aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kelabu

“Mungkin aku memang harus jatuh cinta dulu agar dapat memaafkan dunia. Tiap orang sebenarnya terdampar di pulau kehampaan. Tapi rupanya kehampaan tiap orang ini berbeda. Bagi sebagian orang kehampaan bisa berarti kesendirian dan ketiadaan dan ketiadaan orang lain yang mendampingi.  Tapi bagi yang lain kehampaan bisa berarti keramaian yang ia rasakan” Katamu mendadak sambil memandang tetes air hujan yang berjatuhan di dinding kaca bis ini. Aku cuma bisa memandangimu saja, telingaku mencoba menangkap patahan katamu, otakku mencoba memproses makna yang engkau sembunyikan. Ah, aku lupa engkau sering tiba-tiba menjadi sangat jenius.

Adalah kelabu yang kutangkap di dua bola matamu. Sekelabu awan gelap di langit Jakarta yang diterjang badai sore ini. Tapi rupanya engkau sadar bahwa kelabumu dapat kutangkap. Cepat-cepat kau lari. Rupanya engkau sadar bahwa dapat kutangkap kelabumu, kelabu yang engkau selalu tutupi itu. Cepat-cepat kau larikan matamu dari tatapku. Mata memang jendela jiwa, tapi rupanya tidak tiap orang kau ijinkan untuk mengintip ke dalam jiwamu.

“Macet ya..” engkau mencoba menolak mataku menangkap warnamu. “Tapi bagiku berada diantara keributan bunyi klakson yang tak berhenti-henti dan sumpah serapah orang-orang ini menyenangkan.” Katamu sambil tersenyum simpul. Ah, warna matamu berubah dari kelabu menjadi binar-binar hijau, seceria dedaunan pagi yang ditemani embun menari dibawah sinar mentari.

Tiba-tiba engkau berhenti bicara lalu menutup kedua matamu rapat-rapat. Kau biarkan bunyi klakson tanpa henti ini menjadi sebuah simfoni di telingamu. “Ah…. merdunya! Seakan-akan semua pekik di ujung tenggorokanku sudah terwakilkan. Tapi tahukah kamu suatu rahasia tentang pekik?” Tanyamu tiba-tiba sambil tetap menutup kedua matamu. Tanpa menunggu jawaban dariku engkau melanjutkan kalimatmu tadi, kini kelabu tak lagi kurasakan dari kedua matamu yang engkau tutup dengan rapat, kelabumu menjelma menjadi awan mendung yang berat yang bertahan di langit tanpa menjelma menjadi hujan—engkau menahannya untuk jatuh. “Pekik terdalam bukanlah teriakan” lanjutmu, “ Pekik terdalam bukan pula sumpah serapah banyak orang di sela-sela kemacetan  atau pikuk klakson mobil yang silih berganti ini. Diam. Ya, diam sebenarnya adalah pekik terdalam dari ujung kalbu, bahkan tenggorokan pun terlalu takut menggetarkan pita suara agar pekik itu bisa terdengar awam. Tak cuma itu, tiap huruf langsung lari, tak mampu mewujud ke dalam kata apalagi kalimat, sebab itu rasa guncangannya terlalu hebat hingga tak ada satupun kata, frasa atau kalimat yang mampu mendekatinya.” Dan tetiba engkau terdiam, memandang nanar ke seberang jendela bus ini. Diam yang terasa sebagai kediaman seribu tahun.

Ya, aku tahu benar rasa itu sayang, sebab sedari tadi mampu kutangkap diam dari ujung kalbumu—dari kelabu di matamu.

“Ah, apa benar aku harus jatuh cinta dulu agar aku bisa memaafkan duniaku?” bisikmu kembali lirih. Pedih! Tetiba kudapati pedih diujung rekatamu. Terasa seperti luka yang dibasuh air laut lalu dibiarkan sembuh hanya untuk dibasuh kembali oleh air laut. “Lalu aku harus apa?” bisikmu sambil menahan hujan lokal diujung matamu.

Ah, ingin rasanya kudekap engkau erat. Aku ingin menjadi payungmu saat hujan datang, meski aku tahu engkau sangat senang berjalan di tengah hujan, membiarkan tetes demi tetes air itu jatuh, katamu biar mereka membasuh kebencian di dasar hatimu. Aku ingin menjadi rumahmu saat engkau butuh tempat pulang. Rumah yang akan menerimamu dalam keadaan apapun—sehancur apapun jiwa dan ragamu. Lalu jika senja telah tiba, bisa pula kita duduk di beranda sambil minum kopi dan berbicara tentang perjalanan kita. Dan jika malam tiba, biar aku dongengkan cerita yang cuma kita berdua yang tau, kudekap engkau erat hingga engkau tertidur — memberikanmu satu-satunya hal yang pasti yang bisa kuberikan dan yang engkau butuhkan—kasih. Ingin kuubah kelabu di matamu, hingga bisa ia rasakan tiap warna yang bisa terdefiniskan. Ingin kuteriakkan di kupingmu bahwa engkau tak sesendiri itu dan masih sangat mungkin bagimu untuk jatuh cinta lalu memaafkan dirimu.

Tapi semua inginku patah. Senja telah berganti malam dan tak dapat lagi kutangkap kelabu dimatamu yang seedari tadi tercermin di kaca bus ini. Waktu bahkan telah membunuh inginku. Ah. Kelam! Semua terlalu kelam! Kini cuma gelap yang kutangkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 25, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: