aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kopi yang Telanjang

Foto0052

“Mbak, kamu seneng ngopi toh, kenapa?” kemarin Ayu, sahabat baruku, menanyakan hal itu dengan logat jawanya yang khas. Lalu aku jawab, “Iya Yu, aku seneng banget ngopi, udah kecanduan. Soalnya kalau tanahnya beda, wangi dan rasa kopinya juga beda. Makanya aku kalau minum kopi nggak pernah pakai gula atau krimer”.

Entah setan apa yang merasukiku pagi ini. Mungkin karena panasnya Kota Yogya yang keterlaluan atau beberapa kejadian menarik yang kualami pagi ini, membuatku menikmati kopi dengan cara yang berbeda dari biasanya. Kuhentikan langkah kakiku di tengah jalan Malioboro setelah terjebak dalam antrian yang cukup panjang di stasiun–demi mengejar diskon 28% *maklum mahasiswa*. Kulangkahkan kakiku disebuah restoran cepat saji yang menyediakan cafe. Kupesan kopi hitam dan puding cokelat super dingin, keduanya makanan favoritku. Kopi hitamku disajikan dengan sebungkus krimer dan dua bungkus gula pasir. Biasanya krimer dan gula tidak akan kusentuh karena aku ingin kopiku jujur apa adanya.
Seperti biasa, dengan sabar kuhirup wangi kopi yang masih hangat ini. Kubiarkan wangi khasnya merasuk ke dalam jiwaku–khas kopi robusta jawa rupanya. Kusesap pula rasa pahit dan lengket kopi hangat yang sedikit membakar lidahku. Ah, mereka benar, bahagia memang sederhana.

Lalu entah setan mana yang tiba-tiba merasukku. Perlahan kusobek bungkus krimer dan kutuangkan separuh isinya. Ah, kopiku mulai berubah warna! Ia tak murni hitam lagi! Otakku mulai memberontak, memprotes apa yang tanganku lakukan. Tapi si setan ini rupanya membimbing tanganku untuk mengaduk kopi itu dan membawanya ke bibirku, kusesap kopi yang tak lagi murni hitam itu. Lidahku terkejut, rupanya dia mengecap pahit yang sama. Kuhirup pula wanginya, hidungkupun menerimanya dengan lapang, sebab ia masih merasakan wangi yang sama. Lalu kutuangkan lagi setengah bungkus krimer yang tersisa. Mataku semankin menangkap ketidakjujuran kopiku sekarang. Tapi tanganku tetap bersabar membawanya ke mulutku, kusesap lalu kuhirup wanginya. Ah, ternyata kopi ini masih telanjang di lidahku, di rasaku, meskipun tidk di mataku.

Setan di dalam diriku rupanya semakin nakal. Ia membimbingku menyobek sebungkus gula, lalu membuatku menuangnya sedikit demi sedikit, mengaduknya dan memaksa bibirku membuka agar lidahku bisa merasakan kopi yang semakin tidak murni itu. Ah, kopi ini terasa sedikit manis, tapi belum begitu manis, rasa pahitnya yang khas masih kentara juga kurasakan. Kali ini bukan setan itu lagi yang membimbingku, sepertinya aku dan dia sudah menyatu. Tanpa ragu, kuambil bungkus gula yang kedua, kutuangkan dengan cepat dan kuaduk dengan terburu-buru. Rupanya aku berharap kopi ini berubah rasa sekalian. Biar ia jadi manis saja! Biar tak kurasakan lagi pahitnya yang khas!

Tapi kenyataan tentang rasa memang harus kuterima. Kuminum kopi ini perlahan, seteguk demi seteguk. Pada tegukan pertama kurasakan manis mulai menjalar di sekujur lidahku. Aku mulai girang, ternyata apa yang kuinginkan menjadi kenyataan, ternyata asumsi otakku benar adanya. Tapi seketika, sekilas setelah rasa manis itu terasa, kentara pula terasa pahitnya yang khas. Ah, kenapa ketelanjangan kopi  ini masih kurasakan? Padahal seharusnya ia tak lagi sama di mata dan di lidah! kuteguk lagi secangkir kopi itu, hingga berteguk-teguk selanjutnya, dibalik rasa manis yang membahagiakan otak dan asumsiku itu, semakin kuat pula lidahku merasakan pahitnya yang khas. Ah, kopi ini justru jadi makin telanjang. Akupun semakin ketagihan.

Aku menghela nafas panjang, mulai menerima yang lidahku rasakan. Rupanya karena aku telah mengenal ketelanjangan kopi ini dari awal, kopi ini bagiku akan tetap telanjang sekalipun ia ditambahi berbungkus-bungkus krimer dan gula. Walaupun di mata ia tak lagi hitam pekat–telanjang, di lidah–di rasaku dia tetap telanjang, ia yang asli tetap kukenal dan kuterima dengan lekat dan dekat. Maka, jika kopi itu ingin memakai ‘pakaian’ yang berbeda, bagiku tak mengapa. Sebab telah kupilih dan kucintai dia dari ketelanjangannya. Walaupun ia berubah nantinya, penliaianku terhadapnya akan tetap sama. Sebab rasaku yang menilai, bukan mataku. Dan penilaian rasa rupanya bisa membongkar selapis demi selapis palsu yang ada. Terlihat seberapa berubahpun dia nantinya, tetap dia yang kupilih dan kucintai– secangkir kopi hitam murni yang akan tetap telanjang di lidahku, sekalipun kedalamnya ditambahkan seluruh gula dan krimer yang ada di dunia.

Sebab bagiku dia adalah dia.

Seperti kopi flores yang selalu sukses meninggalkan rasa pahit dan karamel dilidahku selama berjam-jam setelah aku meneguknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 21, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: