aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Si Bajingan

Jika kali ini ada yang meminta saya mendefinisikan kata bajingan, sekarang saya sudah faham definisi yang tepat dari kata tersebut. Jika ada pula yang sekarang meminta saya menuliskan raja dari para bajingan ini, sudah pula saya temukan juaranya.

Si Bajingan ini seharusnya melihat langit di pukul tiga pagi ini. Siapapun yang melihat bulan sabit dan rasi orion yang berada tepat di atas kepalaku pasti akan jatuh cinta. Si Bajingan ini pasti akan sedikit melupakan kebenciannya.

Si Bajingan ini perlu diingatkan untuk sedikit bersantai dan jadi lebih ‘ramah’ kepada dirinya. Ia bilang ia selalu ingin bicara tentang cinta dan keindahan. Tapi, selayaknya keinginannya yang lain, inginnya yang ini cuma jadi sekedar ingin saja. Ia bilang ingin lebih memahami penyatuan gelap-terang, tapi toh ini cuma jadi sekedar ingin yang lain saja. Pada akhirnya ialah orang pertama yang pertama membakar dirinya sendiri dengan kebencian. Entah kebenciannya tentang manusia, tentang kehidupan, tentang agama — ia benar-benar lupa bicara tentang cinta.

Si Bajingan ini seharusnya kubawa keluar berdua saja, melihat pantai, ombak, pasir lalu mendengar debur dan suara burung-burung laut. Akan kutenggelamkan ia hingga seleher di dalam pasir. Harusnya kupaksa dia diam disana untuk melihat dan mendengar saja hingga satu persatu benci di dalam dadanya terlarut bersama ombak yang datang dan pergi — terlarut saja, tak perlu dihilangkan.

Si Bajingan ini harus diingatkan bahya ambisinya— sehalus dan semulia apapun ambisinya itu, termasuk keinginannya untuk menaklukkan dirinya sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Toh dari awal kita sama-sama sadar jalan yang kita ambil ini mungkin memang tak akan ada ujungnya. Bersenang-senanglah, kau juga punya hak untuk bahagia. Kau bilang ingin memperhatikan hal-hal kecil, tapi sekarang malah kau yang menenggelamkan dirimu sendiri dalam ambisimu yang besar itu.

Si Bajingan ini harus diingatkan bahwa orang sepertinya tidak boleh kelaparan– baik raga ataupun jiwanya. Aku sadar bahwa anatara pikir-tubuh-jiwanya sedang bergejolak dengan sangat, sedang tak bisa ia seimbangkan. Dalam kondisi ini ia sedang begitu laparnya. Dan dalam ketidakpastian ini ia mungkin lupa masih ada dua telingaku untuk mendengar. Bukankah mengerikan mati kehausan di tengah laut? Lalu apakah kebenaranmu harus sedemikian asin hingga ia tak mampu lagi menghilangkan dahaga?

Si Bajingan ini harusnya kuberi tahu, bahwa ada yang memperhatikan tiap perubahan yang ada di dirinya–entah sejak kapan dan karena apa. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 26, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: