aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Menjadi Biasa

Aku tidak ingin punya rumah yang besar di kawasan elit, barisan mobil-mobil sport mahal di garasiku ataupun uang berlimpah tak terbatas di saldo tabunganku. Aku tak ingin kaya. Aku cuma ingin menikmati tiap inci jalanan yang kujejaki, tiap desir angin yang kurasakan, tiap bising yang kudengar. Aku cuma ingin mengalami sebanyak-banyaknya, merasakan semua rasa yang kurasakan, hidup sehidup-hidupnya.

Tak bernafsu pula aku yang ini membicarakan hal-hal besar, tentang politik, pemerintahan, negara, idealisme dan mimpi-mimpi di masa depan. Bukan! Bukan karena aku telah patah arang. Butuh lebih dari kegagalan biasa untuk membuat orang sepertiku patah arang. Aku cuma merasa bahwa hal-hal besar sempat membuatku buta. Bicara tentang negara, politik, idealisme dan tatanan dunia masa depan memang selalu menyenangkan. Seperti diskursus kita waktu itu tentang harga minyak, mafia-mafia korporasi dan bagaimana negara ini harusnya dikelola. Ya, saat-saat kita mengupas dan menganalisis satu persatu masalah yang ada, berdialektika dan menemukan solusi memang menyenangkan. Onani otak selalu menyenangkan.

Tapi ketika mata melihat terlalu jauh ke depan, kita akan sering lupa tanah yang kita pijak. Tak sekali pula kita lupa mematut diri di depan cermin. Pikiran kita terlalu mengawang-awang, cita-cita kita terlalu tinggi di angkasa, kita tempatkan horison penglihatan kita setinggi itu cita-cita—sampai kita lupa bahwa kaki kita masih menginjak tanah yang ini, di bumi yang ini, di detik yang sekarang.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat tak paham dengan pengelolaan sebuah negara. Dalam pola pikir pragmatisku, sebuah negara hanyalah sebatas sebuah organisasi yang mengelola pemenuhun kebutuhan dasar masyarakatnya, yaitu sandang, pangan, papan. Pengelolaan ini dibutuhkan hanyalah dalam kerangka efektifitas dan efisiensi karena hal ini merupakan kebutuhan semua orang. Hanya itu saja. Hal-hal lain seperti perkara kebanggaan dan nasionalisme bagiku hanyalah rekayasa terhadap manusia dalam pengelolaan organisasi itu saja.

Bukankah kebutuhan terhadap sandang-pangan-papan itu adalah hal sederhana? Kenapa di umur 68 tahun negara ini merdeka kebutuhan sesederhan itu tak bisa dipenuhi? Kenapa pemerintah tidak mengelola sesederhana di dalam sebuah kampung ada sekian hektar sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan pangan, kampung yang lain untuk memenuhi kebutuhan sandang dan kampung yang lain untuk memenuhi kebutuhan papan, lalu satu kampung dengan kampung yang lain saling ‘menolong’ satu sama lain. Sederhana kan?

Tapi rasanya aku tahu kenapa hal yang sederhana itu tak sesederhana yang seharusnya. Sebab manusia memang punya kecenderungan melihat keluar tanpa bercermin ke dalam terlebih dahulu, memandang ke depan tapi tanpa mengilhami yang kini, bercita-cita hal besar tapi melupakan hal kecil. Persis seperti aku yang dulu, yang berpikir bahwa kebijakan, dunia politik dan penguasaan kapital adalah solusi utama penataan negara ini. Hahahaha.. aku yang dulu naif sekali.

Maka aku yang sekarang tak lagi ingin jadi pemangku kebijakan, masuk ke dunia politik ataupun menata BUMN-BUMN di Indonesia. Nanti dulu. Aku cuma ingin menjejakkan kaki dalam-dalam di tiap jengkal tanah yang aku jejaki, merasakan tekstur tanah dan bebatuan yang kulalui. Aku cuma ingin mengalami sebanyak-banyaknya, merasakan sebanyak-banyaknya rasa sampai kata-kata diseluruh dunia ini tak dapat membahasakannya, melakukan sesuatu karena aku senang, melepaskan mesin kapalku dan menggantinya dengan layar.  Aku tak ingin menjadi besar, menjadi kaya, menyandang nama besar, masuk ke dalam sejarah, menginspirasi, mengubah sesuatu. Aku cuma ingin merasakan, menyatu, tanpa menjadi sesuatu. Seperti Bisma Dewabarata, Karna, Semar atau Sang Hyang Kamhayanikan yang menjalani jalan sunyi.

Hingga tiba saatnya “ingin” menjadi tiada, menyatu, melebur dalam ketiadaan.

Bukan kematian yang menggetarkan hatiku, melainkan hidup yang tidak hidup.

 

Travel Soetta-Bandung, 27/10/13, 11:00

4 comments on “Menjadi Biasa

  1. Siska clarissa
    October 29, 2013

    Haloo asep.. Msh inget gw? Pasti lupa hehe.. Tulisanny bgs jg sep (y) ihiy.. Ngena ke hati, apalagi kalimat2 yg trakhirny “hidup yg tidak hidup” Gw jg ada blog tp isiny puisi kegalauan hati gt haha..
    Msh suka ngopi2? Kpn2 ketemu ya ngopi bareng :))

    • Septia Agustin
      October 30, 2013

      kyaaaa ini siska yg waktu itu ketemu di trotoart bukan? yang temennya nure? jadi malu tulisan curcol gw dibaca. hahaha. yuk ngopi2 lagi, gw pengen nyoba red long coffee di ciliwung nih😀

  2. makhluklemah
    October 30, 2013

    Wew, mengena sekali terhadap saya yang sok mengkritisi kebijakan pemerintah.

    • Septia Agustin
      October 30, 2013

      kalo senang mengkritisi gak apa-apa kok, cuman bagi saya fase itu udah kenyang saya makan. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 29, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: