aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Melihat dari yang Melihat, Mendengar dari yang Mendengar

Reality could be nothing more than an illusion, dear. Because we live trapped in our limited perception.

Jika kita mencari-cari penipu paling handal di seluruh dunia, sudah selayaknya kita mematut diri di depan cermin saja. Apa yang dilihat mata, didengar telinga, dibaui hidung, dikecap lidah dan dirasa oleh sentuhan– tak satupun sebenarnya nyata. Apa itu kebenaran? pada kenyataannya kita hanya mendengar apa yang kita ingin dengar, melihat apa yang ingin kita lihat, merasa apa yang ingin kita rasa — jika dan hanya jika belum kita pahami diri kita sebenarnya dan seutuhnya

Maka telah lama bagiku melihat dari mata sendiri, mendengar dari telinga sendiri, mencium dari hidung sendiri, mengecap dari lidah sendiri, merasa dari sentuhan sandiri tak lagi jadi menarik. Sebab diantara semua penipu di seluruh dunia, bagi diriku akulah yang paling berbahaya.

Sama halnya betapa aku tak peduli lagi berapa lapis topeng yang ‘manusia’ pakai atau perkara kebohongan dan kejujuran yang ia perlihatkan. Karena kebenaran tak muncul disana– ia rupanya tak dapat terlihat secara langsung. Maka melihat apa yang ada di kulit, bukanlah melihat inti dan menyaksikan esensi murni. Disini, kepura-puraan, topeng, kejujuran, kebohongan tak lagi berarti.

Tapi rupanya tak mudah bermain ‘rasa’ dalam setiap yang terpampang di hamparan semesta–entah ia bernyawa atau tidak. Ya, pertama-tama ada yang harus dibunuh dulu di dalam diri. Biar pada akhirnya aku menelusup ke dalam dirimu, berdetak lewat jantungmu, darahmu mengaliri nadiku, aku melihat lewat matamu, mendengar lewat telingamu, mengecap lewat lidahmu, membaui lewat hidungmu, merasa dengan sentuhanmu. Hingga akhirnya bisa kurasakan halus pasir di pantai yang kujejaki ternyata tak sehalus saat kujejaki pantai itu dengan kakimu, atau kenyataan bahwa apa yang kurindu sejak lama ternyata tak kunjung kau syukuri juga. Ketika dukamu pun menjadi dukaku, sekalipun tak kunjung kau pahami dukaku.

Seperti malam kemarin, malam yang terlalu larut untuk kehadiran bocah yang kutaksir umurnya baru sekitar 5-6 tahun. Di malam-malam yang lain seharusnya dia sudah berada di pulau kapuk, berselimutkan selimut hangat dan bermandikan kasih sayang ibunda yang mendendangkan lagu tidur untuknya. Bandung malam itu sangat dingin, setidaknya bagiku yang berhari-hari kemarin terbiasa dengan suhu pantai. Berkali-kali bocah itu merapatkan resleting jaketnya.

Kawanku heran-heran sendiri melihat tingkahku. Saat itu memang sedang ada pertunjukan wayang golek di sebuah kampung dekat kontrakanku. Tapi bagiku, tontonan yang paling menarik bukanlah wayang golek berbahasa sunda yang cuma setengah kutangkap maknanya itu, melainkan bocah yang sedang menonton wayang itu.

Dia berbeda dari bocah-bocah kebanyakan. Bocah-bocah sekitarnya rata-rata lebih tua daripada dia. Kakinya pun tak sampai ke pijakan kursi saat dia duduk. Tapi ketenangannya bukanlah sekedar ketenangan bocah ingusan berumur 5 tahun. Bagaimana tidak, disaat bocah-bocah yang lain rusuh membuat keributan dimana-mana, bocah ini dengan sengaja duduk di bagian depan penonton, menyilangkan kakinya diatas kursi yang ketinggian baginya, mendengarkan musik karinding yang ternyata liriknya sangat filosofis sambil sesekali menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri. Dia sepeti berada di pusat zen, pusat ketenangan sekalipun sekelilingnya bumi gonjang-ganjing.

Menonton wayang dari memperhatikannya kembali memberiku ‘rasa’ yang lain, membawaku masuk ke dalam kesadaran murni seorang bocah. Bahwa yang indah akan tetap indah sekalipun keindahan itu belum bisa aku pahami, sekalipun keindahan itu berada di tengan tumpukan sampah dan kotoran. Bahwa yang sunyi dan tenang akan tetap sampai ke telingaku, sekalipun di sekelilingku ada bising dan ribut yang palsu– yang termakan oleh alur monster-monster di dunia. Bahwa keindahan, kebenaran dan  kejujuran akan selalu bening– dan segala yang tampak sebenarnya adalah indah, benar dan jujur– akan selalu begitu. Jika keindahan, kebenaran dan kejujuran dalam setiap hal belum bisa kulihat, itu cuma berarti aku yang masih memendam ego hingga tak bisa masuk ke dalam kesadaran yang lebih dalam.

Bukankah itu yang engkau maksud dengan amor fati hey Nietzsche?

 

One comment on “Melihat dari yang Melihat, Mendengar dari yang Mendengar

  1. makhluklemah
    May 26, 2016

    Mba, untuk memahami zen, biasanya mba membaca referensi apa? mungkin buku atau website?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 30, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: