aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Judul yang Salah

Sebenarnya kali ini engkau sedang menjadi yang mana? batinku melihat arus lini masa yang bergulir. Ada yang hidup begitu tergesa dan mengejar entah apa. Ada yang memoles tampilan disana-sini hingga terlihat baik, tidak aku tak bicara tentang tampilan fisik. aku bicara tentang kata-kata kosong melompong yang tak bermakna yang lalu lalang di lini masaku. Sekedar ingin tak berarti apa-apa sebenarnya. Sama kosongnya dengan caramu memunculkan dirimu yang “baik” tapi lupa belajar menjadi “baik”, apalagi menjadi “baik”. Ada yang kering kerontang di dalam dirimu.

Socrates telah mengajarkan dengan keras tentang The Art of Principal. Coba saja bayangkan, berapa banyak orang yang rela mati minum racun–padahal ia sendiri sebenarnya bisa selamat–hanya untuk mempertahankan nilai penting kebenaran dan kejujuran. Ah, munafik sekali rasanya aku yang masih berada diawal angka dua ini berbicara tentang nilai dan kebenaran. Kurasa Gie benar, kita memang terlalu muda berbicara tentang nilai-nilai. Tapi tetap saja, jika jujur pada diri sendiri saja engkau tak sanggup, wajar lini masamu engkau penuhi dengan dempul make up.

Tapi meski muda bukan berarti aku tak mencarinya. Ada kalanya aku rasakan diriku sendiri kehilangan arah. Aku yang kering kerontang, seperti sawah-sawah kering dengan tanah lapuk yang terpecah yang kulewati di perjalanan ini. Rasanya hampa, gelisah, hidup tak lagi menarik untuk dijalani.

Ternyata aku cuma haus saja. Rupanya sampai juga aku dengan konklusi yang sama dengan Plato dulu. Engkau pasti pernah sampai kesuatu tempat dengan jalan yang berbeda kan? Nah, kupikir begitu pula soal mengalami hidup dan memaknainya, tak perlu kita ributkan lewat jalan yang mana, selama kita mencapai “rasa” yang sama kupikir itu tidak masalah.  Ya, ternyata diri ini tidak sekedar aku saja. Para sufi biasa membahasakannya dengan aku yang meng-Aku, dimana si Aku dan yang meng-Aku adalah satu kesatuan yang mutlak. Yang meng-Aku bisa ditemukan seluruhnya di dalam Aku, tetapi seluruh Aku berdiri sendiri, tunggal, tauhid. Atau para spiritualis jawa menyebutnya dengan sedulur papat yang lahir bersamaan dengan lahirnya manusia di dunia. Sedulur papat ini bergantian untuk menjadi aku di dalam si Aku, makanya manusia harus hidup eling lan waspada. Atau bagi Plato, pemaknaan yang sederhana tanpa kehilangan makna menurutku– Bahwa di dalam diri ada Jiwa dan ada Raga. Bagi Plato, Jiwa adalah ‘manusia’ itu sesungguhnya, suatu bentukan manusia yang ideal, sang adimanusia.

Bagiku sendiri, kekeringan yang kurasakan membawaku menjadi sedikit(?) gila dan memberontak. Aku merasa seperti zombie, berjalan di muka bumi tapi tanpa rasa apa-apa.  Apa? Agama akan memberikan alasan untuk berjalan katamu? Ah, dulu sekali sudah kubakar kitab-kitab itu. Maka, kalaupun aku bersujud, aku bersujud bukan karena pahala-dosa, surga-neraka. Sujudku adalah pengejawantahan terhadap rasa tertinggiku, dan terlalu sempit rasanya jika hanya kulakukan lima kali dalam sehari. Dia adalah sesuatu yang sakral, yang romantis, yang dekat, yang tersembunyi. Bukankah semakin”rahasia’ dan intim dengan pacarmu tanpa diketahui orang lain akan semakin menyenangkan?

Kurasa Socrates benar. Jiwa dan Raga adalah dua hal yang harus kuhidupi. Raga telah menyertaiku sejak pertama kali jantungku berdetak di bumi ini. Tapi dimana letak jiwa? Jauhkah ia diatas langit sana? Ia yang digambarkan bersayap dan mengawasi tiap anak manusia dan menghukum yang ‘nakal’ baginya? Ah, rasanya tak mungkin jiwa terletak jauh dari raga. Jiwa ternyata adalah sesuatu yang langgeng. Jiwa dan raga sudah bersama sejak kelahiran itu. Tapi sepertinya kelahiran raga tak selalu diwaktu yang sama dengan jiwa. Jiwa ada disana sejak dulu, tapi ia belum lahir, belum hidup. belum menyatu dengan raga.

Bagiku sendiri, mati adalah cara terbaik untuk menghidupkan jiwa di dalam raga. Kujadikan mati menjadi sahabat karib yang berjalan berdampingan denganku. Sering kali mati kuposisikan di depan kedua mataku. Biar aku dan dia jadi dekat, lekat dan tak perlu kurentangkan tangan jauh-jauh untuk mendekap dia.

Adalah mengingat mati yang membuatku menikmati hidup. Menyadari bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah suatu hal yang sederhana, persis seperti deretan awan perak di atas langitku dan setetes demi setetes air hujan yang menggedor-gedor jendela keretaku. Aku jadi menikmati setiap partikel kecil dalam hidup. Kurasakan pula bahwa sepertinya angin, air sinar matahari itu bernyawa. Ah, indahnya hidup terasa kentara.

Adalah mengingat mati juga yang membuatku semakin banyak mengalami dan merasakan. Membuatku merasuk ke dalam kesadaran batu-batu, pohon-pohon, kursi-kursi, orang-orang–mulai menyatu dengan sekitarku. Ternyata perihal mengalami dan merasakan tidak berkaitan dengan umur atau berapa persen muka bumi yang sudah kita tempuh. Karena ternyata semesta sudah ada di dalam diri sebuah kerikil yang terlempar dari bantalan kereta api.

Tapi dikala telah mulai kurasakan Jiwa, ternyata malah raga yang selanjutnya kuhidupkan. Ibarat lautan, telah kutemukan arus yang akan membawaku ke tanah yang dijanjikan, maka dititik ini kubutuhkan kapal yang cukup kuat untuk membawaku kesana. Setelah kuhidupkan jiwa, kuperbaiki raga, kubiarkan mereka menyatu dengan sendirinya, dan berlayarlah aku ke rumah, kembali pulang ke tanah yang dijanjikan. Kuharap kali itu aku tersenyum saat mati menjemputku.

menantang rasi bintang,
membalik garis tangan,
menarikan cerita,
menuliskan lagi puisi yang mulai kehilangan rimanya.
memotong awan pekat gelap,
melintang tepat di jantungnya,
terburailah darah cahaya yang lama terhalang gelapnya,
silau berkilauan terangnya. benderang.
tenang sebentar mengendapkan,
uraikan simpul kacaunya.
diam sebentar membedakan, yang teringinkan yang dibutuhkan.

hidup itu sekali, dan mati itu pasti, bisa jadi nanti, atau setelah ini.

coba tulis ulang lagi, yang sejatinya kau cari.
maka sudahilah sedihmu yang belum sudah. segera mulailah syukurmu yang pasti indah. dan berbahagialah, bahagialah. sudahilah sedihmu yang selalu saja, menantangmu..
–Menanatang Rasi Bintang

2 comments on “Judul yang Salah

  1. lanang
    November 11, 2013

    Pembahasan yg menarik, saya cobavtambahkan mudah-mudaham ada manfaat. Didalam jiwa ada sukma,didalam sukma ada papat sedulur, didalamnya lagi ada nur Muhamad, didalmnya lagi ada nurullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 22, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: