. Orang-orang kota tentulah melihat bahwa mereka lebih “bebas” daripada suku Bajo– dengan kemudahan mendapatkan informasi, kemewahan hidup (ala orang modern) dan mobilisasi antar tempat yang semakin mudah. Tapi apakah begitu? Ada satu titik yang harus disadari oleh orang-orang modern bahwa kebebasan merekapun dikendalikan– dengan atau tanpa mereka sadari.

Tak ada yang benar-benar bebas, semuanya budak bagi sesuatu. Kecuali telah bebas saya dari hal yang paling kecil dan sederhana — diri saya sendiri. Di titik itu mungkin saya tak akan butuh kata “bebas” lagi, tak juga butuh kata “menjadi”. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 2, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: