aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Monolog — di antara Rilke dan Saraga

rilke

Pagi ini cukup ajaib, saya akhirnya bisa bangun pagi tanpa bantuan alarm sama sekali. Ditambah lagi, entah kenapa begitu saya membuka mata saya sangat ingin membaca puisi-puisi Rainer Maria Rilke. Rilke pertama kali saya kenal lewat buku Tuhan dan Hal-Hal yang Belum Selesai– Goenawan Mohammad. Sejak saat itu, saya jatuh cinta pada diri Rilke.

Mungkin hal yang membuat saya senang pada Rilke adalah hal yang sama juga yang membuat Lou Salome menolak Nietzsche dan lebih memilih Rilke. Entah, terlepas dari apa yang dicari Nietzsche dan Rilke adalah hal yang mirip (sangat mungkin sama), tapi ada suasana lain yang saya dapatkan tiap kali saya membaca tulisan-tulisan Rilke. Nuansa yang tidak saya dapatkan saat membaca tulisan-tulisan Nietzsche–meskipun kedua-duanya sama-sama bicara cinta.

Tapi, ditengah trek lari saraga baru saya bisa sadari dengan lebih utuh diri Rilke. Lari memang mengajarkan saya sesuatu. Lari membantu saya mengembalikan diri saya yang dulu yang komitmen, konsistensi dan determinasinya tidak akan dipertanyakan. Tapi diri itu memang telah saya bunuh. Ada masanya dimana saya butuh ‘dasar’ dari apa-apa yang saya lakukan– saat-saat dimana saya mulai menjalankan pikiran-pikiran saya dan mencari diri saya. Selayaknya sejarah, ternyata proses pengenalan kembali ini membutuhkan proses dekonstruksi dan rekonstruksi.

Telah saya telusuri tiap-tiap sudut ruang, tiap-tiap kutub. Telah saya bunuh pula diri saya dan mencoba menemukan sebab-akibat, melihat yang tak terlihat, tak terbahasakan, membaca pertanda dari tiap interaksi semesta. Ya, akhirnya saya memang menemukan pola-pola tentang kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan paling dasar saya tentang hidup saya sudah nyaris semua terjawab. Saya mulai menemukan diri saya dan apa-apa yang saya inginkan.

Tapi, ada titik dimana saya butuh tahu saja. Lalu tahu tak lagi cukup, dan saya butuh memahami. Lalu memahami tak lagi cukup, saya butuh mengenal. Lalu mengenal tak lagi cukup, saya butuh menyadari. Dan di titik ini, menyadari tak lagi cukup, ada sesuatu yang harus saya lakukan di depan. Persis seperti seseorang yang melihat sampah di tengah jalan. Ada yang cukup tahu saja bahwa ada sampah di jalanan. Ada pula yang merasa kesal lalu marah-marah sendiri. Ada pula yang berkata bahwa ‘seharusnya lalalala’. Ada pula yang langsung mengambil sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata apa-apa. Begitu pulalah manusia memandang hidup secara keseluruhan.

Bagi saya pribadi, aspek ‘materi’ telah saya matikan– itu tak lagi jadi yang paling berarti dalam hidup saya. Suatu saat, kawan saya pernah bercanda dan berkata seperti ini “Sep, lo itu kayanya orang yang bisa hidup walaupun cuma dikasih makan cinta”– rasanya dia benar juga. Ada hal yang menarik yang saya sadari saat saya lari tadi– betapa saya sangat tidak tertarik pada kompetisi, betapa saya tak lagi berorientasi hasil, betapa ambisi saya sudah ditekan habis.

Tapi disini saya sadar pula, untuk menemukan aku, saya memang harus membunuh ke-aku-an dan membentuk kembali si aku itu setelah ke-aku-an dibunuh. Banyak hal-hal didunia ini yang secara metode adalah sama, tetapi secara makna dan niat itu berbeda. Seperti saya yang belakangan belajar untuk “diam”. Di luar memang terlihat “diam” saja. Bagi orang lain bisa saja dia mengartikan diam ini adalah bentuk kepengecutan, ketidakberanian mengeluarkan pendapat. Tapi tidak bagi saya, ada alasan lain saya belajar “diam”, dan itu tak perlu pula dipahami utuh oleh orang lain.

mereka yang tak berumah, tak akan membangun lagi.
mereka yang sendiri, akan lama menyendiri,
akan jaga, membaca, menulis surat yang panjang
dan akan melangkah hilir mudik di jalanan
gelisah, bila dedaunan beterbangan.

— Rainer Maria Rilke

Maka adalah hal yang sama pula dengan menjadi pemenang atau melakukan sesuatu. Jika dulu saya berkompetisi, komitmen dan determinasi saya adalah pengejawantahan dari hasrat saya untuk “menjadi”, untuk “diakui”, untuk “hidup”, maka kini semua itu akan saya lakukan untuk suatu hal yang lain–untuk suatu hal yang telah saya temukan saat saya membunuh si aku.

Mungkin ini pula yang membuat hidup saya belakangan hampa. Jawaban dari pencarian telah mulai saya temukan akarnya, tapi diri saya yang sekarang masih belum siap untuk total jadi pelaku, dia masih terperangkap diantara dunia idea dan nyata. Maka, konsistensi, komitmen dan determinasi saya harus dikembalikan seperti waktu dulu– makanya saya berlari.

Dan pengetahuan memang sebuah kutukan. Semakin banyak yang saya ketahui, semakin besar pula konsekuensi dari ilmu yang harus saya lakukan. Kali ini konsekuensi ilmu itu bukan saya lakukan karena doktrin prematur dari kaderisasi di kandang gajah. Tapi karena kali ini telah saya temukan mana akar, batang, pohon, ranting, daun, buah— telah saya sadari sebab pertama dari perlakuan. Dan di titik ini— sadar saja sudah tidak cukup, berencana saja sudah tidak cukup.

Maka saya pahami betul akhirnya maksud Rilke — Kesadaran adalah sebuah siklus. Seperti kesepian yang menemukan tempatnya dalam kegelisahan, lalu kegelisahan yang menggeliat minta agar ia terjelaskan.

Sudah saatnya saya melanjutkan perjalanan.

Tidak ada orang yang bisa menasehati dan menolongmu, tak seorang pun. Hanya satu-satunya cara yang ada: Pergilah masuk ke dalam dirimu. Temukan sebab atau alasan yang mendorongmu menulis: Perhatikan apakah alasan itu menumbuhkan akar yang di dalam ceruk-ceruk hatimu. Bikinlah pengakuan pada dirimu sendiri, apa kau harus mati jika sekiranya kau dilarang menulis. Pertama-tama tanyakan dirimu dalam ketenangan malam: haruskah aku menulis? Menukiklah ke dalam lubuk dirimu agar kau mendapat jawaban yang dalam. Dan jika jawabannya ya, jika pertanyaan yang khidmat tadi dijawab dengan sederhana dan mantap ?aku harus?, maka binalah dirimu sesuai dengan keharusan itu. Hidupmu, baik pada saat-saat yang paling remeh dan sepele sekalipun, haruslah merupakan bukti dan kesaksian dari dorongan menulis itu.

Kemudian cobalah dekati alam. Lantas usahakan seakan-akan kau adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang mengatakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami, yang kau cintai dan kehilangan-kehilanganmu. Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.

(…)

Namun setelah masuk ke dalam diri dan ke dalam kesendirianmu, mungkin kau harus melepaskan keinginanmu untuk menjadi penyair; (bagi saya, seseorang bisa hidup tanpa harus menulis daripada samasekali berspekulasi untuk itu). Meskipun demikian, upaya memusatkan perhatian ke dalam diri sendiri yang kuanjurkan itu, tidaklah sia-sia. Bagaimanapun juga hidupmu sejak itu akan menemukan jalannya sendiri. dan kuharapkan hidupmu menjadi baik dan kaya serta tinggi pencapaiannya lebih dari apa yang bisa aku ucapkan.

Apa lagi yang harus kukatakan? Rasanya segala telah mendapat tekanan yang wajar. Akhirnya aku ingin menasehati agar mau menumbuhkan dirimu secara serius. Tidak ada cara yang lebih ganas menghalangi pertumbuhanmu kecuali dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang agaknya hanya perasaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya?.

—  kutipan dari Surat untuk Penyair Muda oleh Rainer Maria Rilke

kini tiba masanya titian akan dijadikan titian, pancuran akan dijadikan pancuran. Sekalipun bukan titian yang sempurna ataupun pencuran yang indah.

3 comments on “Monolog — di antara Rilke dan Saraga

  1. makhluklemah
    October 11, 2013

    Reblogged this on Kekuatan merubah dunia bisa dimulai dari ujung pena and commented:

    Ini yang mungkin aku cari..!

  2. makhluklemah
    October 11, 2013

    Ijinkan saya reblog tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 10, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: